Mi Scusa

14 0 0
                                        

Milan menepuk lembut concealer yang ia baurkan ke pipinya. Pagi ini, ia yang tak pernah merias wajah harus mematut dirinya di depan cermin rias ibunya untuk menyamarkan bekas-bekas lukanya yang kemerahan. Semalam, ia benar-benar kehilangan kesadarannya hingga ia mencakar-cakar wajahnya yang berurai air mata. Hanya satu hal yang ada di benaknya; tatapan mata terluka dari seorang ibu yang kehilangan hati anaknya di bawah langit biru dengan awan putih yang berbaris tipis. Sementara itu, Milan berdiri di hadapan sang ibu. Menggenggam sepotong hati kecil yang telah dirampasnya.


Anak itu tiba sekitar dua bulan lalu sebagai murid baru di Taman Kanak-kanak tempat Milan mengajar. Namanya Hanna. Gadis kecil berambut coklat dengan kulit putih pucat yang selalu datang ke sekolah dengan mata sayu nan kelabu. Mata yang merefleksikan kesepian. Begitu berbeda dibandingkan mata-mata kuning keemasan milik anak-anak lain yang memancarkan keceriaan. Namun, mata itu lah yang menyentuh hati Milan. Seakan memilih dirinya untuk mengasihi anak itu.

Meskipun begitu, Milan tak bisa terlalu sering menunjukkan kasih sayangnya pada Hanna, terlebih saat sedang mengajar di kelas. Ia tahu, anak-anak adalah pencemburu yang cerdik. Mereka selalu bisa menemukan alasan untuk merasa cemburu. termasuk jika melihat gurunya memberikan perhatian khusus ke salah seorang dari mereka. Sayangnya, Hanna beserta daya tariknya itu sering kali mencuri perhatian Milan selama mengajar. Begitu dekat namun tak bisa ia rengkuh. Membuatnya tersiksa. Namun, ia selalu menunggu saat jam pulang tiba untuk merengkuh Hanna ke dalam pelukannya. Walau hanya sesaat.

Hanna selalu menunggu di ruang kelas selama tiga puluh menit sebelum mamanya datang menjemputnya. Dan waktu itu lah yang dimanfaatkan Milan untuk menghabiskan waktu bersama Hanna. Usai mengoreksi tugas harian murid-muridnya, Milan selalu menceritakan kisah anak-anak untuk menemani Hanna melahap bekal makanannya. Kisah bunga dan ulat yang berubah menjadi kupu-kupu menjadi favoritnya. Kemudian, ia akan menemani Hanna menggambar. Memerhatikan bagaimana anak itu menggoreskan pensil warnanya di atas lembaran kertas putih bergaris. Lalu membubuhkan angka seratus di setiap gambar yang berhasil Hanna buat. Hanna senang menggambar bunga, terutama bunga tulip. Milan selalu berdecak kagum atas hasil karya Hanna yang menawan. Begitu nyata, detil, dan berwarna untuk anak seusianya. Namun saat terdengar ketukan lembut di pintu ruang kelas itu, Milan pun sadar bahwa waktu menyenangkannya bersama Hanna harus berakhir. Karena tepat di ambang pintu, seorang perempuan yang menyandang titel sebagai mama Hanna berdiri dengan anggunnya. Siap membawa Hanna kembali ke dalam buaiannya.

Semakin hari, menemani Hanna menunggu mamanya datang menjadi rutinitas baru bagi Milan. Karena kedekatannya dengan Hanna, Milan pun jadi berteman dengan Alia, mama Hanna. Alia adalah seorang yang mudah tersenyum serta memiliki banyak persediaan topik pembicaraan untuk mendekati lawan bicaranya. Milan dan Alia biasa bercakap-cakap sembari menunggu Hanna merapikan barang-barangnya ke dalam tas ungu berodanya dengan wajah ceria. Milan pun selalu menangkap mata itu. Mata Alia yang berkaca-kaca melihat betapa bahagia tuan putri yang dijemputnya pulang.

Milan pun kian dekat dengan Hanna. Sering kali Hanna merajuk kepada mamanya untuk memperpanjang waktu kebersamaan mereka sebelum pulang. Alia sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Ia justru merasa senang karena putrinya memiliki guru favorit yang begitu menyayanginya. Ia pun memercayai Milan karena telah menjaga putrinya itu dengan baik selama di sekolah.

Hingga beberapa hari lalu, tepatnya hari Selasa, Milan tak bisa menemani Hanna seperti biasa karena harus mengikuti rapat bersama guru-guru yang lain. Alia yang saat itu masih menghadiri pertemuan penting bersama kliennya pun sepertinya akan telat datang ke sekolah putrinya. Oleh karena itu, ia meminta Irwan, supir keluarganya untuk menjemput Hanna. Sesampainya di depan kelas Hanna, lelaki paruh baya itu mengajak Hanna pulang. Namun, Hanna enggan beranjak dari kursinya. Sembari memeluk wadah bekalnya, ia merajuk ingin menunggu Milan datang.

Mi ScusaWhere stories live. Discover now