06 April 2020
Menjadi makhluk berstatus perempuan
bukan alasan menjadi sosok
yang lemah
🌜🌛🌜🌛🌜🌛
Seorang cewek menatap nanar kembarannya. Bagaimana tidak? Cowok yang wajahnya lumayan mirip dengannya, pulang dengan keadaan yang jauh dari kata normal.
Kemeja putih yang tidak di kancing, memperlihatkan kaos hitamnya. Ada banyak bekas darah di kemejanya itu. Sudut bibir yang sobek, rambut acak-acakan, lebam dimana-mana, celana merah kotaknya sobek di bagian lutut, dan yang lebih parahnya dia masih bisa tersenyum lebar dengan kondisi yang seperti ini.
Cewek itu memukul kepala kembarannya. Membuat si pemilik kepala meringis kesakitan.
"Lo dalam keadaan kayak gini masih bisa senyum yaa sempak kuda!" omelnya.
"Sejak kapan kuda pake sempak?" cowok yang dari tadi berada di sebelah kembarannya bersuara.
Cewek itu beralih menatapnya. "Heh gigi kecebong! Kembaran gua kenapa bisa begini?!"
"Tadi tuh kita di kepung na." jawabnya.
"Kepung balik dong."
"Gimana caranya Keano Devan Bramasta sendirian ngepung 5 lima orang, Keana Diva Bramastaaaa. "
Cewek itu mendelik. Ia menatap kembali kembarannya. "Makanya no, hobby tuh jangan ngoleksi musuh, ginikan jadinya."
Kedua cowok itu menatap Keana dengan tatapan tidak percaya. Selalu saja ada bahasa bahasa unik yang di lontarkan oleh cewek itu. Tadi sempak kuda, terus gigi kecebong, dan sekarang ngoleksi musuh?
"Heh babi ngepet! shhh." sentak Keano sambil meringis akibat bibirnya yang sobek. "Mana ada shh orang yang hobby ngoleksi musuh shh."
"Ada! Lo buktinya!"
"Gu--"
Ucapan Keano terhenti ketika melihat pintu rumahnya terbuka, dan menampak pria paruh baya dengan setelan khas pejabat pejabat tinggi.
"Ada apa sih berisik berisik."
"AYAH!" Keana menghampiri pria paruh baya itu lalu memeluknya.
"Ada apa Ana?" tanyanya dengan lembut.
"Tuh si Kano berantem lagi yah." adunya.
"Heh lo juga dulu suka berantem! shhh" sewot Keano.
Keana menatap sengit Keano. "Itukan dulu!"
Pria paruh baya itu menatap anak laki-lakinya. "Kano." panggilnya dengan nada dingin.
Cowok yang di panggil langsung duduk dengan tegak. Ia meneguk salivanya dengan susah.
"I-i-iya y-yah?"
Aldo (ayah keana dan keano) menghela nafas kasar. Di hampiri anak cowok satu satunya itu.
"Kenapa bisa gini?" tanya sang ayah.
"T-tadi Kano di kepung yah shhh."
Aldo beralih menatap sahabatnya. "Ada kamu juga ternyata Yan, kok om baru liat."
"I-iya om, dari tadi Iyan ada di samping Keano masa gak keliatan."
"Kulit kamu sama kayak sofa om sih warnanya." canda Aldo.
Gugup Iyan langsung hilang. "Yaelah om, perasaan kulit iyan ga coklat dah."
"Kano kayak gini tuh gara gara sering ngoleksi musuh tuh ya." Keana berjalan menghampiri mereka. "Makanya no, lain kali musuhnya pajang di lemari, terus kunci rapet rapet biar ga berkeliaran."
Aldo tertawa mendengar penuturan anak gadisnya. "Ada ada aja kamu Ana."
"Daritadi mulut lo ngoceh terus dah na. Nih kasian kembaran lo ga di obatin-obatin." ucap Iyan.
Iyan, Keana dan Keano memang selalu bertengkar dari orok sampe remaja. Sudah tidak asing mendengar ocehan-ocehan mereka bertiga di rumah yang sangat besar ini. Berkat mereka bertiga, rumah yang seharusnya sepi ini menjadi sangat ramai.
Keana dan Keano sudah tidak memiliki ibu, sejak mereka lahir. Itulah mengapa Keana sangat cerewet terhadap kembarannya. Disini Keana berperan seperti ibu walaupun penampilannya yang tomboy, ia yang selalu memasakan makanan untuk ayah dan kembarannya. Untuk masalah bersih bersih, itu adalah tugas pembantu-pembantunya.
Keana tidak suka kalau pembantunya memasakan makanan untuk ayah dan kembarannya, entahlah sebabnya karena apa. Intinya dia tidak mau itu terjadi, kecuali kalau ia sedang ada di luar rumah.
Keana pergi untuk mengambil kotak P3K. Oh tidak lupa baskom dan air es. Gadis itu duduk di sebelah kembarannya dan mengompres luka luka yg ada di wajah Keano.
"Kalau kayak gini caranya, gua pindah ke sekolah lo!"
Kedua cowok di sana terkejut, sedangkan sang ayah tersenyum hangat. Memang Keana tidak pernah mau satu sekolah dengan kembarannya. Bahkan tidak ada yang tau kalau dia anak dari keluarga Bramasta yang kekayaannya tidak bisa di hitung lagi. Hanya Iyan saja yang tau soal itu, dikarenakan mereka sudah berteman sejak masih di dalam kandungan.
"Akhirnya lo mau satu sekolah sama gue." ucapan Keano membuat Keana memutarkan bola matanya.
"Selama ini gua cukup sabar ngobatin luka luka lo, tapi kesabaran gua udah abis!"
"Kamu bener mau pindah ke sekolah milik ayah?" tanya Aldo.
Keana menatap sang ayah, lalu menganggukan kepalanya dengan yakin. "Iya yah, biar nanti Ana yang awasin Kano."
Mendengar hal itu, rasa gembira Keano langsung ilang. "Mampus."
🌜🌛🌜🌛🌜🌛
HOLLA HOLLA HOLLAAAA
KETEMU LAGI DENGAN AUTHOR YANG GAJE INI, SEMOGA LU SEMUA BISA ENJOY DENGAN CERITA INI. LUP YUUU
Bandung, 12 Juni 2020.
07:30pm
👇 Yuu klik 👇 tombol ini(⭐, 💬)
CZYTASZ
Kedivta
Dla nastolatkówNiatnya pindah sekolah untuk mengawasi kembarannya, ia malah terjebak kisah cinta yang sangat rumit. Ia harus berhadapan dengan ke tiga siswa berandalan di sekolahnya itu. Dan terjebak ke dalam cinta segiempat. . "Kalau kayak gini ceritanya, kenapa...
