-halo-

73 19 21
                                        

'Terkadang SKSD itu perlu'

Jangan salahkan dia yang telah pergi dari singgahan hatimu, salahkan dirimu sendiri yang memilihnya dengan sepenuh hati -Giselle Pandora

Gadis berambut panjang itu menatap langit, matanya terpejam perlahan, menarik napas dalam dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Semilir angin yang menerpa wajahnya ia biarkan lewat begitu saja. Namanya Giselle, jangan tanyakan parasnya. Cantik, tanpa skincare. Otaknya hampir menyamai kepintaran B. J Habibie. Keluarga konglomerat pun juga sudah tahu kalau dia adalah seseorang yang berpengaruh di kotanya. Bahkan, diumurnya yang masih genap 16 tahun, Giselle telah dijadikan pewaris tetap dua perusahaan ternama. Masa depannya secerah mentari yang terik pagi ini. Papanya juga selalu mendukung Giselle. Namun, trauma Giselle terhadap kematian sang mama beberapa tahun lalu masih belum bisa diobati. Giselle membuka matanya perlahan, menatap langit biru yang tak berawan, menarik bibirnya sehingga terlihat giginya yang rapi tanpa behel.

Sel, lo yakin nggak mau ikut kita nginep di rumah Gladis?. Tanya Rea, membuyarkan lamunan Giselle.

Nggak ah, gue mau ikut acara kantornya Papa, Sori ya?. Giselle mengalihkan pandangannya ke Rea.

"Iya gapapa kok, santai aja" Rea mengangguk pelan.

"Gak seru nih, nggak ada Giselle". Rajuk Gladis, perempuan itu sedang berkacak pinggang sekarang.

"Hehe, maaf ya? Kalau gitu, kalian duluan aja, lagian Pak Ujang mau jemput gue juga kok" Giselle mengibaskan tangan.

"Lo ngusir kita sel? Jahat amat" Gladis masih merajuk.

"Iya, kenapa?, pergi jauh-jauh lo dari gue" teriak Giselle menutupi wajah Gladis.

"Iya tuh, pergi jauh-jauh kek, pesona lo bikin kita makin eneg" Rea meniru gerakan Giselle.

"Tau aja kalau pesona gue nggak akan bisa dikalahkan sama yang lain, bahkan Mang Dadang sama Bu Watiktok nggak akan bisa menandingi" Gladis menyebut nama penjual batagor langganannya dan guru kesayangannya.

"Iya dis, lo memang nomer satu deh kalo bikin kita malu tiap hari" sarkas Rea.

"Bener Re, gue malu punya temen kaya si Gladis, tiap hari kerjaannya teriak-teriak mulu. Nggak dikelas, nggak dikantin, nggak di ruang guru. Buang aja nih anak" Giselle julid.

"Biarin lah, suara Gladis buat semua senang, kalau semua senang, Gladis nanti dapat pahala dong" bela Gladis.

Flashback on

Di Kantin..

"Halo guys, Gladis datang nih, awas minggir, artis horizon mau lewat". Teriak Gladis membuat seisi kantin hening. Giselle dan Rea yang dibelakangnya hanya menutup wajah, dan membatin 'gue nggak kenal, nemu dari ciliwung'.

"Eh neng Gladis, tiktokan yuk? Bareng Mang Dadang yang keren abiss". Teriak Mang Dadang di ujung kantin.

"Kuy lah Mang, nanti batagor seporsinya gratis ya?". Tanya Gladis membuat perhitungan, bisa rugi kalau tidak dibayar, batinnya.

"Okelah kalau begitcuu, ayok neng joget lagu kerasukan". Teriak Mang Dadang.

Gladis memutar matanya jengah, "Bukan lagu kerasukan Mamang, itu namanya lagu gagak tau!". Bantah Gladis kesal.

"Nggak, neng Gladis salah, itu lagu kerasukan namanya, liriknya kan 'entaaaahh apaa yangg merasukimu, cikwik, hinggaa kaw tegah merasukiku yang tulus mensyintaimuh' gitu neng Gladis, ada merasuki-nya". Kata Mang Dadang tidak terima.

"Yaudah kalau nggak percaya tanya aja sama temen-temen Gladis yang ada dibelakang". Kata Gladis, ngotot.

"Mana? Nggak ada tuh neng?". Ujar Mang Dadang, jujur.

WITH(out) YOU
   
   Stories to obsess over. Discover now