"Aku takkan pernah jatuh bila tak kau yang memulai, semua bermula olehmu. Dan aku hanya menyambutnya dengan baik."
Untuk siapapun yang membaca ini, jangan abaikan prolog di depan ya.
Saya sebagai author atau bisa dibilang penulis pemula ingin meminta maaf terlebih dahulu sebelum anda membaca cerita saya. Biasanya penulis pemula lebih mencurahkan isi ceritanya yang terinspirasi dari kisah nyatanya atau lebih tepatnya tentang masa lalu sendiri.
Namun dibalik itu, tidak semua cerita yang saya tulis ini berupa fakta saya tapi ada banyak cerita yang akan saya tambah-tambahkan biar si pembaca tertarik untuk membacanya.
Bisa jadi pula akan saya tambahkan tentang romantisme 18th ke atas. Untuk itu, si pembaca jangan berfikir negatif terlebih dahulu ya.
Oh iya satu lagi, tentang siapapun itu orang yang ada di masa lalu saya, atau lebih tepatnya akan menjadi peran utama dalam cerita ini, terlebih itu saya meminta maaf kepada pembaca skalian. Mau kalian teman dekatku atau orang yang mengenalku, untuk itu jangan berfikir jika saya menulis cerita ini dengan tujuan saya ingin berjumpa dengan masa lalu saya. Tidak
Atau ada yang berfikir saya ingin pamer tentang masa lalu juga, tidak. Karna saya betul-betul sudah lupa pada si pemeran dan tidak ada kata lebih lagi.
Saya hanya ingin berbagi cerita saja, trimakasih telah membaca penyampaian ini terlebih dahulu. Untuk itu mari baca cerita "Dear Diary"
>HAPPY READING<
"Luna, nohh dapet salam tuh dari Niall". Ucapan yang dilontarkan oleh Andi dengan suaranya yang bernada tinggi seraya puas telah menyampaikannya kepada Luna. Sedangkan Niall diam saja, seperti habis menahan malu.
"Iyuhhh" balasan Luna menatap matanya Niall. dengan menunjukkan raut muka yang sedikit ilfeel kepada senior tersebut.
"Eh gue juga iyuhhh kali." Niall dengan menunjukkan raut wajahnya yang kesal terhadap Luna yang sok jual mahal itu.
Sambil membungkus gorengan yang Luna beli sama Agnes, Luna langsung menarik paksa jemari Agnes untuk segera pergi.
Yups, mereka yang tadinya hanya ingin membeli makanan di kantin, tiba-tiba...
"Yoklah nes biar cepet kita pergi dari sini, muak gue liat manusia macam tuh" ujar Luna
"Iyaiya Lun ntar, lagi nuang saos nih." balas Agnes
"Heh.. udah pergi sono cepet, gak sudi juga gue liat manusia macam lo pada." ketus Niall yang semakin jengkel karna Luna yang sok jual mahal terhadap dia.
"Sabar" sambil memiringkan bibirnya ke arah kanan serta memutarkan bola mata tanda kesel dari seorang Luna. Lalu mereka meranjakkan kaki untuk segera pergi dari kantin, namun Luna masih bersikap kesal terhadap kedua senior tersebut.
"Aneh gak sih nes, orang dia juga yang kirim salam buat gue eh.. malah dia juga yang bikin gue kesel." Ujar Luna di tengah perjalanan mereka menuju kelas
"Ya wajarlah Lun, orang lu juga yang duluan sok jual mahal di depan mereka. Otomatis mereka ngerasa terinjaklah atas ucapan elo."
"Ya jadi gue harus gimana lagi coba? bilang salam balik gitu?"
"Gak juga sih, tapi kalo lo kasih balasan senyum doang, gak akan lah mereka jadi angkuh kayak tadi."
"Ih lagian ya Agnes, gue juga biasa gitu kali kalo ada orang lain yang titip salam sama gue. Toh mereka pun biasa aja atas ucapan gue, malah bersikap lebih manis lagi biar bisa deket sama gue." Ujar Luna yang gak mau denger omongan Agnes.
YOU ARE READING
Dear Diary
Romance"Apa jadinya bila cinta tak sempat memiliki? Cinta pertama namun bukan pacar pertama." Kisah yang dialami pada gadis belia yang bernama Luna Brisya ini sangatlah rumit, terkadang ingin menyapa tapi enggan untuk memulai. Karna rasa yang telah jatuh i...
