Deru tetes mengiringi langkah. Para cahaya menelisik visual. Kurutuk diri dengan rasa frustasi.
"Uu... lupa bawa payung lagi..."
Tak ada cara lain, selain menerebosi kembali.
Amarah dirgantara makin memberat bersama kilatan cahaya. Pakaianku sampai basah dibuatnya. Aku harus mempercepat langkah. Waktu melayang tanpa meminta sepengizinan,
Tiba dirumah aku pun segera mandi dengan air hangat. Air yang teramat sejuk cukup membuat pariwaraku berdentum. Aku terhenti sejenak, menyadari kejanggalan tak kasat. Pusaran udara berbeda dari biasanya.
"Apa yang terjadi?"
Perasaanku menyembur rasa tak enak, tapi semilir angin memaksaku—memberanikan diri untuk membuka pintu.
Tibalah bau anyir menusuk indra penciuman seusai pintu segera terbuka. Lantas kunyalakan lampu sesuai insting dan tepat dihadapanku, jejak darah menumpuk; tercecer dimana-mana
"Ayah..? Bunda..? Kalian dimana..?" ujarku
Panik sudah memuncak tapi tidak ada respon sekalipun. Aku mencoba, mencoba dan mencoba. Sekali lagi, dengan suara lantang; terdengar seperti berteriak.
Tidak ada angin atau badai, kuberanikan diri mengikuti jejak darah tersebut. Perasaanku memang tidak enak. Dadaku juga terasa sesak. Aroma anyir itu semakin kuat tercium hingga pada akhirnya,
Alangkah terkejutnya aku, ketika mendapati jasad kedua orang tuaku terkapar—bersimbah darah tanpa nyawa. Bisu. Aku membisu total, meratapi tragedi mengerikan. Kucoba bangunkan mereka, berharap ini tidak lain yaitu mimpi.
"Ayah..! Bunda..?? Ke-kenapa bisa begini?"
Hening. Tidak ada yang merespon selain deru angin yang membisikkan nestapa. Mengerti. Aku sangat paham dengan keadaan ini, tapi kenyataan begitu sulit dicerna.
"AYAH.. BUNDA JANGAN TINGGALIN AKU SENDIRI! BANGUNLAH! TOLONG JANGAN BERCANDA."
Percuma meneriaki, karena mereka takkan bisa kembali lagi.
Tanpa sadar air mataku yang sempat-sempatnya kutahan, kini menguyur; membasahi pipiku. Tubuhku mati rasa—pundakku menegang. Dadaku terasa semakin sesak dan jantungku berdegup kencang. Aku masih tidak percaya dengan ini semua. Ayo katakan bahwa semuanya cuma settingan. Mimpi? ini terlalu nyata!
"Tidak... Ini tidak mungkin... Ini tak nyata..!!"
Tidak, ini bukan mimpi buruk yang menghantuiku. Tapi momen ini—aku harus bersungguh menerimanya.
Aku menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan segala emosi—bergeming ditempat, merasakan sakit, perih, marah, dan pening. Sejenak. Kuputar kembali momen-momen yang terekam dalam memori, ibarat segulung film yang telah lama tertumpuk.
Mereka telah merawat dan menjagaku dengan sangat baik. Bahkan sampai detik ini atensiku bahagia karena mereka. Tapi sekarang mereka telah pergi. Pergi selama-lamanya, tidak menunggu jawabanku, meninggalkanku. Ya, meninggalkanku sendirian disini.
Sekarang takkan ada sumber kebahagiaan, tempat aku kembali, masakkan buatku, yang membuatku tertawa, atau tidak akan ada lagi seseorang yang kukagumi dan melindungku. Mungkin inilah yang disebut titik terendah dalam hidup.
Sekarang yang hanya bisa ku lakukan hanyalah menangis dan menangis. Pengelihatanku membuyar. Tubuhku semakin berat. Aku terjatuh dengan tidak berdaya dan kesadaranku pula terjatuh ke dalam kegelapan.
"Cepat atau lambat, apakah aku menyusul juga ?"
ESTÁS LEYENDO
The Dark Stage
Misterio / Suspenso" Hidup adalah panggung, dan kitalah pemainnya. " Tepat setahun lalu, sandiwara kembali dipertunjukkan. Drama yang menceritakan sebuah tragedi. Tragedi berdarah; petaka yang menimpa satu keluarga. Sekeluarga yang dibantai tanpa belas kasihan sampai...
