We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Chapter 1

105 4 1
                                        

Ini hari selasa, hari pertamaku di sekolah baru ini. Sebenernya sih aku harusnya masuk sekolah kemarin, tapi yaa aku males banget buat upacara. Seperti kebanyakan murid pindahan lainnya di hari pertama, aku langsung ke ruang guru menunggu jam dimulai. Aku sudah banyak berganti ganti sekolah sampai sekarang, dan semoga ini perhentian terakhirku. Bel tanda masuk pun berbunyi, aku dan wali kelasku yang baru pergi ke kelas. Kelas 11 IPA 4, ya aku siswa SMA. Lagi lagi seperti murid pindahan biasanya, saat aku masuk kelas semua warga kelas menatapku.

"Kita kedatangan murid baru nih yang beberapa waktu lalu ibu bicarakan, kamu boleh memperkenalkan diri"

Dan lagi lagi seperti murid pindahan biasanya aku memperkenalkan diri.

"Nama saya Zulfikar Ywain, asal saya dari kampung kembang dan baru kali ini pindah ke Jakarta. Umur saya 16 di tahun ini"

Lagi lagi tatapan itu yang sudah sangat ku kenal karena berkali kali pindah sekolah, kesan pertama mereka terhadapku pasti tentang penampilan. Jujur saja, aku bukan orang yang good-looking, mereka pasti melihatku orang kampung yang berkulit agak hitam, dekil, jerawatan.

"Kalau cita - cita kamu apa Zul?" tanya ibu wali kelasku

"Emmm, cita cita saya jadi orang kaya"

Seisi kelas pun tersenyum bahkan beberapa tertawa, tapi ini memang mimpiku dari dulu sekali sejak pertama kali pindah pindah dengan membawa berbagai masalah keluarga.

"Oke cukup perkenalannya, kalau kalian ingin lebih dekat bisa langsung tanya sendiri aja, sekarang kamu duduk disana ya Zul"

Posisi tempat duduk itu pun penting, untungnya aku duduk di jajaran ketiga dari akhir. Perlu diingat, jajaran akhir itu pasti ditempati badboy, jajaran pertama pasti hanya orang orang yang niat sekolah. Aku termasuk golongan orang orang yang gamau repot, jadi ini posisi terbaik. Apalagi yang duduk di depanku itu kombo perempuan dan di belakangku perempuan dan laki laki sebangu, posisi ini sangat aman dari badboy dan pertanyaan guru.

"Hai Zul, namaku Adit kita duduk sebangku, kebetulan aku juga ketua kelas jadi kalau ada apa apa jangan malu malu buat bilang"

"Okesip, makasi ya"

Pelajaran demi pelajaran pun berlalu, sebenernya aku ini orang yang sering disebut 'pintar' tapi aku sangat sangat malas, mengejar pelajaran pelajaran yang tertinggal sangat mudah buatku. Bel istirahat pun berbunyi.

"Zul, mau ikut ke kantin ga?" tanya adit

"Nanti aja kayaknya, aku juga bawa bekel"

"Oke"

Aku pun meletakkan HP ku diatas meja dan mengambil makanan di tas, kecerobohanku yang tidak mematikan HP saat disimpan. Kenapa begitu? Karena wallpaper HPku itu idol korea, ya aku memang suka idol korea dan anime jepang, aku juga sering disebut anak film parah oleh teman temanku dulu.

"Ih, kamu suka korea?!"

Perkataan pertama gadis yang duduk di depan ku, aku sempat memandangi nya saat pertama masuk. Dia lumayan manis menurutku walaupun di kelas ini ada yg lebih cantik darinya.

"Gausah teriak juga dong, malu tau"

"Gapapaa, aku juga suka dia kok, yang jadi wallpaper kamu!"

"Iya sih, dia emang cakep banget"

"Oiya nama aku Shafa, salam kenal ya"

"Oke"

Percakapan singkat itu diakhiri bel masuk, sekarang di jadwalku pelajaran kimia, aku sangat sangat tertarik di pelajaran ini sampai sampai materi kelas 12 pun sudah kupelajari.

Guru masuk memberi materi dan soal, soal itu sangat mudah bagiku dan mungkin sekitar 7 menit aku sudah selesai. Aku pun melihat sekitar, sepertinya Adit tidak kesulitan. Aku melihat Shafa yang sepertinya kesulitan, mungkin ini pelajaran terlemahnya. Aku pun ingin memberinya sedikit bantuan, yaa itung itung buat tutup mulut. Habisnya cowok yang suka korea pasti akan dilihat ke-cewek cewek-an.

"Shafa"

Sepertinya dia kaget karena aku memanggilnya walau pelan pelan

"Eh kenapa?"

"Susah ya? Nih bawa"

"Gapapa zul?"

"Nyantai aja"

"Makasi banget ya" balasnya tersenyum

Setelah melihatnya selesai aku pun mengumpulkan buku ke depan bersama nya, ya kita jalan barengan. Pelajaran pelajaran pun berlalu, istirahat yang biasa biasa saja sampai akhirnya waktu pulang jam 15.00

"Zul rumah kamu dimana?" tanya Adit

"Di xxx dit"

"Oh gitu, aku pulang duluan ya!"

"Iya tiati"

Saat keluar kelas dan menuruni tangga aku melihat shafa dan teman sebangkunya, entah kenapa saat itu dia tiba tiba menegurku.

"Zul"

"Eh iya?"

"Ikut yuk"

"Hah? Kemana"

"Ada yuk sekalian jajan"

"Emm, engga dulu deh kayak-"

"Udah ayo aja gapapa"

Aku pun ditarik dan dipaksa ikut dengannya, udah kayak penculik dan korbannya. Sepertinya ini tempat tongkrongannya sama sahabatnya. Tempatnya sebuah cafe dekat sekolah.

"Kok aku diajak kesini?"

"Gapapa, kamu tadi kan udah ngasih contekan kimia"

"Eh gapapa nyantai aja"

"Gapapa, pilih minum aja"

"Kalian kenapa gapapa gapapa mulu dah" Ucap temen sebangkunya Shafa. Namanya Antoinette

"Gausah shafa ga apa apa"

"Yaudah aku pilihin aja nih"

Aku senang, bukan karena Shafa tapi karena minumannya. Yaa aku ini anak miskin, untuk minuman seperti ini aku berpikir beribu ribu kali. Lalu jika berpikir untuk ngedeketin Shafa, gabakal mungkin. Dia lumayan populer dan agak cantik juga walau terkadang absurd, bahkan penampilanku saja gaenak dipandang.

"Ceritain dong zul, tentang kamu apa gitu" tanya Shafa

"Sebenernya aku agak gasuka dipanggil Zul, aku biasa dipanggil Yewy sih tapi gapapa"

"Loh kok Yewy?"

"Dari nama tengah ku Ywain"

"Okee, Yewy"

"Aku orang asli kampung kembang, aku udah banyak pindah sih dan baru kali ini aku di Jakarta. Btw aku fasih banget bahasa Sunda"

Kita pun ngobrol banyak, aku juga jadi tahu dia. Dia yang eskul basket, dia yang payah di pelajaran kimia dan matematika juga fisika, dia yang satu satunya anak perempuan di rumahnya, dan banyak hal tentang dia lainnya. Bahkan kita bertiga menjadi cukup akrab.

Hari pun sudah sangat sore, kita pulang ke rumah masing masing, di jalan pulang aku sambil memikirkan Shafa. Apakah aku tertarik dengannya? Jujur saja aku malas dengan cinta cintaan selama bertahun tahun. Tapi entah kenapa dia membuatku tertarik, dia yang cantik, dia yang ramah. Aku masih tidak mengerti perasaan apa ini.

Now, is You.Stories to obsess over. Discover now