"STOOPPPPP!!!!!"
Nafas Dinda terengah-engah. Tatapan tajam menusuk terarah bengis ke arah cowok yang sudah ia seret ke belakang sekolah.
Yaa bodo amat dia lagi apa di WC trus Dinda tarik.
"Gue tau lo mau ngomong apa, gak usah jelasin!" Dinda membentak keras. Merasa harga dirinya jatuh di depan cowok yang lagi dia taksir.
Andi menatap Dinda sambil berkedip. Mengeratkan dasi yang sebenarnya sudah rapi-kebiasaan.
"Jadi, lo maunya gimana?"
"Ya gimana? Kita jadian lah!"
"Tapi gue gak bisa Din." Andi menekan batang hidungnya yang bergetar setiap ia pusing. Bagaimana tidak pusing coba, lagi uhau di toilet malah diseret-seret seenaknya. Andi tau dia cowok, tapi yah tau lah setiap cowok lagi di toilet, mereka pasti lemes. Pasti. Gak tau kenapa.
Jadilah dia dibawa lari-larian dari koridor kelas tiga sampai kelas satu cuma demi ngomongin-
"Gue mau lo jadi cowok gue, udah itu aja. Kenapa lo malah keliatan sengsara?! Harusnya lo seneng ada cewek unyu yang suka sama lo. Eh lo terus ngerutin muka seakan ngomong sama gue tuh berat banget!"
"Ya tapi kan gue gak mau Din, lo gak bisa maksa gue lah. Emang lo mau jadi pacar yang gak dipeduliin?"
"Emang lo gak peduli sama gue?"
"Gue aja baru tau lo ada di sekolah ini semenjak lo chat gue tiga hari yang lalu."
Dinda diam, berpikir keras. Dua lengan tersampir di pinggang dengan kepala menunduk sambil mulut komat-kamit. Dia harus mencari cara agar misi tercapai. Musuh harus dilunakkan!
"Gue kasih tawaran! Gimana lo training dulu jadi cowok gue selama dua bulan. Setelah itu lo bisa pergi. Bagus gak?" Dinda menjentikkan jarinya, merasa idenya sangat best.
Andi menatap Dinda lamat-lamat.
"Untungnya buat gue apa?"
"Untung, untung apaan?"
"Apa yang gue dapet kalo gue nurutin kata lo?"
Apa?
Eh, apa ya?
Dinda menggaruk kepalanya gatal. Dia berpikir keras. Apa ya?
Apa ya?
Apa ya?
Apa ya-
"Ahh gue tau-gue tau, gue kan pinter. Lo bisa nyalin tugas gue biar nilai lo naik. Gue juga kaya, punya mobil, bisa lo bawa selama dua bulan anter-jemput gue, enak gak tuh!"
"Terus?"
"Terus?"
"Itu doang?"
"Hah? Emang apa lagi?"
Andi menatap Dinda lagi. Sangat malas menanyakan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
Mata Dinda membelo, tidak berkedip. Kepalanya blank, benar-benar kosong. Rencananya sudah sangat jauh. Harusnya setelah tarik-tembak-jadian-beres setelah itu selesai. Kenapa jadi panjang merentet begini?
Andi menghela napas gusar. Dia meng-grasak-grusuk rambutnya disertai erangan tertahan.
"Yaudah terus apa?"
"Hah?"
"Intinya apa?"
"Ya itu tadi."
"Tadi yang mana?"
Andi memejamkan mata rapat-rapat. Ingin sekali rasanya menaplok kepala cewek berbando pink di depannya.
Dinda masih belum berhenti berpikir, dia berusaha keras mengingat apa saja rentetan dari awal sampai sekarang.
Cari-seret-tembak-ancem-jadian-andigakmau-andinanya-guejawab-andinanyalagi-guejawablagi-andinanyalagi-guejawabla--
Eh?
Yang terakhir tadi apa ya?
Rencana A, B, C, trus?
"Arrggghhhhh!!!!! Tau ah pusing!!!!" Dinda berteriak kesal lalu berlalu dari sana. Helaian rambut panjangnya bergerak cepat mengikuti langkah kakinya yang berlari.
Andi terpaku.
Jadi, tadi itu, ngomong panjang lebar tadi itu, gak ada artinya?
Andi mengedipkan mata bingung.
"Hem hum lah. Mending ke wc."
KAMU SEDANG MEMBACA
DINDA
RomanceDiseret-seret padahal lagi ham hum di wc, Andi melongo waktu sampe di belakang sekolah, cewek tengil teriak keras sambil bilang 'jadi cowok gue!!!
