Keesokan harinya di Sma Garuda.
Sebuah motor sport hitam memasuki gerbang sekolah. Disusul tiga motor sport lainnya. Mereka memakirkan motor nya lalu berjalan di koridor. Banyak pasang mata menunjuk cowok itu. Terlebih para kaum hawa. Yah! Siapa lagi kalau bukan Alan dan kawan-kawan.
"Alaan!OMG ganteng bangettt!"
"Ya ampun Alan,makin hari makin cakep aja."
"Gue mau dong jadi pacar Alan!"
"Itu sebelah Alan cakep juga."
"Semuanya cakep dah,terutama Alan. Kaga ada saingannya."
"Aduuhh bebeb Alan, gemesssh deh."
"Apaan si lebay banget tu orang. Alan kan punya gue."
"Dih apaan, bukan punya lo!"
"Alan! Minta tanda tangan atuh!"
Semua cewe yang ada di koridor mengerubungi mereka.
"Pemandangan tiap hari ya kaya gini. Banyak minta tanda tangan, minta foto, bahkan minta jadi pacar. Duh Lan, lo beruntung banget dah."
"Hahaha, makanya kaya gua Rik. Lo sih kaga buka hati. Noh si Tasya mau gimana?" Alan tersenyum mengejek.
"Masalahnya Tasya mau kaga sama dia. Ya gue yakin dia kaga mau. Dah jomblo, karatan lagi." Semua pada tertawa.
"Lo tu yah Lang. Dimana-mana selalu saja ejek gue. Tasya mah bukan tipe gue. Eh, lah lo sendiri gimana? Lama juga jomblonya." Arik benar-benar kesal dengan Gilang. Sama-sama jomblo saja pada ribut. Aldo yang jomblo dari lahir saja diam. Dulu memang Aldo pernah ngedeketin Sela, tapi tidak pernah jadian. Haha!
"Udah udah. Jangan pada ribut." Aldo melerai.
"Woyy minggir-minggir!!cewek cantik mau lewat. Hush hush!!" usir seorang cewek berkulit putih, mempunyai tubuh ideal, dan berambut pirang. Dia memotong kerumunan bersama dua temannya di samping cewek itu.
"Alan!aku mau bicara sama kamu. Berdua," ucap cewek itu.
"Mau ngomong apa sayang," balas Alan dengan sifat playboy nya itu sambil merangkul cewe itu.
"Ngga disini. Ayo ikut aku."
Cewek itu melepas rangkulan nya dan menarik tangan Alan meninggalkan kerumunan.
Dari kejauhan, terlihat Alin dan teman-temannya berjalan di koridor membelakangi para cewek yang sedang mengerubung.
"Itu ada apa?" tanya Alin penasaran.
Felicya berdecak. "Lo ngga tau?tiap hari mah kek gitu. Itu si Alan sama teman-temannya pasti lagi dikerubungi. Mereka itu famous banget. Dulu emang ngga terkenal banget tapi sekarang ... lihat sendiri. Fans mereka dimana-mana. Dan yang narik tangan Alan itu pacarnya."
"Semoga mereka cepet putus."
"Kenapa Sel?" tanya Alin penasaran.
Sela berkacak pinggang menatap Alin jengah, "Ya pastinya agar gue bisa gantiin lah. Udah ganteng, tinggi, putih, mancung, jago main basket, juga jago balapan lagi. Udah pokoknya sempurna banget dah."
Deg!
Kata terakhir berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.
"Apa Sel?ja.go.ba.la.pan??"
Ia terbata-bata mengucap kata terakhir itu.
"Iya, dia selalu menang disetiap balapan. Keren kan?emang kenapa Lin?"
Tanpa Ia menjawab, Alin langsung meninggalkan mereka bertiga.
"Eh Lin!lo mau kemana??ayok ah kita kesana. Pagi-pagi liat cogan kan bikin kita semangat," ucap Acha bersemangat.
"Gue langsung ke kelas aja."
Ia sangat malas jika di tempat ramai. Lebih baik di kelas atau di perpus. Apalagi setelah ia tahu bahwa Alan suka balapan motor. Ia sesegera mungkin menjauhi nya.
"Yah, lo gak asik Lin." Felicya berharap Alin menghentikan langkahnya,tapi kenyataan nya Alin meninggalkan ketiga temannya berjalan melewati kerumunan.
"Alin tunggu!ayok ah kita ke kelas aja." Mereka bertiga langsung melangkah ke kelas.
****
"Lan, kita putus!" ucap cewek yang ada di depan cowok tersebut.
Cowok itu terkejut, "putus?alasannya?"
"Karena aku udah ada baru. Yang lebih tajir, lebih ganteng dan lebih perhatian sama aku."
Alan tersenyum miring. "Nggak masalah. Gue malah seneng."
Clara mengerutkan keningnya. "Malah seneng? maksudnya?"
Alan tidak menjawabnya. Ia langsung meninggalkan cewek itu di taman belakang sekolah.
**
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa langsung berhamburan keluar. Ada yang ke kantin, ada yang ke perpus, dan ada yang pergi entah kemana. Sedangkan Alan dan teman-temannya langsung cap cus ke kantin.
Mereka langsung menduduki tempat yang sudah di claim milik mereka.
Setelah mereka duduk, "Kalian mau makan apa nih, mumpung gue dapet uang saku lebih."
"Wiiihh traktiran nih, makin lope aja Lang." Arik mah kalau denger traktiran langsung gercep.
"Itu baru namanya temen. Kita samain aja lah sama lo. Ya kan gengs?" tutur Aldo
"Yoi," balas mereka.
"Lan, tadi Clara ngajak Lo kemana?dan Clara ngomong apaan?" tanya Aldo.
"Dia minta putus tadi," sahutnya sembari membuka bungkus rokok yang ada ditangannya.
"Serius, Lan?kok bisa?" Arik penasaran.
"Udah ada gantinya katanya. Lebih tajir dari gue, lebih ganteng, lebih perhatian," kata Alan mengikuti ucapan yang Clara tuturkan tadi pagi.
Arik menggeleng sambil mencak-mencak, "Buset ada yah cewek kayak gitu. Pikirannya duit aja. Matre dasar tu Clara."
Aldo menyahut. "Kayak gak tau cewek aja."
"Tenang aja bro. Nggak lama lagi juga lo dapet lagi, haha!"
Alan tiba-tiba tersenyum miring. Sepertinya ia punya ide.
"Gimana kalo gue bik
YOU ARE READING
ALIN
Teen FictionSi playboy dan si dingin. Kehidupan Alin setelah kepergian ayahnya membuat sifatnya berubah. Kepergian ayahnya karena seorang pembalap liar. Suatu hari ia bertemu dengan seorang cowok playboy yang ternyata ia adalah pembalap liar. Akankah cowok i...
