Halo buat pembaca baru, maaf ya nanti kalau ada bagian kata yang typo atau gimana gitu ya hehehe. Soal nya ini cerita kedua yang aku tulis setelah cerita 'Kuliah'. Aku masih belum ada waktu buat nge-revisi nya. Oh iya jangan lupa mampir dicerita aku yang lain juga ya. Makasih💚✨
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
BEDA __________
Umum nya bagi kebanyakan mahasiswa baru mereka akan bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan diri dan juga perlengkapan ospek. Tapi pengecualian untuk seorang gadis bernama Zahra Pelita atau orang-orang dirumah biasa memanggilnya Rara.
Mestinya kini ia sudah berangkat ke kampus untuk melaksanakan kegiatan pertama sebagai mahasiswa baru yaitu ospek. Namun yang ada Rara masih asik bergumul di atas kasur dalam balutan selimut putih tebal. Masih berada di alam mimpi meski jam sudah menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh pagi.
Dari bunyi alarm ponsel, hingga teriakan sang ibu lengkap dengan gedoran pintu kamar tapi tidak juga membuat seorang Rara berhasil terbangun. Manusia kebo, itu gelar yang cocok di sematkan untuk dia.
Setelah bunyi alarm yang ketiga belas Rara baru merasa terganggu, dengan gerakan yang amat sangat malas ia mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas disamping tempat tidur.
"Berisik banget sih, masih subuh juga"
Subuh? Baik mari berhitung dalam hitungan 3....2....1....
"ANJIR JAM SETENGAH DELAPAN?! KOK ENGGA ADA YANG BANGUNIN RARA SIH!"
Dengan cepat Rara menyibakkan selimut, berlari menuju kamar mandi dan keluar dalam waktu lima menit saja, memakai seragam hitam putih andalan mahasiwa baru, menyisir rambut, tidak lupa memakai bedak bayi dan liptint tidak ada waktu lagi untuk skincare pagi, dengan tergesa Rara memasukkan peralatan ospek nya kedalam tas sandang.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Rara bersiap, sungguh hal yang sangat mengesankan. Rara keluar dari kamar dan melihat kondisi rumah yang sepi kemungkinan besar adik lelaki nya sudah berangkat sekolah, ibu dan ayah pasti sudah membuka toko dibawah.
Rara tinggal di ruko tingkat dua dengan lantai dua yang dijadikan rumah dan lantai satu menjadi tempat keluarga mereka mencari nafkah.
Rumah makan Padang itu usaha keluarga Rara. Dengan sang ibu perempuan asli keturunan Sumatra barat dan sang ayah keturunan Jawa barat. Sungguh perpaduan yang indah.
Sambil memasang sepatu Rara turun ke lantai satu, sesampai dibawah ia bisa melihat para karyawan yang terlihat sibuk berlalu lalang. Rara menghampiri sang ayah yang duduk di meja kasir.
"Ih ayah sama ibu kok ngga bangunin Rara sih?" Omel nya saat tiba di depan sang ayah.
"Salahin aja terus orang rumah, kamu sih tidur nya kebo banget" ucap ayah tanpa melihat Rara karena sedang mencatat bill pesanan.
"Huhu Rara telat ayah" rengek Rara.
Sang ayah melihat sang anak dan menggeleng kan kepala "udah berangkat cepat sana, nanti tambah telat"