1 | Jakarta

110 4 0
                                        

Selamat datang di kisah Althaf dan Aira 🙌🏼✨
_______

Sore itu, pukul tiga lebih seperempat, pesawat Garuda Indonesia penerbangan Bali-Jakarta mendarat dengan sempurna di halaman parkir Bandara Internasional Soekarno Hatta. Awak kabin mempersilahkan para penumpang untuk membuka sabuk pengaman yang dikenakan begitu lampu sabuk pengaman dimatikan. Sebelum keluar, ada beberapa instruksi yang perlu diperhatikan dan dipatuhi. Salah satunya untuk keluar secara tertib dan hati-hati. Apalagi dalam menggunakan tangga atau jembatan darat.

Di saat semua penumpang sibuk mempersiapkan diri untuk segera keluar dari pesawat, seorang gadis dengan balutan kemeja biru dipadukan dengan loose pants itu justru malah menatap ke arah luar jendela pesawat dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

Gadis itu menghela napas panjang. Harusnya dia tidak kembali secepat ini ke Jakarta. Harusnya dia menghabiskan waktu liburnya sampai tiga hari ke depan. Harusnya dia masih bersenang-senang di Bali sekarang. Harusnya dia menikmati pantai, suara deru ombak, dan sunset yang selalu menjadi spot favorit orang-orang ketika berlibur ke Bali.

Seorang pramugari menghampiri tempat duduk gadis itu. Pramugari tersebut memberitahu kalau dia sudah saatnya beranjak. Mengingat para penumpang yang lain satu persatu sudah keluar dari pesawat. Sebagai jawaban, dia mengiyakan ucapan pramugari itu, lalu bersiap untuk keluar dari pesawat.

Gadis bernama Aira itu meraih ponsel pintarnya di dalam sling bag. Ada orang yang perlu dia kabari untuk sekadar memberitahu kalau dirinya sudah sampai di Jakarta. Hal tersebut dilakukannya supaya orang tersebut bisa segera menjemputnya. Ya, sekadar itu.

Padahal untuk beberapa orang memberi kabar sudah sampai supaya orang yang dikabari lega dan tidak lagi merasa cemas.

Begitu selesai, Aira melangkah ke tempat pengambilan bagasi. Tentu untuk mengambil koper miliknya. Untuk itu, dia perlu menunggu beberapa menit. Sebelum kemudian menelusuri bandara menuju ke arah pintu keluar.

Ponsel yang berada dalam genggaman gadis itu berdering. Menampilkan nama Althafariz Zaidan pada layar ponsel.

Tanpa pikir panjang, Aira menerima panggilan tersebut.

"Erlan sebentar lagi sampai di bandara. Kamu tunggu sebentar, jangan ke mana-mana sampai Erlan datang."

Kalimat itu menjadi pembuka percakapan antara Aira dan sang penelepon. Ya, tidak ada kata sapaan apapun. Langsung pada intinya.

"Kalau kamu nggak bisa jemput, harusnya bilang dari awal. Nggak perlu repot-repot minta Erlan buat jemput. Aku pulang sendiri."

Aira mendengus. Padahal dia sudah mengikuti kemauan Althaf untuk segera pulang ke Jakarta. Jika alasan laki-laki itu tidak bisa menjemput karena ada urusan yang perlu diselesaikan, itu benar-benar alasan klasik baginya. Pasalnya yang menyiapkan tiket kepulangannya ke Jakarta adalah Althaf sendiri. Itu artinya, Althaf seharusnya tahu jadwal boarding dan landing pesawat yang dia tumpangi.

"Kamu tunggu Erlan."

Tanpa merespons Althaf, Aira mematikan sambungan telepon.

Aira akan memasukkan ponselnya ke dalam sling bag. Namun, Althaf kembali menghubunginya. Tanpa pikir panjang, dia menolak panggilan tersebut lantas mematikan ponselnya sendiri.

"Gue bisa pulang sendiri,"

Saat akan mengambil langkah untuk ke area menunggu taksi online dan kendaraan umum lainnya, seorang laki-laki menghalangi langkah Aira. Yang sontak membuat gadis itu cukup tersentak.

"Erlan."

Ya, laki-laki itu ternyata Erlan.

"Mba Aira mau ke mana?"

I Love The Way You LoveStories to obsess over. Discover now