PART 1

44 3 0
                                        

New York City

New york, kota yang menjadi titik utama sebuah Negara yang dikenal sebagai Negara Paman Syam. Amerika serikat. Konspirasi alam dan waktu yang bertepatan di Kota New York telah menuju hangatnya langit jingga yang berfanakan merah senja. Tatkala seorang gadis dengan surai hitam berparaskan ayu tengah menyusuri lorong sebuah tempat yang ia gunakan untuk menimba ilmu.

Setiap senyuman ia rekahkan dikala orang menyapanya. Tangan yang digunakan untuk menopang tumpukan buku tak menjadi penghalangnya untuk terus memancarkan keceriaan dan keramahan. Tak kenal waktu ia membuka dan membaca buku. Setiap lembarannya memberikan kesan inspiratif bagi gadis tersebut.

Gadis tersebut memberhetikan langkahnya saat tiba di sebuah ruang yang memaparkan rak - rak besar berpenghuni kumpulan lembaran yang berhiaskan tinta hitam dan sudah dibukukan. Sang gadis ayu tertuju pada suatu rak yang bertuliskan "Interesting Adveture". Ruang pikir si gadis berkelana di berbagai judul buku. Satu pun tak ada yang menarik menurutnya. Si gadis memtuskan untuk berpindah ke rak yang lain.

Saat dirasa ada satu buku yang cukup menarik perhatiannya dan ingin membaca seluk beluk buku tersebut, indra penglihatnya tak sengaja melihat seorang pria yang tengah membaca buku di satu ruangan yang sama dengan si gadis. Si gadis mengernyitkan dahinya dan ia langkahkan kakinya menuju posisi sang pria.

"Excusme?" sapa si gadis
"Yes?" jawab si pria sambil mendongakkan kepalanya
Dan setelah si pria mendongakkan kepalanya, keduanya sangat kaget dan mereka membelalakkan matanya.

"Fero?! Andine?!" ucap si pria dan si gadis bersamaan
Keduanya pun saling bertukar senyuman dan saling menatap dengan keheranan.
"Kamu kok bisa ada di sini sih Fer?" tanya si gadis kepada pemuda dengan nama Fero
"Seharusnya aku yang tanya ke kamu, kamu kok bisa ada di sini?" timpal balik Fero
"Ya..terserah aku dong. Kan tempat ini bukan milik nenek moyang kamu," jawab si gadis dengan nama Andine

Keduanya saling terkekeh kecil atas jawaban Andine. Pertemuan yang tak di recanakan membuat keduanya saling menimpali lelucon yang akhirnya mereka terkekeh kecil. Yang benar saja di perpustakaan mereka tertawa terbahak - bahak. Bisa langsung ditendang keluar Andine dan Fero.

Fero adalah kawan kecil si gadis dengan nama Andine itu. Dulu mereka sangatlah akrab. Namun karena Andine mendapat beasiswa kuliah di New York, mereka sudah jarang komunikasi dan barulah bertemu kembali waktu di salah satu perpustakaan New York. Awalnya Andine terheran kenapa Fero ada di New York. Padahal Fero dulu pernah berujar bahwa dia akan kuliah di London. Dan Fero menjelaskan alasan dia berada di New York.

"Jadi kamu korban pertukaran pelajar?" tanya Andine
Fero berdecih. "Yaelah..kenapa pake' kata korban sih," gerutu Fero

Andine terkekeh dengan ekspresi Fero yang memperlihatkan dia bermuka dua. "Ya kan kamu memang penginnya kuliah di London. Dan sekarang? malah di New York."
"Aku itu bukan jadi korban, tapi karna aku mahasiswa yang pandai nan tampan. Jadi, aku disuruh untuk mengharumkan universitasku di sini," elak Fero
"Halah..bilang saja deh, kalau kamu nggak suka. Orang dulu kamu mimpi kuliah di London aja sampe' langit ke tujuh kok!"

Fero memutar bola matanya geram. Jujur dia memang tak suka dengan pertukaran pelajar. Tapi, apa boleh buat? "Eh, mending kita temu kangennya di taman aja deh. Nggak enak ngobrol di sini."
"Okelah."

Fero dan Andine menuju Washington Square Park, meskipun itu dipaksa oleh Fero. Jujur, Andine sama sekali tak tertarik dengan tempat yang ramai atau berisik. Tapi, apalah daya seorang Andine? Fero ya Fero. Sekali iya, ya, iya. Sekali tidak, ya, tidak.

SENJAKU, CANDUMUStories to obsess over. Discover now