Enggak Ada Pilihan Lagi

12 1 0
                                        


Adzan Subuh telah berkumandang. Tetapi Annisa masih saja tidur. Ayah dan ibunya sudah berkali kali mengingatkan agar tidak tidur terlalu malam. Tapi setiap malam Annisa malah sibuk bermain dengan handphonenya, bahkan sampai larut malam.

"Nisaa... bangun nak, sholat subuh!"

Tidak ada jawaban.

"Nisa dengar mama gak? Bangun sholat subuh!"

Masih tidak ada jawaban.

"Oh... berarti minta cara kasar ini anak" batin mamanya. Mamanya bergegas mengambil ember dan mengisinya dengan air sampai penuh. Lalu...

Byurrrrr

"ASTAGFIRULLAH!!! BANJIR BANJIRRRR-- " teriak Annisa. Giliran disiram baru bangun.

"Mama, kenapa disiram sih? Kan Nisa jadi basah kuyup..."

"Lagian kamu dibangunin buat sholat kebluk amat! Udah cepetan sana mandi, wudhu, abistu sholat cepetan! Gak pake lama!"

Annisa pun mengangguk, dan segera bergegas ke kamar mandi. Ia juga harus membereskan kamarnya yang benar benar basah karena disiram mamanya.



"Wahhh! Wangi apa ini? Enak banget!!!" Komentar Ahmad adik Annisa.
"Oh iya donk! Pasti enak ini!" Annisa mengucapkannya dengan sangat percaya diri.
"Enakan mama yang masak, kakak mah masakannya gak enakk--- weeekk!" Kata Ahmad sambil menjulurkan lidah ke arah kakaknya.
Sontak kakaknya marah. Dan memilih untuk membiarkan adiknya yang jahil. Yang selalu saja menjahilinya.

Setelah memasak, Annisa segera menyiapkan piring dan minum untuk orang tuanya. Termasuk untuk adiknya.
Sebenarnya masakan Annisa gak kalah sama masakan mamanya. Setahun dirumah saja membuat dia belajar banyak hal. Terutama soal masak. Malah sekarang, orang tuanya sudah menyerahkan soal masak memasak kepada Annisa.

"Nisa, jadi mau sekolah dimana?"
Tanya papanya. Annisa pun menunduk. Ia masih belum bisa menjawab pertanyaan papanya.
"Masa iya kamu nganggur setahun lagi gara gara kamu belum bisa jawab pertanyaan papa..." tambah papanya.
Annisa semakin terdiam. Bagaimana caranya ia menjawab pertanyaan papa nya? Jelas dia tidak bisa berkata kata sedikit pun. Sebenarnya Annisa juga lelah setahun dirumah, ia rindu akan tugas tugas disekolah, kepadatan jadwal disekolahnya,ujian,ulangan, bermain bersama teman. Ini memang salahnya dari awal. Seharusnya dia tidak usah memilih meliburkan diri.

"Kamu mau diejek sama sepupu mu itu?"

Ah benar. Annisa sempat lupa ia memiliki sepupu yang menyebalkan. Yang membuat dia senpat dijauhi disekolahnya dulu waktu SD. Bahkan sepupunya itu sering menjelek jelekkan namanya disekolah. Sampai guru guru juga mengetahui soal itu.

" jelas Nisa gak mau diejek ama si SETAN KECIL itu... tapi nisa masih belum tau mau sekolah dimana... Nisa bingung ma,pa.. emang seharusnya Nisa gak usah milih ngeliburin diri..."
Isaknya. Mama nya pun langsung memeluk Nisa. Anak gadisnya itu kembali menangis mengingat keputusan yang dulu dia ambil, karena dulu ia putus asa.

"Tidak apa apa nak, kamu gak usah menyesal sama apa yang udah terjadi. Sekarang jalani saja oke? Pokoknya kalo Nisa udah sekolah, tunjukin lagi prestasi Nisa kayak dulu... jangan nangis lagi ya sayang..."
Seketika tangis Annisa terhenti karena ucapan mama nya. Benar! Dia gak boleh cengeng. Dia harus menerima semua keputusannya. Dia harus kembali semangat.

"Kalo masih belum tau, mending kamu minta petunjuk sama Allah, sholat istikharah sana. Minta yang terbaik buat kamu kedepannya..." kata ayah nya. Annisa pun mengangguk. Mendengarkan nasehat orang tuanya. Tiba tiba papa nya kembali membuka suara.

"Satu lagi, kalo kamu mau tetap sekolah di sekolah yang papa dan mama pilihin. Itu keuntungan buat kamu kedepannya. Kamu bakal lebih mudah cari kuliah. Tapi kalo kamu punya pilihan lain, ya terserah kamu. Tapi kamu harus terima konsequensinya"

Degg
Kalimat papa nya membuat dia merinding. Sekolah yang dipilihkan orang tuanya memang bagus. Bahkan sangat bagus. Tapi sayangnya sekolah tersebut sangatlah mahal, dan jauh dari rumah. Dan sekolahnya mewajibkan semua muridnya memakai bahasa inggris untuk berkomunikasi. Jika tidak menggunakan bahasa inggris, akan dikenakan hukuman.
Awalnya Annisa sangat bersemangat, tapi ia merasa takkan sanggup sekolah ditempat seperti itu. Saingannya lebih banyak dibandingkan saat dia SD dan SMP dulu. Dan rata rata teman temannya disitu anak orang kaya. Mereka sering memamerkan barang barang bagus dan bermerk. Gak heran sih, namanya juga anak orang kaya.
Tapi permasalahannya bukan hanya di bahasa kesehariannya. Melainkan teman temannya yang rata rata sombong, dan cenderung suka mengejek. Terlebih lagi, sepupu nya juga bersekolah disana. Itu yang membuatnya memilih untuk meliburkan diri dan mencari sekolah lain yang lebih murah dan dekat. Kepala Annisa semakin pusing.

Selain itu, Annisa juga mencari informasi tentang sekolah sekolah SMA terbaik di Kota nya. Dan jawabannya adalah sekolah yang dipilih oleh papa dan mama nya. Semakin stress lah dia.
Untungnya, dia memiliki sahabat, dan teman teman di media sosial yang mau mendengarkan curhatannya. Ia tak punya teman lagi selain teman teman di media sosial dan sahabat nya waktu SD. Namanya juga ngeliburin diri di rumah selama setahun. Mana ada teman. Temanya paling sapu, pel-an,mesin cuci, dapur,tv, dan handphone.
Sangat menyedihkan.

"Trus aku harus gimanaa iniii?! Harus cepet milih sekolah! Gak pake lama!!!" Gumam Annisa kesal pada dirinya sendiri yang terlalu lama memutuskan sebuah perkara.

Ia pun melakukan nasehat papa nya. Ia sholat istikharah untuk diberikan petunjuk. Agar dia segera mendapatkan jawaban untuk menentukan dimana ia sekolah nanti. Tak lupa, ia juga ber tadarus al quran. Agar hatinya lebih tenang.
Karena membaca al quran bisa membawa ketenangan untuk hati maupun pikiran.

Annisa jadi sering melamun,memikirkan kira kira sekolah mana yang ia pilih. Apakah tidak akan ada masalah lagi? Atau malah menambah masalah?. Ia masih memikirkan untuk kedepannya.
"Ayolah Nisa... pikirkan baik baik! Jangan sampai ngambil keputusan yang salah lagi!!!" Semangatnya dalam hati.



1 bulan kemudian, Annisa sudah mendapatkan jawaban yang terbaik untuk dirinya. Dia tak punya pilihan lagi selain kembali bersekolah di sekolah yang dipilihkan oleh orang tuanya. Dia merasa memang perkataan orang tuanya memang benar. Sekolah pilihan orang tuanya lah yang terbaik.
Akhirnya, Annisa pun memantabkan hati nya agar mau bersekolah disekolah pilihan orang tuanya. Dan harus menghadapi segalanya yang akan terjadi nanti. Tambah lagi, sekarang dia akan menjadi ADIK KELAS dari teman temannya. Entahlah, Annisa tidak bisa membayangkannya nanti.

"Peduli amat mereka! Yang penting aku sekolah, mencari ilmu yang bermanfaat, dan banggain orang tua! Aku yakin, keputusan ku kali ini gak salah!"




"Papa..." panggil Annisa. Papa nya langsung menoleh ke arahnya. Annisa sebenarnya agak takut untuk memberi tahu papa nya.
"Kenapa?"

"Itu... Nisa mau sekolah di sekolah yang papa sama mama pilihin.... keputusan Nisa udah bulat..."

"Alhamdulillah, yaudah nanti papa bilang ke kepala sekolahnya kalo kamu mau sekolah disana lagi..." jawab papa santai. Lalu beranjak kedalam dan berbicara sama mama. Annisa menarik nafas dalam dalam. Harus ia akui, agak berat baginya untuk kembali bersekolah disekolah pilihan orang tuanya. Tapi dirinya telah yakin dengan keputusannya. Keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
Orang tuanya tampak senang akan jawaban yang Nisa berikan.

"Kamu tau Nisa? Mama sama papa masukin kamu ke sekolah mahal itu, biar mama sama papa makin semangat cari uangnya. Kamu tau? Pas kamu tes abistu lolos masuk sekolahnya, mama sama papa bangga banget sama kamu... bangga banget... gak nyangka anak mama sama papa bisa masuk sekolah yang bisa dibilang sangat bagus. Rata rata anak yang masuk sana juga nyogok... sedikit yang benar benar memiliki kemampuan.
Mama seneng denger keputusan kamu..."
Annisa merasa lega sekali. Sekaligus ingin menangis karena mama dan papa nya ternyata bangga sama Annisa. Annisa pun semakin semangat dengan keputusannya.

"Aku gak bakal nyerah! Kali ini aku yakin sama keputusan aku! Apapun yang terjadi harus aku hadapi, aku harus banggain mama papa!"






-------------------------------------
-------------------------------------

1 k words
Wkwkwkw baru dikit itu mahh😂
Semoga kalian suka lah ceritanya... uwu
Jangan lupa untuk vote ya kaliaannn😆

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 14, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

UNDERSTANDStories to obsess over. Discover now