1. BUKAN MINGGU YANG INDAH

636 67 86
                                        

"Kita putus!"

Satu kalimat itu berhasil menghantamku dengan telak. Harusnya aku sudah terbiasa mendengar ucapan tersebut, tetapi dua patah kata itu tetap saja terasa menyesakkan saat mencapai gendang telinga.

"Lagi? Tapi, aku punya alasan," ucapku berusaha menahan air yang sudah mulai menggenang di pelupuk netra.

"Gue nggak terima alasan apapun!" tegas pria berambut gondrong di hadapanku, yang sudah mengganti kembali panggilan aku-kamu dengan elo-gue.

"Beb, aku harus kerja. Nggak enak kebanyakan izin. Lagian biasanya kamu manggung malam Minggu, kenapa jadi malam Rabu?"

"Don't call me.... Jadi kamu lebih milih kerjaan daripada nonton aku manggung?" teriakan pria itu semakin meninggi.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku, tentu tidak mengharapkan keributan ini terjadi, di depan tempat kerjaku dan disaksikan tiga orang laki-laki lain. Seorang pemuda yang biasa nongkrong sambil membaca komik di teras toko, rekan kerjaku bernama Aldo dan Pak Satpam yang menjaga kawasan ini. Dari sudut mata, aku bisa merasakan fokus ketiganya terpusat padaku.

Pembelaan diri hanya akan membuat Oscar–pacar yang telah sekali lagi menjadi mantanku–semakin marah, jadi aku hanya bisa terdiam sambil menahan tangis. Namun, ternyata kebisuanku malah semakin memperburuk suasana hatinya.

"Kamu nggak jawab? Oke, fine! Jangan pernah hubungi aku lagi!"

Setelah meneriakkan kata terakhirnya, Oscar pergi. Meninggalkanku yang hanya bisa terkulai dengan pantat menghantam semenan tempat parkir toko. Terdengar bunyi geseran kursi dan langkah-langkah mendekat. Tiga laki-laki itu membawaku kembali berdiri, sembari menuntun untuk duduk di salah satu dari kursi-kursi yang memang sengaja diletakkan pemilik di depan toko.

Tangisku pecah beberapa detik setelah di dudukkan. Suara gaduh yang dibuat tiga laki-laki itu kembali terdengar. Tangan besar Aldo terasa menepuk-nepuk pelan sisi bahuku. Pria plontos itu mengucap nama panggilanku sembari menyertakan kalimat bujukan seperti pada bayi.

"Sabar, Mbak sabar. Istigfar," ucap Pak Satpam sembari memberikanku tisu.

"Iya, La. Sabar ya. Jangan mau lagi deket-deket sama cowok kayak gitu. Kata bundanya Aldo, nggak seharusnya cowok bersikap kasar sama cewek. Nanti kalo dia ke sini lagi, biar Aldo marahin!"

Mendengar ucapan polos dari sang rekan kerja, tangisku semakin pecah. Aldo sungguh baik hati walau memiliki kekurangan dari segi intelegensi. Sikap dan tutur polosnya sedikit mengobati titik kecil luka di hatiku.

Beberapa menit kemudian, si pemuda komik datang menghampiri kami, sambil menyodorkan sebuah gelas berisi cokelat hangat padaku. Ia kemudian berkata, "gue pernah denger, katanya cokelat obat terbaik patah hati. Nih, diminum."

Aku masih sesenggukkan saat menerima uluran dari pemuda tersebut. Setelah beberapa tegukan, tangisku benar-benar mereda. Ucapan pemuda itu ternyata benar. Ada sedikit sensasi lega yang menggelitik saat menenggak minuman manis tersebut. Meski begitu, nyeri di dadaku masih terasa, apalagi saat mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu.

Sepeninggal Pak Satpam, yang mengatakan akan berpatroli kembali, aku sudah tenang. Syukur saja malam ini tidak ada pengunjung datang ke toko, yah ... kecuali, pemuda berwajah semi blasteran yang kembali menekuri komiknya itu. Dia memang pengunjung setia Indominus–waralaba 24 jam tempatku bekerja. Setiap kena sif malam, aku selalu melihatnya nongkrong di sini, entah makan atau minum, tentunya sambil membaca komik. Dan menghilang sebelum jam satu malam. Wajahnya yang terlihat seperti remaja SMA, membuat pertanyaan muncul di benakku, 'emang emaknya nggak nyariin apa ya?' Namun, pertanyaan itu tak pernah terlontar. Sebab, baru malam ini kami bertegur sapa.

CADEL ELLA [Season Series] TAMATStories to obsess over. Discover now