[1] KEMBALI

11K 296 9
                                        

"To fall in love is very easy, staying in love is a challenge, letting go is the hardest part"

"Everything is fine"

Bahkan masih bisa aku mengingat bisikan suara merdumu hingga membuat hatiku menghangat kala itu. Beberapa saat sebelum kakimu melangkah semakin jauh meninggalkan serpihan kenangan yang sekarang akan menjadi usang untuk mengejar mimpimu yang 5 tahun dahulu pernah kau sampaikan padaku. Pelukan hangat disertai kecup hangat kala itu yang masih terasa nyata untuk saat ini, seakan bibirku otomatis tertarik ke arah sudut membentuk sebuah lengkungan kecil saat mengingat semua perlakuan perlakuan sederhanamu.

"Prilly ...!!!"

Teriakan kencang membuat perhatianku terhadap air yang sedang melingkupi kakiku teralihkan pada sosoknya, sosok yang selama 6 tahun sudah menemani hari hari sepiku. Terlihat binar bahagia melingkupinya, aku akui ia tampan ketika melihat ia sedang tersenyum seperti itu dan aku suka.

"Ali, apasih teriak teriak. Telingaku masih terlalu normal untuk dengernya"

Sikap terkesan manja yang kupunya pasti akan keluar jika sudah bersama Ali. Dia tak menghiraukan ocehanku lantas langsung mengangkat tubuhku yang semula duduk mencelupkan kakiku dalam kolam renang jernih dihalaman rumahku. Aku yang tersentak kaget atas tindakannya, lantas aku mengalungkan tanganku pada lehernya seraya berteriak.

"Ali! turunin gak. Nanti aku jatuh, Ali!"

Teriakku sambil memukul pelan lengannya, aku hanya takut ia terpeleset karena licinnya lantai disamping kolam dan akan berakhir tercebur bersama basah kuyup ke kolam. Bukannya aku takut tenggelam, mustahil karena aku masih bisa berenang meskipun tidak dalam termasuk kategori 'jago'. Setelah mengangkat tubuhku dan memutar mutarnya untuk beberapa saat ia akhirnya menurunkan tubuhku dengan nafas yang memburu membuatku menertawakannya puas, salah siapa mengangkat tubuhku yang lumayan berbobot ini. Wajahnya begitu lucu dengan nafas tak beraturannya, namun masih berusaha menjangkau kepalaku. Nafasnya kian lama teratur, mata legamnya menatap dalam mata hazelku dengan kedua tangannya masing-masing di sisi kepalaku. Aku diam menekan rasa ingin tertawa karena melihat tatapan keseriuannya, menunggunya mengatakan sesuatu.

"Akhirnya Pril,"

Ucapannya belum sampai tuntas, membuatku mengerutkan kening bermaksud meminta kelanjutan apa yang ia akan katakan. Wajah seriusnya lamat lamat berubah tersenyum, membuatnya semakin manis.

"Aku dapat beasiswa itu, dan bulan depan aku akan berangkat ke London"

Pernyataan selanjutnya menimbulkan perubahan mimik wajahku. London, kota yang diimpikannya 3 tahun yang lalu. Aku lantas tersenyum lebar. Tangannya mendekap kedua sisi bahuku, tatapan bahagianya membuatku bahagia pula.

"Mimpi mimpiku akan terwujud Pril, sebentar lagi. Salah satunya mimpi untuk membangun sebuah istana kecil kita."

Ujarnya dengan wajah senyum lebarnya yang justru membuat hatiku entah mengapa sesak, ia akan mengejar mimpinya yang berarti akan meninggalkan aku. Entah dorongan apa yang membuat aku memeluknya erat setelah beberapa detik hening. Tidak. Aku harus menekan keegoisanku, ia berhak akan mimpinya.

"Selamat Ali, mimpi ajaibmu akan terwujud sebentar lagi"

Semoga ali tidak menyadari bahwa suaraku bergetar saat mengungkapkannya. Aku dekap erat tubuhnya, entah mengapa rasa takut kehilangan sosoknya begitu nyata terasa. Aku merasakan elusan halus dirambut panjangku.

"Aku pergi untuk kembali Pril, kamu tidak akan benar benar kehilangan aku. Aku janji, mimpi besar kita akan juga terwujud. Tunggu aku ya Pril"

SHORT STORY OF ALI PRILLYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang