Pada sebuah desa terpencil di pinggiran kota yang panas, hiduplah seorang laki-laki tua. Dia bekerja sebagai petani gandum untuk menghidupi dirinya di rumah tua yang hampir roboh itu. Ia menanam beberapa pepohonan dan buah-buahan di halaman belakangnya. Ia merawat tamanan-tanamannya itu dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ayah yang merawat anaknya sendiri. Ia tinggal seorang diri, karena isterinya telah meninggal dan anak-anaknya yang pergi merantau ke kota.
Banyak pohon dan buah yang ia tanam. Dan yang menarik perhatian adalah sebuah pohon strawberry mungil yang tumbuh di atas pot cantik putih yang terbuat dari keramik. Biasanya ia dipanggil Si Kecil Berry. Beberapa bunga telah mekar darinya. Calon buah strawberry yang menggoda akan muncul di setiap tangkainya. Dan disisi lain terdapat pohon yang tinggi nan rindang dahannya. Ia telah tumbuh di sana sejak rumah tua itu dibangun. Dialah beringin, pohon terbesar diantara pohon-pohon yang laki-laki tua itu miliki. Dahan dan rantingnya hampir menutupi sebagian besar halaman belakang. Dan tingginya melebihi rumah tua dengan dua lantai yang hampir roboh itu.
Disanalah cerita dimulai. Pada awal musim panas nan terik yang tak dapat dihindarkan lagi. Sebuah kisah tentang Si Kecil Berry dan Beringin bermula.
***
“Hei…Lihatlah itu rantingmu menutupi sumber makananku. Bukankah jarak kita cukup jauh untuk kau julurkan ranting dan dahanmu itu diatasku.” Pekik Berry dari bawah bayang-bayang.
Beringin masih tak berkutik, bahkan ia tak menggerakkan rantingnya sedikitpun. Dia hanya melirik ke bawah dengan raut sinis.
“ Apa masalahmu? Aku hanya melindungi tuanku dari terik matahari” jawab beringin sambil menunjuk laki-laki tua yang sedang duduk bersandar di bawahnya.
“ Apa kau tidak melihatku? Lihat daunku yang menguning ini” Pekik Berry dengan nada kesal.
Daun-daunnya mulai menguning, dan ia menyalahkan beringin karena telah menutupinya dari sinar matahari. Dia mulai khawatir jikalau dirinya akan dibuang karena tidak menghasilkan buah strawberry yang merah,besar dan manis.
“Aku tidak akan bisa menghasilkan buah yang baik jika aku tak mendapat asupan sinar matahari yang cukup. Bagaimana ini, aku bisa mati dengan perlahan jika seperti ini terus.” Pikir Si Kecil Berry.
Ia berfikir keras untuk menemukan cara agar Si Besar Beringin itu tak mengganggu hidupnya. Ia berfikir siang dan malam. Ia tak mau kalau tuannya tak menyayanginya dan meninggalkannya karena tak menghasilkan buah yang enak lagi.
Pada suatu pagi saat ia terbangun dari tidurnya. Ia tersentak dengan suara berisik dari bawah tempat sampah di samping pagar rumah tua itu. Ia melihat seekor tikus kecil berlari sangat kencang dan masuk di salah satu lubang di bawah akar-akar pohon beringin. Setelah itu ia melihat seekor ular yang cukup besar sedang mengintai dan mencari-cari sesuatu.
“Apa yang sedang kamu lakukan ular besar?” Tanya Si Kecil Berry Berry.
“ Hmmmm, aku sedang mencari tikus kecil yang lezat. Apakah kau melihatnya lewat sini?” Tanya sang ular sembari menjulur-julurkan lidahnya mendeteksi keberadaan sang tikus.
Dan pada saat itulah Si Kecil Berry menemukan sebuah ide yang ia kira sangatlah cemerlang.
“Emmm…Hei Ular, apakah kau memiliki bisa yang beracun?” Tanya Si Kecil Berry.
“Tentu saja, bisaku adalah salah satu bisa yang sangat beracun di dunia. Bisaku ini dapat membunuh apapun. Hahaha… mengapa kau tanyakan itu?” Tanya sang Ular.
“Ah.. tidak, aku hanya penasaran saja.” Jawab Si Kecil Berry dengan singkat.
Sang Ular masih melihat Si Kecil Berry dengan raut heran dan penasaran. Sang Ular menduga bahwa ada yang di sembunyikan oleh strawberry kecil itu. Sehingga ia pun bertanya lagi.
YOU ARE READING
Toples Kaca
Short StoryAku mencium aroma harum yang samar, suara merdu itu masih saja terdengar. Wanita paruh baya dengan sedikit keriput di wajah itu masih tetap cantik. Apa lagi ketika ia sedang membaca. "Bu bacakan aku cerita lagi" Ucapku.
