Prologue: Orientation

20 6 12
                                        



Semilir angin membelai halus kulit pipi Rayhan. ponsel berlogokan salah satu buah-buahan miliknya masih memutarkan lagu yang mengalir masuk ketelinga lewat iPod nya. Lelaki itu masih memandang sekitar dari koridor lantai 3 sekolah. Suasana sekelilingnya sepi. berbeda jauh dengan apa yang dipandangnya. di sebrang lapangan, kerumunan siswa siswi SMA Wijaya yang menghabiskan waktu istirahat mereka di halaman sekolah terlihat jelas. Beberapa ada di kantin, membeli jajanan, atau sekedar menggoda mbok Jum, pemilik warung soto di kantin sekolah. Sebagian hanya mengobrol santai tanpa membeli apa-apa sambil sesekali menyomot milik yang lain.

Apa Rayhan tidak punya teman? Tentu punya.

Mereka lebih dulu pergi ke kantin. Ah,bukan. Hanya Ainur, Jo, alfa, dan Fahmi yang pergi. Agra dan Ali sedang dihukum karena ricuh di kelas. Bukannya mendengarkan penjelasan tentor, mereka malah main suit-sentil.

Rayhan memang bukan anak yang introvert atau antisosial. ia hanya malas bergumul dengan kericuhan untuk saat ini. Suasana hatinya sedang tidak bagus.

Tiba-tiba saja sebuah biji pinus melesat jatuh melewatinya. Entah atas motivasi apa, Rayhan berniat mengambil biji pinus tersebut. Dan saat tubuhnya membungkuk, tak sengaja earpodnya terjatuh sebelah.

Lalu samar-samar terdengar suara tangisan. Suara seseorang membentak. Suara tendangan. parahnya lagi, itu suara perempuan!

Segera rayhan mencari sumber suara itu.

Suaranya berasal dari tangga menuju atap. Tangga itu memang jarang digunakan karena letaknya yang ada di ujung koridor. Biasanya siswa siswi maupun guru dan staf lebih suka menggunakan tangga depan.

Rayhan menaiki tangga dengan cepat namun sedikit berjingkat untuk meminimalisir suara. Dan suara bentakan mengintimidasi tersebut semakin jelas.

Dasar sampah! Sadar diri dong woi!

Lo disini tuh Cuma karena belas kasihan ayah gue!

Lo harusnya berterimakasih ke gue, eh bukan... tapi ke satu sekolah!

Lo ga ada malu ya? hah?

Rayhan sampai di ujung dan memergoki seorang gadis yang di dorong kasar. Parahnya, ia mengenal mereka semua. Spontan, rayhan menangkap tubuh ringkih gadis itu. Namanya andini, teman sekelasnya di kelas 10.

"maksud lu pada apa? Udah sok sekarang?" ujar Rayhan dingin. Matanya menatap sinis kearah 3 gadis di depannya

Yang ditatap tentu terkejut dan siap beranjak dari tempat itu. Siapa pula yang suka ditatap tajam oleh salah satu laki-laki yang paling di takuti di angkatannya.

"cabut," sarkas Rayhan, "sebelum gua berubah pikiran"

Seolah terhipnotis, takut-takut mereka menurutinya.

"catrine," panggil Rayhan, yang di panggil urung kabur.

"y-ya?"

"sekali lagi gua liat lu sok sokan disini, gua buat lu sadar kalau lu itu bukan apa-apa. Ngerti?"

Catrine menelan ludah, "ng-ngerti"

Setelah Catrine CS pergi, Rayhan membantu Andini berdiri. Rambutnya acak-acakan. Dasinya hampir sobek. Leher dan pipinya memerah. Kancing bajunya bahkan ada yang terlepas. Rayhan memalingkan muka lalu mencari penjepit kertas di sakunya.

"benerin dulu seragam lo" ucapnya sambil mengulurkan penjepit itu. Tentu tanpa melihat ke arah Andini. Andini pun menerimanya. Tak lama, Rayhan kembali berbalik. "di UKS ada miss Hana"

Andini mengangguk, "terimakasih"

Andini PoV

"terimakasih" ujarku pada Rayhan, teman sekelasku tahun kemarin.

Dan tanpa membalas, ia hanya menatapku lalu pergi. Aku tersenyum kecut.

Nggak dibales? Malah pergi gitu aja? Aku salah ya? pikirku yang masih terpaku.

Tiba-tiba saja aku kembali kepikiran. Mungkin memang seharusnya aku masuk sekolah negri saja. Ah, kenapa aku harus terlahir bodoh?! Ratapku.

Perlahan air mataku meluncur membasahi pipi. Aku ini hanya menyusahkan.

Ini bukan pertama kalinya aku di perlakukan buruk oleh Catrine. Juga bukan hanya Catrine, bahkan dalam grup chat kelas mereka terang terangan menjadikanku bahan guyonan. Aku juga tak paham mengapa mereka melakukan ini padaku. Aku bahkan tak pernah membalas. Namun yang mereka lakukan justru semakin menjadi. Saat aku bertanya 'apa salahku?' mereka hanya menjawab dengan jawaban yang mengada ada. 'karena kau menjelek jelekan nama sekolah' 'karena kau adalah beban'

Hei? Aku bahkan tak pernah membuat onar seperti kalian!

Jika aku bodoh... apa itu salahku?

Jika aku miskin...apa itu keinginanku?

Aku juga tak berharap begini.

Tuhan. Tolong ambil penderitaanku atau ambil saja hidupku ini.


__________________________________

terimakasih kepada pembaaca yang bersedia mampir^^

ini karyaku yang pertama, jadi maaf kalau masih mengecewakan ><

kalau masih banyak kesalahan, bisa ko langsung tulis di kolom Komentar.

kalau suka, jangan lupa Vote ya kak^^

see you~ arigatou ne~ gomawo~thankyou~ maturnuhun~ makasii^^

JudulessWhere stories live. Discover now