LOOP - 18

100 15 0
                                        

Yuri yang pertama kali terbangun pagi ini. Daiki dan Ryosuke yang masih tertidur di tempat sama menjadi pemandangan yang pertama kali dilihatnya begitu membuka mata. Mereka tidur dengan posisi duduk di sofa dan kepala Daiki menyandar pada bahu Ryosuke. Sejak tadi malam posisi keduanya sama sekali tidak beralih sedikit pun rupanya.

Yuri menggeram kesal. Harusnya ia yang berada di sana bersama Ryosuke. Namun, mengapa malah jadi dirinya yang menjadi penonton mereka berdua seperti itu?

Untuk kesekian kalinya, Yuri mengingatkan dirinya untuk tetap bersabar. Ia tidak boleh sampai terbawa amarah lagi. Ia hanya perlu menyingkirkan Daiki yang melekat erat pada Ryosuke selengket natto itu. Setelah itu, Ryosuke dengan mudahnya pasti akan kembali padanya.

Sepertinya kebiasaan Ryosuke untuk menyiapkan sarapan sendiri dari dulu tidak pernah berubah. Yuri pun berinisiatif untuk memasakkannya. Semoga saja menu makan pagi kesukaan Ryosuke juga belum berganti.

Setelah menyegarkan badan sejenak di kamar mandi, Yuri berpindah ke dapur sambil memakaikan apron ke badannya. Ia kemudian mencari bahan-bahan di lemari es yang akan digunakannya untuk memasak. Ia menyiapkan bumbu sambil menyimak layar ponselnya yang sedang menampilkan resep tonkatsu.

"Aku tidak mau kau menggosongkan wajan lagi seperti waktu itu."

Agak terkejut, Yuri menoleh ke arah seseorang di sampingnya yang baru saja merebut spatula dari tangannya.

"Astaga ...! Ryosuke, kau masih mengingat itu?!" Yuri tertawa-tawa menahan malu sambil memukul main-main punggung Ryosuke. "Itu tidak akan terjadi lagi. Kemampuan memasakku sudah meningkat pesat, lho!"

"Biar aku yang melakukan ini sendiri." Ryosuke menghalau Yuri sambil mengecilkan bara api. Suhunya sudah terlalu panas hingga membuat minyaknya meletup-letup keluar.

"Akan kubantu sedikit-sedikit. Kalau mengupas bawang dan memotong sayuran saja aku bisa, kok!"

Ryosuke membiarkannya saja. Seperti biasa, Yuri selalu keras kepala.

Daiki merasakan kekakuan di lehernya. Ia sudah menduga ini pasti gara-gara posisi tidurnya yang tidak nyaman semalam. Bangun-bangun, ia malah mendapati dirinya sedang berbaring di sofa dengan selimut Ryosuke yang menutupi badan.

Dapur yang terdengar berisik membuat Daiki menengok ke arah tersebut. Ia mendapati Ryosuke dan Yuri berada di sana. Sepertinya mereka sedang memasak bersama.

Daiki menghela napas. Memang tidak seharusnya ia bertempat di sini. Ia merasa menjadi penghalang Yuri yang ingin kembali pada Ryosuke lagi. Entah bagaimana ceritanya, ia seperti orang ketiga di antara mereka saja.

Keinginan untuk pindah dari apartemen Ryosuke kembali dipertimbangkan olehnya. "Yah ..., sepertinya aku harus segera angkat kaki dari sini. Benar kata Chinen-san, lebih cepat lebih baik," pikir Daiki.

Daiki lalu berjalan dengan berjingkat ke kamar mandi supaya tidak menarik perhatian mereka. Setelah itu, ia mencuci pakaian kotor miliknya dan Ryosuke yang dikenakan kemarin. Kemudian menggantungnya di jemuran yang berada di balkon luar apartemen. Semua dilakukannya tanpa suara agar tidak mengganggu mereka berdua.

Sekembalinya Daiki dari balkon, Yuri dan Ryosuke sudah memindahkan hidangan ke meja makan.

"Bergabunglah ke mari!" ajak Ryosuke begitu melihat Daiki yang sedang berdiri mematung di depan pintu menuju balkon.

Walaupun agak segan, Daiki lalu mendekati mereka. Tempat biasa ia duduk sudah ditempati oleh Yuri. Ia pun mengambil posisi di sisi meja makan di antara Ryosuke dan Yuri. Daiki bisa merasakan saat ini Chinen Yuri tengah meliriknya tajam.

"Ittadakimasu ...!"

Setelah itu hening. Hanya ada suara sumpit dan mangkuk yang saling berdentingan. Lagi-lagi Daiki merasa deja vu. Rasanya seperti saat ia pertama kali makan bersama Ryosuke saat baru pindah ke sini dulu. Padahal akhir-akhir ini Daiki baru merasakan suasana meja makan yang terasa lebih hidup.

Dering ponsel Ryosuke yang berada di atas nakas tiba-tiba menginterupsi. Ryosuke lalu meraihnya dan langsung disambut oleh sebuah e-mail masuk. Yang isinya mengatakan padanya untuk segera menemui sang pengirim di suatu tempat.

Ryosuke gamang. Ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan Daiki berdua saja dengan Yuri di sini. Khawatir Yuri akan mengatakan sesuatu atau bahkan melakukan hal nekat pada Daiki. Namun, mengetahui siapa pengirim mail tersebut, mau tak mau ia pun terpaksa harus pergi sekarang.

"Aku pergi dulu," pamit Ryosuke tanpa menghabiskan sarapannya terlebih dahulu.

Aura mengintimidasi Yuri menjadi sangat kuat begitu Ryosuke keluar dari apartemen. Chinen Yuri yang sangat manis di depan Ryosuke berubah menjadi Chinen Yuri yang garang ketika menghadapi Daiki.

Daiki ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya. Selain karena ingin menghindar dari Yuri, juga ada kegiatan beres-beres rumah yang sudah menunggu. Namun, sepertinya tidak sejalan dengan Yuri yang masih ingin berbicara banyak padanya.

"Arioka-kun, sepertinya kau belum tahu apa-apa tentang kisahku dengan Ryosuke dulu, 'kan?" tebak Yuri dengan nada menyelidik.

Mendapati respons Daiki yang seakan membenarkan, Yuri pun menyeringai.

"Aku tidak keberatan untuk menceritakan ...."

[ ... ]

LOOP ✔Where stories live. Discover now