"Aku menjadikanmu yang pertama setelah Tuhan."
_Sherina Alya
Matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri. Namun, keringat sudah muncul di beberapa titik tubuhnya.
Pukul tujuh pagi, masih terlalu cepat untuk seseorang di hari Minggu beraktifitas berat. Namun, wanita berdaster rumahan dengan rambut yang digulung ke atas ini sudah berkutat dengan adonan donat yang berusaha ia kaliskan.
Sedari semalam lidahnya sudah meliur membayangkan donat dengan taburan gula halus di atasnya, hingga ia bertekad untuk membuat donat sendiri hari ini. Beberapa bahan seperti tepung, mentega, gula halus dan telur sudah tersiap di dapur rumah, tinggal tenaga saja yang harus ia persiapkan. Karena membuat roti bulat ini memerlukan banyak kesabaran dan tenaga yang besar.
" Dek, kamu ngapain?"
Arya mendatangi istrinya yang tangah berkutat di dapur sejak selesai sholat subuh tadi, daster kuning yang dikenakan Sherin sudah berpadu dengan warna putih tepung. Di atas gilingan meja, kini tangan Sherin sedang mengulet-ulet sebuah adonan.
"Oh, mau bikin donat," Arya mengangguk paham.
Istrinya adalah penggila donat dari dulu hingga sekarang, sampai-sampai pipi wanita itu persis seperti donat, bulat!
"Iya, Mas, Sherin udah kepengen sejak semalem," Sherin menjawab tanpa menoleh, masih fokus dengan adonan hingga membuat Arya mengernyit tidak suka, merasa diabaikan. Padahal ini bukan hal yang baru jika Sherin bertingkah seperti itu, tetapi entah kenapa ia belum terbiasa.
"Kalo mau kenapa gak minta aku belikan? Kamu lagi hamil jangan capek-capek." Arya mencoba menarik perhatiannya, namun belum ditanggapi sepenuhnya.
Sherin masih senantiasa asyik menambahkan tepung pada adonannya karena dirasa kurang. Tangannya mencicipi lagi. Ah kurang gula, sampai ia lupa untuk menjawab pertanyaan Arya.
"Dek!" tegur Arya tak suka, Sherin membuat emosi sepagi ini. Apalagi di hari Minggu, harusnya mereka menghabiskan waktu bersama untuk saling memanjakan diri. Saling memijat misalnya, karena jujur punggung Arya terasa pegal. Tekanan Sherin di sana sepertinya akan membantu meredakan.
"Mas lupa, ya, semalam pulang jam berapa? Jam dua 'kan?" Ditatapnya Arya yang sedang bermain dengan meses di atas meja.
"Aku 'kan jaga bunda, Dek. Bunda lagi sakit."
"Apa harus setiap hari, Mas? Aku juga takut sendirian beberapa hari ini, atau kalo nggak ajak Sherin ke sana."
"Maaf malam ini Mas akan temani kamu, nggak aku nggak mau kamu ke sana mending di rumah aja, rumah sakit gak baik untuk kandungan kamu. "
"Dan kamu tinggalin lagi sendirian?" balas Sherin sinis.
Tangannya membanting adonan tepung yang belum sepenuhnya kalis itu. Menguletnya penuh emosi. Arya pagi-pagi bikin kesel saja. Itulah sebabnya ia malas menanggapi Arya sedari tadi, melihat suaminya itu membuat Sherin emosi karena kelakuannya tadi malam.
"Udah ah aku capek, kamu bikin aku males nglanjutin tau gak," Mood Sherin yang melonjak sampai ke langit kini seakan meluncur turun di dasar jurang.
Ia beranjak pergi dari sana, meninggalkan Arya yang menatapnya melongo. Sungguh suaminya sangat menyebalkan di mata Sherin yang mudah sensitife semenjak hamil, mudah sekali ngambek.
Sementara Arya hanya menatap kepergian orang tersayangnya yang sedang merajuk, menghembuskan nafas pasrah, ia lalu memilih untuk menyelesaikan pembuatan adonan yang setengah jadi itu.
Menguletnya, hanya sebentar saja. Tenaganya yang lebih besar membuat adonan itu lekas kalis. Sebenarnya ia tak terlalu jago membuat makanan kesukaan istrinya yang satu ini, berhubung wanita itu sedang marah, tak ada salahnya jika ia mencoba mendinginkan hati Sherin dengan donat buatannya.
Dengan cekatan pula tangannya membuat bola berlubang selayaknya donat dan menggorengnya. Sherin lebih suka donat yang digoreng daripada dioven.
Hal ini juga sebagai bentuk permintaan maafnya pada sang istri. Ah, ia jadi merasa bingung sekarang. Istrinya marah. Dan Arya yang tak pandai membujuk.
Bukannya ia tak mau mengajak Sherin pergi ke rumah sakit ataupun rumah kedua orang tuanya, namun kegiatan keluarga besarnya hanya akan mengganggu waktu istirahat sang istri yang hamil tri-semester pertama, sangat rawan.
YOU ARE READING
RUNNER-up (Ketika Menjadi Istri Mas Arya)
General Fiction"Setelah menikah istri menjadikan suami sebagai orang pertama yang harus diutamakan melebihi orang tuanya, tapi kenapa setelah menikah suami masih tetap milik ibunya? Ini tidak adil!" Arya dan Sherin yang saling egois dipertemukan dalam sebuah ikat...
