setoran atau tukaran ?

216 10 7
                                        

Setelah sampai di ndalem gue merapikan barang2 sendirian. Mas Feza ? Jangan tanya, dia sudah pergi entah kemana.

Setelah selesai gue pergi ke dapur buat Ngambil minum.

"Ah leganya" kataku

"Nduk" seseorang di belakangku

"Nggeh umi" kataku sambil mencium tangannya

"Katanya kmrn kamu jatuh, maaf yaa umi baru bisa liat kamu, soalnya umi sama Abah kehabisan tiket buat pulang" katanya lembut

"Nggeh umi mboten nopo2" kataku sambil senyum

"Lukamu gmna nduk" tanyanya sambil memegang kepalaku yg diperban

"Sampun mboten nopo2 umi, sampun diobati mas Rifqi" kelasku senyum

"Oh iyaa kamu sudah ditunggu nak Arfan dimasjid bareng anak2 yg mau setoran" kata umi

"Nggeh umi, Rara siap2 dulu" kataku

"Yo wis sana" kata umi sambil tersenyum

Aku hanya memakai rok hitam dan kemeja maron tidak lupa juga kerudung serut hitam. Karna aku tidak suka pake gamis atau memakai kerudung syar'i yg besar2.

Aku berjalan dgn santai menuju masjid dan disana sudah banyak anak2 yg sdg setoran. Tapi aku tidak melihat si muka datar. Entahlah apa peduliku.

"Anyeong hasseeo" kataku masih didepan masjid

"Buset, salamnya yg bener" kata mba eva, karna hanya dia yg faham bahasaku dan aku hanya nyengir kuda.

"Hey kamu yg terlambat sini" ucap seseorang

Aku hanya berjalan kearahnya sambil menundukkan kepala.

"Kenapa tidak salam dan terlamabat ?" Tanyanya dingin sambil melihat arloji ditangannya

"Kok suaranya kyk kenal yaa" batinku

Kucoba mendongakkan kepala dan seketika pandangan kita bertemu, dan aku segera memelototkan mataku tanpa takut. Berbeda dgn santri yg lainnya, mungkin mereka bakalan menundukkan kepalanya.

"Anyeong hasseeo itu kata sapaan dlm bahasa Korea, kudet bngt si jadi org,Tadi aku habis beresin barang2ku" ucapku sinis

"Knp tidak salam yg bener ? Jangan mentang2 kamu adiknya Gus Rifqi jadi bisa seenaknya sendiri, datang terlambat, kamu gak liat teman2mu sudah dtg dr tadi, kamu itu harusnya bisa jadi contoh yg baik buat santri2 disini bukannya malah terlambat seperti ini" katanya marah

"Assalamualaikum ustad muka datar, gue cuma telat 5menit karna tadi umi pulang dan gue gak pernah minta org lain buat mencontoh gue, lagian yaa siapa elo hah ? Cuma seorg cowok muka datar yg miskin ekspresi dan satu lagi gue gak suka elo bawa2 mas Rifqi ngerti ?" Kataku menatapnya tanpa takut.

Pandangan kami bertemu dan dengan sengaja dalam kedaanku yang sadar sesadar2nya gue melotot dan langsung saja kuambil sandalnya dan kulemparkan keatas pohon sambil jalan santai pulang ke ndalem.(ini kita masih didepan serambi masjid gengs). Dia hanya menggerakkan marah, dan aku tidak jadi setoran karna moodku sudah benar2 hancur gara2 si muka datar.

Jangan lupa vote dan komen yaa gaes 😊🙏

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 10, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang