Seorang cewek berpakaian putih abu-abu terlihat berlari kencang melewati koridor sekolah yang sepi. Rambutnya yang tergerai bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti gerak kakinya. Ia mencuri pusat perhatian murid-murid yang berada di dalam kelas yang ia lewati. Beberapa guru bahkan sampai keluar dari kelas untuk menengurnya yang membuat kerusuhan dan membuat murid lain penasaran. Namun, ia sama sekali tidak mengindahkan teguran itu. Ia malah tertawa-tawa sepanjang kakinya menapak.
Di belakang cewek itu, seorang lelaki paruh baya terlihat mengejar dengan sapu lidi dalam genggaman tangan kanannya. Wajahnya merah padam dan terlihat murka. Berkali-kali ia meneriaki nama cewek itu, meminta cewek itu berhenti berlari, sampai melemparkan sapu dalam genggamannya kepada cewek itu. Bukannya takut dan berhenti membuat keributan, cewek itu malah semakin terbahak-bahak dan terlihat semakin seru bermain kejar-kejaran dengan guru kedisiplinan itu.
Saat sedang fokus melirik ke belakang, di pertigaan koridor, gadis itu menabrak seorang cowok yang baru saja melangkah keluar dari koridor di sisi kiri. Keduanya terjatuh ke lantai dengan keras. Cewek itu tersungkur tepat di atas tubuh cowok yang ia tabrak. Keduanya masih meringis kesakitan hingga tidak sadar dengan posisi mereka.
Cewek itu mengangkat kepalanya, "Elo?!" ucapnya dengan suaranya yang keras.
Orang yang ditunjuk segera menolehkan kepalanya, menatap cewek yang terlungkup di atas badannya itu, "Astaghfirullah," cowok itu berucap dengan terkejut, "bangun lo dari badan gue!" ucapnya sambil mendorong kepala cewek itu agar segera bangkit.
"Aw! Jangan dorong-dorong kepala! Nggak sopan!" protes cewek itu tanpa bergerak dari tubuh cowok itu.
"Makanya, bangun, kek, biar nggak perlu gue dorong-dorong kaya gini," jawab cowok itu masih sambil mendorong kepala cewek yang ada di atasnya.
"Shaira!" panggil guru kedisiplinan yang sejak tadi mengejar cewek itu.
Yang dipanggil langsung diam membatu. Ia segera beranjak bangun dari tubuh cowok itu dan berbalik untuk segera kabur dari guru paling menakutkan di sekolahnya itu. Namun, sangat disayangkan karena Pak Tio sudah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan memukul kakinya menggunakan gagang sapu tadi. Shaira mengaduh kesakitan dan hanya bisa pasrah.
Pak Tio menoleh menatap cowok yang tadi ditabrak oleh Shaira, "Ngapain kamu di luar kelas, Shazam?"
"Saya baru dari toilet, Pak. Ini baru mau balik ke kelas, tapi malah ketiban sial," jawab cowok bernama Shazam itu tanpa lupa melempar tatapan tajamnya kepada Shaira di akhir kalimat.
"Gue ketangkap gini juga gara-gara lo! Coba aja kalo nggak ketemu sama lo, pasti gue udah berhasil bolos," balas Shaira dengan kesal.
Pak Tio Kembali memukul pelan kaki Shaira Ketika mendengar ucapannya, "Nggak ada bolos-bolosan, sekarang kamu ikut saya ke ruang kedisiplinan."
Sharia mencebik kesal. Ia pasrah ditarik Pak Tio menuju ruang kedisiplinan. Namun, sebelum benar-benar pergi dari sana, ia sempat menjulurkan lidah kepada Shazam. Membalas senyum meremehkan yang diberikan Shazam kepadanya.
Saat langkahnya sudah cukup jauh, Shaira menoleh ke belakang. Ia menatap punggung Shazam yang menjauh. Tiba-tiba cowok itu berbalik dan balas menatapnya. Shaira tercekat. Ia merasa tidak tau harus berbuat apa karena sudah tertangkap basah memperhatikan Shazam diam-diam.
Ketika Shaira piker Shazam akan mengejeknya karena sikap bodohnya itu, yang terjadi malah sebaliknya. Cowok itu mengulas senyum termanis yang ia punya. Hingga tanpa sadar jantung Shaira berdegup dua kali lebih cepat. Saat Shazam sudah Kembali memalingkan wajahnya ke depan, Shaira tersenyum dengan wajah tersipu.
"Nggak apa-apa gagal bolos, yang penting bisa meluk Shazam kaya tadi. Hehe. Dapat bonus disenyumin pula," Shaira membatin senang.
Meski setiap hari ia berdebat dengan Shazam, sebetulnya Shaira diam-diam menyukainya. Menurut Shaira tidak apa-apa ia tidak pernah akur dengan Shazam, yang penting ia slalu bisa berinteraksi dengan cowok itu. Bagi Shaira, membuat Shazam kesal dan mendengarnya mengucapkan istighfar berkali-kali saat mereka berhadapan adalah suatu kesenangan tersendiri.
Cowok itu terlihat lucu Ketika memasang wajah sebal. Shaira selalu dapat tertawa saat ia sudah berdekatan dengan Shazam. Meskipun Shazam pernah bersumpah bahwa cowok itu tidak pernah mau berdekatan dengan Shaira kalau bukan karena terpaksa.
Sampai hari ini, Shaira hanya bisa menyukai Shazam secara sembunyi-sembunyi. Shaira tidak ingin cowok itu tau soal perasaannya. Lagipula Shaira yakin bahwa Shazam tidak tertarik pada cewek sepertinya. Shazam itu anak baik-baik dengan segudang ilmu agama yang dimilikinya. Cewek seperti Shaira sudah pasti tidak masuk dalam kriterianya.
Namun, sangat disayangkan. Hari itu ternyata menjadi hari terakhirnya melihat dan bertengkar dengan Shazam. Karena Shazam memutuskan untuk pindah sekolah tanpa berpamitan.
ToBeContinue
715 words.
Hai gaisseu 🌚🌝 ketemu lagi sama aku, yang kali ini nekad bawa genre yang nggak pernah aku garap sama sekali, jadi kalo rada aneh yah maklumi aja deh. Soalnya di draft emang penuh teenlit, tpi ntah kenapa malah ini yang aku putuskan untuk di up :)
Tapi, smoga kalian suka ya. Smoga gak kalah seru sama lapak yang lain🌝
Don't forget to vote and comment~~
Don't forget to share this story to your friends~
Check my other story~~
Follow tiktok jayswifey20 untuk info lebih lanjut tentang semua karya aku.
See you next chapter ^^
♥Love From Cute Author♥
YOU ARE READING
Is It Him?✔️
Romance[TELAH DITERBITKAN] Shaira dan Shazam, dua sejoli yang tidak pernah akur sejak SMA kini kembali bertemu karena sebuah permasalahan rumit yang mendesak keduanya. Salah satu teman kuliah Shaira yang bernama Syifa, yang merupakan tunangan Shazam, divon...
