Aku melangkah menuju sebrang jalan, ke arah gerbang sekolahku. Tepatnya sekolah baruku. Perlahan namun pasti, langkahku semakin dekat. SMA Nusantara.
“selamat pagi pak” aku menyapa penjaga sekolahku dengan senyum
“pagi neng, murid baru ya?” katanya sambil tersenyum
“eumm, iya pak”
“pantesan, bapak baru ngeliat”
“hehe iya pak, kalo gitu saya masuk dulu ya” aku tersenyum lalu meninggalkan gerbang menuju kelas
XI IPA 1
Tidak lama kemudian, aku menemukan kelasnya. Semalam aku diberi tahu oleh wali kelasku dimana aku akan ditempatkan. Kelasnya tidak jauh, hanya berjalan dari gerbang kemudian belok ke kanan. Kelasku ada di sebelah kiri.
Tok tok tok
Seorang pria berkacamata, umurnya skitar 25 tahun menoleh lalu berjalan ke arah pintu.
“assalamualaikum pak” aku menjabat tangan pria yang berprofesi sebagai guru itu lalu mencium punggung tangannya
“waalaikumsalam, kamu amey ya?” ia bertanya sambil tersenyum
“iya pak”
“yasudah ayo masuk”
Aku mengikuti Langkah pak Radit memasuki ruang kelas itu. Terasa asing, terdapat beberapa dekorasi yang sepertinya dekorasi 17 agustus. Dan balon huruf dengan tulisan XI IPA ONE.
“anak-anak, kalian kedatangan teman baru. Nah amey, silahkan perkenalkan diri” pak Radit mempersilahkanku untuk memperkenalkan diri. Aku hanya mengangguk.
“assalamualaikum, perkenalkan saya Camelya Nadine Deolinda. Biasa dipangil amey, salam kenal” aku tesenyum canggung kepada teman-teman baruku
“waalaikumsalam, salam kenal amey” jawab mereka serempak.
Aku menatap satu per satu wajah teman-teman baruku, kemudian mengalihkan pandangan ke arah seorang siswa yang duduk sendiri di bangku ke 3 dari baris depan, baris kedua dari pintu. Aku mengulum senyum, namun dibalas dengan tatapan datar olehnya. Akhirnya aku membuang pananganku ke langit-langit kelas.
“yasudah. Amey, kamu duduk di samping Ghazi ya” pak Radit menunjuk ke arah bangku kosong disamping anak laki-laki berwajah dingin yang tak membalas senyumku tadi. Aku sudah menduga, karna hanya ada satu kursi kosong disana. Aku hanya menghela nafas dan mengiyakan pak Radit, kemudian berjalan ke tempatku.
“hai, semoga betah ya duduk sama gue” aku tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arah Ghazi.
“hmm” ia hanya menjawab dengan deheman tanpa membalas urutan tanganku
Menjengkelkan!
Aku segera mendudukkan diri di kursi dengan perasaan sedikit kesal. Baru pertama kali aku menemukan pria dingin dan cuek seperti Ghazi. Ahhh sialnya aku akan duduk selama dua tahun bersama Ghazi. Tidak terbayang akan seperti apa jadinya.
“haiii ameyy, salam kenal! Gue Caroline Putri, panggil aja olin” seorang gadis berambut Panjang agak bergelombang, dengan kacamata bulat menyapa ku. Ia duduk di depanku
“uhm, halo olin” aku menjabat tangannya
“eh iya kenalin gue Rafqi, lo pindahan dari mana?” tanya teman sebangku olin
“gue baru pindah dari bandung ke jakarta, Kakak gue pindah dinas soalnya”
“wih, cewek bandung. Pantes aja lo cantik” aku tersenyum mendengar ucapan olin. Sepertinya ia cepat akrab dengan orang baru. Sedangkan Rafqi hanya tertawa
YOU ARE READING
Ghiacco Animato🌞
Teen FictionAmey, gadis pindahan dari bandung. Ia mendaftar di SMA Nusantara, lalu mendapatkan teman sebangku berhati dingin, bahkan lebih dingin dari es. Ghazi, pria cuek dan super duper dingin ini diam-diam memiliki perasaan kepada Amey. Namun ia bingung bag...
