Dua tahun kemudian.
Aku tidak menyangka membutuhkan waktu sedemikian lama. Hingga akhirnya, aku pun menyetujui tawaran ayah untuk menjodohkanku lagi.
Ya ... satu perjodohan lainnya yang harus kujalani.
Barangkali, ayah telah jengah sendiri. Melihatku yang gila kerja sampai-sampai tidak memikirkan kehidupan pribadi. Sementara, seiring bertambahnya tahun, aku juga semakin menua. Sudah memasuki usia berumah tangga, tetapi belum menikah-menikah juga. Sehingga beliau pun harus turun tangan untuk mencarikan jodoh untukku.
Namun, untuk kali ini, aku menerima keputusan ayah dengan mudah. Tanpa menanyakan dengan siapa akan dijodohkan, aku langsung saja mengiyakan. Aku bahkan tidak terlalu mempermasalahkan jika pernikahan itu nantinya hanyalah penyatuan antara dua perusahaan.
Lagi pula, dijodohkan ternyata tidaklah semenyeramkan yang kukira. Aku sebelumnya telah bertemu dalam sebuah perjodohan dengan orang sebaik Takaki Yuya. Dan jatuh cinta tidaklah sesulit yang kubayangkan. Setidaknya aku pernah berpengalaman satu kali dengan seseorang bernama Yamada Ryosuke di masa lalu.
Ah, Yama ...? Bagaimana, ya, kabarnya sekarang? Di saat aku baru akan menjalani perjodohan lagi, apakah dia sudah menikah dengan tunangannya?
... Tunggu, tunggu, Daiki! Mengapa kau teringat tentangnya lagi, huh? Mau menyerukan pada semesta kalau dirimu belum bisa melupakannya?
Ugh, dasar aku ini! Payah sekali dalam hal move on dari seseorang yang telah sangat kucintai.
Dan, oh! Omong-omong, coba lihat sedang berada di mana aku sekarang!
Saat ini, aku bahkan telah melangkah masuk ke dalam sebuah restoran berbintang. Tempat di mana kedua keluarga akan mempertemukan kami untuk pertama kali. Dengan ayah dan ibu yang mendampingiku di masing-masing sisi, kami berjalan mendekat ke sebuah meja yang telah direservasi.
Pihak keluarga yang meminang telah tiba di sana terlebih dahulu. Ayah, ibu, dan seseorang yang akan dijodohkan denganku telah menunggu. Kami pun mengambil duduk di kursi berseberangan, saling berhadap-hadapan dengan mereka.
Kedua keluarga kemudian berbincang. Ayahku terlihat akrab sekali dengan calon ayah mertua. Rupanya mereka adalah alumni sesama kampus dulu. Aku pun memberikan senyuman terbaikku saat ayah memperkenalkanku pada mereka.
Walaupun tadi kubilang jika aku menerima perjodohan ini, tetapi nyatanya aku tidak terlalu bersemangat menghadapinya. Baru sebentar, dan aku sudah merasa capai sekali.
Aku lalu beralih memandang seseorang yang duduk berhadapan denganku ini. Pria yang nantinya---jika perjodohan ini lancar---akan menjadi pasanganku. Dia sedang memperhatikan pembicaraan antar orang tua dengan saksama. Sehingga, dia barangkali tidak menyadari jika sedang kuamati.
Dari posisi duduk kami yang terlihat sejajar, barangkali dia sama tingginya denganku saat kami berdiri. Kami tampak serasi dengan sama-sama mengenakan setelan jas dan dasi hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Rambut legamnya yang dipangkas pendek itu membuatnya tampak segar dan lebih muda. Atau, mungkin dia memang lebih muda dariku?
Wajahnya yang stoic membuatnya selalu terlihat beraut tenang. Mukanya kecil dengan garis rahang yang tegas. Hidung mancungnya menjadi hal yang paling menarik dari wajahnya. Matanya bersudut tajam, tampak tak selaras dengan bibir tipisnya yang terlihat manis.
YOU ARE READING
LOOP ✔
Fanfiction"Takdir kita ... seperti tali simpul yang diuraikan lalu ditemali kembali. Hanya saja, untuk yang kali ini, ikatan itu menjadi lebih erat daripada yang lalu." _______________________________________ Yamada Ryosuke x Arioka Daiki ____________________...
