Prolog

17 4 4
                                        

Di sebuah sekolah...

Kring... Kring ...

Bel istirahat berbunyi membuat siswa-siswi SMA Antariksa langsung bergegas keluar dari kelas. Karena jam sedang kosong, maka mereka langsung keluar tanpa mengucapkan salam kepada guru.

“ Delina lo mau ke kantin gak? ” tanya Caramela.

Delina yang merasa terpanggil pun langsung menoleh ke belakang karena Delina duduk di depan meja Caramela. Dari tadi dia melamun sambil melihat kearah luar, lebih tepatnya ke lapangan basket karena disana ada anak-anak kelas X IPA 2 yang sedang melakukan pelajaran olahraga. Delina hanya melihat ke satu laki-laki yang sedari tadi masih asik bermain basket padahal sudah jam istirahat yang membuat anak laki-laki itu ditonton oleh banyak siswi di sekolah itu.

“Woy... Di tanyain malah diem bae. Liat-liat ke lapangan basket lagi. Liatin si Marvin lagi lu? ” ucap Hesley, sahabat Delina selain Caramela.

Delina pun mengerjapkan matanya, kaget dengan ucapan Hesley dengan nada tinggi.

Untung saja di kelas sudah sepi, ” batin Delina dalam hati. Dia tidak mau jika nanti banyak teman sekelasnya yang mengetahui bahwa dia menyukai Marvin. Fans seorang Marvin sangatlah banyak. Bisa-bisa dia kena bully oleh para fans nya jika mereka mengetahui bahwa Delina menyukai Marvin. Walaupun Delina punya sahabat-sahabat yang tomboy, mungkin hanya dia saja yang feminim disini walaupun Caramela tidak terlalu tomboy seperti Hesley dan juga Vanilla. Jangan tanya kenapa Vanilla tidak ada dari tadi, itu karena dia sudah keluar kelas duluan sebelum bel istirahat berbunyi. Vanilla langsung ke lapangan basket untuk menunggu pacarnya, yaitu Zero sahabatnya Marvin.

“Yaoloh ini orang malah bengong lagi. Ayo lah ke kantin. Marvin mah ntar aja dipikirin, ” ucap Caramela dan langsung menarik tangan Delina agar segera bangkit dari duduknya itu.

Sepanjang perjalanan menuju ke kantin, mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Bukan karena apa, wajah mereka memang sangat cantik dan juga bentuk tubuh yang bagus. Selain itu mereka bertiga juga pintar.

Wah kak Delina cantik banget ya, ”
“ Halo kak Caramela, imut banget sih, ”
“Kak Hesley juga cantik bet, ”
“ Eh kak Vanilla mana ya? ”

Kira-kira begitulah ucapan para siswa-siswi yang mereka jumpai saat ingin ke kantin. Kadang Delina merasa risih sekali, tapi mau bagaimana lagi kalau diladeni nanti semakin menjadi lebih baik diamkan saja.

Mereka bertiga pun sampai di kantin. Hesley langsung menarik tangan Caramela untuk mengikutinya mencari meja yang kosong. Sedangkan Delina langsung ke stan tempan makanan yang ingin mereka pesan. Kenapa mereka tidak bersama Vanilla? Jawabannya karena pacar nya Vanilla a.k.a Zero itu sangat posesif. Pokoknya Vanilla harus terus berada di dekatnya. Jika sahabat-sahabat mau bersama Vanilla maka mereka saja yang gabung ke meja Vanilla dan Zero.  Sayangnya saja mereka tidak bisa satu kelas, padahal Zero anak pemilik sekolah. Tapi ayahnya bilang bahwa mereka harus pisah kelas agar bisa fokus untuk belajar.

Delina pun membawa makanan yang di pesan oleh dia dan teman-temannya. Dia langsung menuju ke tempat duduk Caramela dan Hesley. Namun, dia harus melewati meja Marvin. Sebenernya tidak ada masalah bagi mereka yang tidak memiliki rasa apa-apa. Namun masalah bagi dirinya yang memiliki rasa kepada Marvin. Dia takut jika gugup dan salah tingkah padahal Delina yakin bahwa Marvin saja tidak kenal dengannya. Mungkin....

Delina pun menghirup udara dan menghembuskannya. Dia harus bisa bersikap biasa saja. Delina pun mulai melangkahkan kakinya menuju meja Caramela dan Hesley. Saat di depan meja Vanilla, Vanilla pun memanggil Delina untuk duduk bersamanya saja.

“ Hesley dan Caramela sudah memilih meja, jadi aku harus duduk disana, ” ucap Delina sambil menunduk menghindari tatapan Marvin. Entah kenapa Marvin malah menatapnya.

“ Suruh saja mereka berdua kesini. Mereka pasti mau, ” balas Vanilla. Vanilla tau bahwa Delina pasti tengah menahan gugup karena Marvin terus-terusan menatap kearah Delina.

“ Mmmm.... Tidak perlu Van. Aku kesana dulu ya, ” ucap Delina. Baru saja dia ingin melangkahkan kakinya suara berat seseorang membuatnya tidak jadi melangkahkan kakinya.

“ Suruh saja teman-teman lo kesini. Enggak baik nolak tawaran orang, " ucap Marvin masih menatap Delina. Marvin tau bahwa Delina sering menatapnya diam-diam. Bahkan beberapa kali Marvin tatap-tatapan dengan Delina, namun Delina langsung membuang muka.

“ Ya baiklah, ” jawab Delina pasrah. Saat ingin memanggil Caramela dan Hesley dia ditahan oleh Hazel yang merupakan kembarannya Hesley.

“ Biar gue aja yang manggil mereka berdua. Lo duduk aja, " ucap Hazel.

                               ~TBC~

Hello ini cerita yang kedua ya.... Moga suka sama ceritanya. Ini kata-katanya gak baku kok kayak yang di cerita pertama.

DIFFICULT LOVE Donde viven las historias. Descúbrelo ahora