Cerita ini terinspirasi dari lagu Bung Fiersa Besari. Ini murni pemikiran sendiri, jadi jika tidak terlalu pas dengan lagunya, mohon dimaklumi 🙏
Happy reading
~April~
Sembagi Arutala masih terus mengekori Nirantara yang memindahkan baju-baju yang ada dilemari kedalam tas kecil.
"Aku serius. Jangan tinggalin aku! " gadis itu tak berhenti merengek dan memohon pada laki-laki bertubuh jangkung yang membelakanginya.
"Nanti aku sama siapa kalau ke mall, gramedia, jalan-jalan? "
"Masih ada temen-temen yang lain, La. Jangan terlalu bergantung sama aku! "
Arutala ingin marah pada laki-laki itu, ingin sekali menonjoknya sekuat tenaga. Tapi diurungkan ketika melihat peluh menetes dari dahi Niran. Ia lalu mengusapnya lembut, memandangi dari samping setiap inci wajah Nirantara. Bagaimana ia bisa hidup tanpa Niran? Sudah 6 tahun mereka bersama, dan beberapa bulan setelah pengumuman kelulusan SMA, laki-laki itu berkata ingin melanjutkan hidup bersama neneknya di Bandung.
"Disini aja, sih. Masih sering dikirim duit kan sama Bapak kamu? "
"Aku gak mau ngerepotin dia terus, biarin dia hidup tentram sama keluarga barunya. "
"Bang Niran. " Nirantara merasakan dekapan dari samping kirinya. Dengan tangan kanan yang bebas, ia mengusap puncak kepala Arutala dengan penuh kasih sayang.
Keputusannya sudah bulat. Semenjak Ibunya meninggal 1 tahun yang lalu, ia sudah memikirkan ini matang-matang. Ia akan pulang ke Bandung dan menjaga Neneknya.
Sama seperti yang dirasakan Arutala, ia pun merasa berat meninggalkan kontrakan kecil yang sudah menemaninya selama 7 tahun. Apalagi untuk berjauhan dari gadis disampingnya yang sudah terisak. Sangat berat!
Tapi akan lebih menyakitkan lagi jika ia tetap bertahan dirumah ini, dimana semua kenangan bersama Ibu masih terasa, dan akan lebih menyedihkan jika ia masih terus bergantung dibawah harta Bapak yang masih berlaku baik padanya. Niran mengaku malu akan hal itu. Ia ingin menujukkan bahwa dirinya bisa mandiri tanpa perlu siapa-siapa.
"Udah, awas! Aku mau lanjut beres-beres. "
Arutala mencebik dan berjalan menuju ranjang. Masih belum puas jika Nirantara belum mengijinkannya ikut ke Bandung.
"Abaang.. "
Nirantara lebih tua dua tahun dari Arutala. Niran yang saat itu telat masuk sekolah dua tahun membuatnya bisa satu angkatan dengan Arutala.
Inilah yang membuatnya dipanggil 'Abang' oleh gadis itu.
"Aku gak pergi sekarang, La. Ini baru siap-siap. " ucap Niran lembut.
"Tapi setelah dua hari, kamu bakal langsung ke Bandung. "
"Aku ikut aja, ya? " rengek gadis itu.
"Enggak! Apa-apaan kamu? "
Nirantara beranjak mengambil buku sketsa yang sering digunakannya untuk menggambar. Lalu memasukkannya kedalam tas.
Sementara Arutala menatap sedih kalender kecil yang berada di meja kayu.
Tahun baru nanti, ia akan sendiri. Atau mungkin akan merayakan bersama keluarganya dan teman-temanya.
Tapi yang ia mau hanya Nirantara!
"Nanti tahun baru gak ada kamu. " ujarnya cemberut, tapi tak mendapat respon apapun dari laki-laki yang terlihat sibuk mondar-mandir.
"Bulan april nanti—" Arutala tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia hanya menggigit bibir agar tak menangis kencang. Dirinya yang duduk dipinggir ranjang kayu milik Niran, meremas kuat sprei yang masih terpasang disana.
Niran melihat itu semua. Ada rasa kasihan pada gadis itu. Akhirnya ia mengalah pada egonya. Ia mendekat dan berjongkok dihadapan Arutala yang sudah berlinang air mata.
"Kamu pulang ya. " bujuk Nirantara menggenggam erat tangan gadis didepannya.
"Udah sore. Besok aku ajak ke gramedia, kita beli alat buat bulan april. " bujuknya agar Arutala mau pulang kerumah, dan tak merecokinya dengan rengekan manja.
Yang justru, membuat rasa sedih Nirantara bertambah 2 kali lipat.
"Tapi april nanti kamu udah gak disini. Makanya jangan pergi. "
"Kita masih bisa ketemu, aku masih bisa kesini. Jakarta-Bandung itu gak terlalu jauh, La. "
Arutala mencebik tak terima. Mengeluarkan jurus rengekan, sudah! Tapi Nirantara seolah menutup mata dan telinga.
"Nanti kalau misalkan aku pindah dari disini, terus kamu cari aku gimana?"
"Aku bisa telpon kamu atau kirim pesan, gampang, kan. "
"Kamu mana punya handphone? " liriknya sinis.
"Disana aku mau kerja supaya gak nyusahin nenek, sekalian nabung buat beli handphone. " Ini tidak bohong! Nirantara akan berusaha sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya.
Bahkan kalau mampu, ia akan kuliah. Tapi itu baru pengandaian.
Lagipula, tak kuliahpun tak masalah! Tenaganya akan sayang jika tidak digunakan untuk bekerja.
"Bener ya? "
"Iya. "
"Catat nomor aku! " Nirantara menuruti, lalu mengambil pensil dan merobek secarik kertas dari dalam buku tulis yang sudah usang.
Setelah menyebutkan beberapa digit angka, Arutala kembali merengut.
"Simpen ya. Aku gak akan ganti nomor, supaya kamu bisa telpon aku. "
Nirantara mengangguk setelah memasukkan secarik kertas itu pada kantong celana hitam yang kemudiam dimasukkan kedalam tas yang akan ia bawa lusa.
"Sekarang pulang! Aku mau mandi. " itu suatu bentuk pengusiran halus untuk Arutala yang betah berlama-lama merecokinya.
Arutala mengangguk dengan pipi yang terasa lengket akibat airmata yang tak mau berhenti.
"Jaga diri disana ya, aku bakal kangen kamu. Kuliah yang rajin, jagain nenek. Kalau ada yang naksir kamu, bilang aja kamu udah punya istri. "
Laki-laki itu mendengus seraya terkekeh geli.
"Iya, aku masih lama berangkatnya, La. "
"Ya udah, aku pulang. Besok ke gramedia beli yang tadi kamu janjiin ya! "
"Iya. "
Gadis itu mulai berbalik meninggalkan Nirantara yang bergegas mengambil handuk. Ketika Niran menuju pintu depan untuk menguncinya, ia dikejutkan oleh penampakan Arutala yang berdiri diteras kontrakan memandang sendu dirinya.
"Kenapa lagi? " tanyanya.
"Satu lagi pesan aku—"
Niran menunggu apa yang akan diucapkan Arutala selanjutnya.
"Bulan april nanti kamu harus kesini! "
Seolah Nirantara yang mengucap janji, maka ia mengangguk mantap. Semuanya akan ia usahakan. Pasti!
~April~
Jika ada typo mohon maaf 🙏
Semoga tetap suka!
See you..
#projekapril
1 April 2020
YOU ARE READING
April
General FictionSaat kau terlalu rapuh Pundak siapa yang tersandar? Tangan siapa yang tak melepas? Kuyakin Aku.. Bahkan saat kau memilih Untuk meninggalkan aku Tak pernah lelah menanti Meskipun engkau tak akan kembali ~FiersaBesari~ April #projekapril
