"Kita tak pernah tahu, dimana akan menemukan jalan untuk berhijrah . Jangan benci tempat yang kau singgahi sekarang. Karena bisa jadi ini adalah jalan untuk bertemu hidayah dari-Nya"
-Sahbaniah_Yunus-
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Seorang gadis tengah sibuk membawa barang bawaanya yang baru saja keluar dari perpustakaan untuk mencari bahan referensi tugasnya.
Dia bercita-cita ingin menjadi seorang santriwati. Impiannya sejak kecil adalah ingin menjadi seorang hafidzah penghafal Al-Qur'an
Gadis itu adalah Nafeesha Qhumaera Az-Zahra , seorang gadis cantik berhijab syar'i. Kecintaannya terhadap hijab karena terinspirasi dari ibunya yang selalu menggunakan hijab bahkan terlihat sangat cantik dengan kerudung panjang yang menjulur di tubuhnya.
Pesantren yang Zahra tempati untuk menimbah ilmu agama adalah salah satu pesantren yang terletak di daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Daerah yang terkenal dengan adat dan tradisi budaya nenek moyang yang masih sangat kental. Seringkali orang luar yang belum pernah menjajakan kaki di Toraja berpikir bahwa Toraja penganutnya hanya beragama non muslim tanpa mereka tahu bahwa di sana juga terdapat muslim walaupun hanya sebagai golongan minoritas, tapi hal itu tidak membuat muslim Toraja terkucilkan. Bahkan di Toraja toleransi antar umat beragama sangat tinggi. Kegiatan keagamaan sangat di perhatikan dari pemerintah setempat.
Pernah suatu ketika, ketika Zahra melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi . Ia memperkenalkan diri di hadapan dosen dan teman-teman jurusan di kampusnya. Lantas mereka kaget bahwa ada seorang muslimah dari Toraja yang menggunakan hijab syar'i sebagimana yang mereka ketahui bahwa di Toraja hanya terdapat agama non muslim. Tapi Zahra mengelak itu dengan membuktikan bahwa dia berasal dari Toraja dan juga beragama islam. Zahra lalu menjelaskan bagaimana pengaruh agama islam di Toraja kepada mereka, yang membuat teman-teman dan dosennya menjadi takjub dan terbawah arus dengan cerita Zahra.
Pesantren tempat Zahra melanjutkan pendidikan masih berdiri dengan sangat kokoh. Balai yang terbuat dari kayu masih menjadi sarana pengajaran dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa bangunan permanen seperti kantor, musholla dan asrama putri . Pesantren ini memisahkan antara komplek santriwati dan santriwan yang berbeda tempat. Letak keduanya di batasi dengan sebereng jalan sebagai pemisahnya . Meski demikian tenaga pengajar yang mengajar santriwati bukan hanya ustadzah tetapi juga ustadz. Jika belajar bersama mereka menggunakan satir sebagai pembatas.
Jam menunjukkan pukul 08:00 pagi. Matahari tampak malu-malu memunculkan dirinya , walaupun seperti itu cuaca masih tampak cerah. Seluruh santriwati mengikuti kajian rutin seperti biasa. Lantuanan bait alfiah dan matan jauharah mulai terdengar. Begitupun dengan tasrif yang di bacakan oleh santriwati. Ketika bel pengajian terdengar santriwati mulai membaca sholawat sebagai tanda kajian akan segera berakhir.
Semua santri mulai keluar dari musholla dan berhamburan menuju komplek asrama masing-masing. Tampak santriwati menggunakan busana putih nan rapi, khimar putih dan tak lupa membawa kitab masing-masing di genggamannya. Mereka mulai aktivitas masing-masing ada yang menuju ruang belajar, perpustakaan, kantin dan lain sebagainya.
Zahra masuk ke kamar dan meletakkan kitabnya di atas meja belajar. Seperti biasa setelah kajian Zahra selalu melakukan rutinitasnya dengan melakukan sholat dhuha di musholla. Akan tetapi ketika selesai mengambil air wudhu, Zahra berpapasan dengan Humairah sahabat karibnya yang akan menuju ke perpustakaan.
"Assalamu'alaikum Zahra , mau kemana?" tanya Humairah yang kemudiam bejalan mendekati Zahra.
"Wa'alaikumussalam, Rutinitas setiap hari Mairah sholat dhuha, kamu sudah sholat?" balas Zahra.
"Aku Mammnuk"
"Lho bukannya kamu tadi shubuh bisa sholat?"
"Itukan tadi Zahra, namanya juga mammnuk , tamu tak di undang datangnya kapan aja, iyakan"?
Zahra hanya membalas Humairah dengan senyuman kecil.
"Aku duluan yah,!"
Zahra kemudian bergegas menuju musholla lalu mengerjakan sholat dhuha 4 rakaat, dan setelahnya mengambil Al-Qur'an di sampingnya untuk membaca Al-Waqiah yang menjadi bacaan surah wajibnya selepas sholat dhuha tak lupa dengan mengulang hafalannya yang telah di hafalkan agar lebih mudah mengingat kembali.
Belum berapa ayat surah yang di hafalkan Zahra tiba-tiba terdengar mikrofon dari kantor pengumuman memanggil nama Zahra. Lalu ia bergegas berjalan menuju ke kantor.
"Assalamualaikum, ustadzah afwan siapa yang memanggil ana yah"? Tanya Zahra ke seorang ustadzah yang sedang sibuk dengan buku di meja kerjanya.
"Wa'alaikumussalam Zahra, oh itu keluarga anti ingin bertemu dengan anti Zahra. Silahkan ke depan posko beliau sudah beberapa menit yang lalu menunggu anti" jawab ustadzah Raudah.
"Toyyib, syukron ustadzah , saya permisi Assalamualaikum" ujarnya
Zahra kemudian berjalan ke posko melihat siapa keluarganya yang datang untuk mengunjunginya .
"Eh! Mas Syauqi Assalamualaikum kak "ucap Zahra sambil mencium tangan kakak sewayangnya itu
"Tumben datang ngunjungin Zahra ngga bilang-bilang, biasanya juga kan kalau ingin berkunjung nelpon dulu. Ada keperluan apa kak ? Ayah dan Ibu baik- baik aja kan"? lanjut Zahra dengan pertanyaan beruntun tanpa jeda.
"Waalaikumussalam dek. Nanya nya satu satu dek ngga usah terburu-buru gitu"
"Hehe ia kak , afwan aku cuma kaget aja kakak tiba-tiba datang ga bilang dulu"
"Hmm ia, Dek pulang yuk! "
"Sekarang kak?"
"Ia dek , kakak udah minta izin sama pembina pesantren tadi agar kamu pulang hari ini"
"Oh! Ya udah kak kalo gitu aku ambil tas dulu yah! Tunggu bentar"
Zahra kemudian sedikit berlari menuju kamarnya mengambill beberapa keperluan untuk di bawah kembali ke rumahnya.
Di depan koridor menuju kamarnya , Zahra kembali berpapasan dengan Humairah.
"Zahra mau kemana, kamu kok bawah tas segala? Kan bukan waktunya libur akhir pekan" Tanya Humairah
"Aku mau pulang ke rumah Humairah, kakak aku datang jemput di suruh pulang hari ini"
"Lho tiba-tiba gini!"
"Ia Mairah, aku juga bingung sih ada apa aku di suruh pulang , ga seperti biasanya. Ya udah kalo gitu Mairah aku pulang yah. Oyah hampir lupa titip salam sama teman kamar aku , aku ga bisa kabarin mereka soalnya lagi buru-buru Assalamualaikum Mairah". Ucap Zahra dengan sedikit tersenyum kemudian dengan cepat dia kembali berjalan menuju posko untuk segera bertemu kakaknya
"Ia , waalaikumussalam Zahra". Lanjut Humairah. Ia kembali terkejut dengan sikap buru-buru sahabatnya itu. Dalam hati Humairah berdoa semoga Zahra dan keluarganya baik-baik saja.
Di perjalanan Zahra hanya terdiam melihat kakaknya yang hanya focus menyetir mobilnya. Zahra juga tidak berniat untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Zahra hanya terus beristighfar tanpa henti dalam hati berharap semuanya baik-baik saja dan sesekali ia melihat ke samping jendela melihat pemandangan yang terlihat tampak asri.
* * *
Bersambung...
Afwan partnya agak pendek
Next part, lanjut ga?.:-D
Saran dan kritik yang bersifat membangun, silahkan koment di bawah yah!!! 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Ghuroba
General FictionBismillah... Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Apa yang terbesit dalam benak kita saat mendengar istilah "golongan minoritas"? Apakah golongan yang terkucilkan, terzalimi, dan termaginalkan?. Atau mungkin golongan yang seharusnya di hind...
