Senyap, malam ini tak seperti malam biasanya yang riuh dengan suara kentongan yang dipukul mengelilingi kampung. Anak-anak tetangga juga tidak terlihat berlarian dengan ingus yang hampir jatuh dari hidung mereka. Biasanya mereka begitu aktif menyebarkan bau matahari di kepala yang tidak sempat dibasuh, sesaat sebelum suara masjid memanggil. Barang kali memang hanya perasaannya yang keliru. Sejak suaminya meninggal, Lastri merasa segala dunianya hanya perihal hampa,duka, dan nestapa. Langit rasanya runtuh, puing-puing dari segala bagiannya menimpa mata sayunya. Pantas saja air matanya tidak pernah berhenti, menetes membuat matanya iritasi.
Rengsa, kiamat rasanya telah datang padanya detik itu, benar-benar hanya menghampirinya. Bedanya, dia masih bisa menghela napas dan berdiri, menapak di tanah yang menjadi tempat suaminya dikubur.
Tiga bulan lalu, lelaki yang paling dicintainya menutup mata karena gula yang menggerogoti tubuhnya bertahun-tahun. Lastri amat terpukul, hampir gila karena kehilangan separuh hidupnya. Detik jam baginya telah berhenti, angka di kalender kertas tidak lagi memiliki arti. Dia limbung, penyangganya patah satu, tetapi bebannya bertambah seiring perutnya yang membuncit.
31 Oktober 2000, Lastri si janda muda mengalami keram perut dan ngilu di bagian punggungnya. Malang memang, makam suaminya belum kering, bunga diatasnya masih segar dan wangi, belum layu dan menyatu membumi. Tetapi, dia harus menghadapi kenyataan pahit, dia harus melahirkan seorang diri dengan perasaan duka masih berkecamuk di hatinya. Beruntung, anak yang di kandungnya tidak merepotkan sama sekali, atau mungkin anak itu sudah terlalu biasa dicekoki derita sejak dia dikandungan. Benih manusia itu sudah sering kelaparan bersama ibunya, menahan dahaga karena air gentong yang terlanjur mengering. Anak itu hanya butuh waktu sepuluh menit untuk lahir. Anak ini begitu mafhum dengan derita yang di panggul ibunya di pundak dan telapak.
1 November 2000.
Tangis pecah, anaknya telah lahir ke dunia. Janda muda itu begitu lega, dia merasa bangga dengan dirinya sendiri yang memilih hidup daripada mati. Dia berhasil melahirkan keturunan terakhir dari suami yang sangat dia cintai. Anak itu dia beri nama Ali Wregas Bagaskara. Berjuta harapan ia taruh di pundak anak mungil ini. Dia berharap keturunannya ini dapat kuat dan hebat seperti Ali, sahabat nabi. Menjadi Wregas yang kuat dengan segala hal yang akan menerpa kehidupannya yang memang sudah tanggung di timpa kemalangan.
YOU ARE READING
Rengsa : Kami Anak yang Malang
Short StoryMemiliki keluarga yang utuh, harmonis dan bahagia adalah harapan semua manusia. Tetapi, apa semua manusia bisa mendapat keluarga yang demikian? Wregas, seorang anak yatim yang cukup cerdas telah ditinggalkan ayahnya sejak kandungan ibunya berusia 7...
