LOOP - 33

114 18 49
                                        

"Ryosuke, kau datang? Aku sudah menunggumu." Yuri menyambut hangat kedatangan Ryosuke yang baru saja muncul dari balik pintu apartemen begitu ia membukanya. Namun, wajah semringahnya seketika menguap begitu saja. Saat mengetahui keberadaan Arioka Daiki yang digendong Ryosuke di balik punggungnya.

"Kenapa kau membawa dia juga ke sini?" tanya Yuri dengan nada yang jelas sekali terdengar tidak suka.

Ryosuke tidak lantas menanggapi Yuri. Terlebih dahulu ia memasuki apartemen lamanya dan membaringkan Daiki di sofa tempat biasa ia tidur dulu.

"Aku tidak ingin kehilangannya lagi," jawab Ryosuke sambil menyelimuti tubuh terlelap Daiki.

Yuri mengembuskan napas dengan jengah. Merasa sangat muak. "Ryosuke, jujur saja aku tidak ingin mendengar itu lagi darimu!"

"Sama halnya denganku yang tidak ingin melakukan ini lagi, Yuri." Ryosuke menjauh dari Daiki lalu berjalan ke tempat Yuri berdiri. "Aku tidak ingin perseteruan yang panjang. Mari, kita akhiri kekacauan yang kaubuat sendiri ini!"

"Tidak. Aku hanya akan berhenti jika kau kembali padaku. Itu saja keinginanku." Yuri bertutur serius. "Kautahu, aku sudah bertindak sejauh ini, Ryosuke!"

Yuri lalu mengikis jarak antara dirinya dengan Ryosuke. Ia baru berhenti saat keduanya hanya tinggal berjarak dua jengkal saja. Dipandangnya Ryosuke dengan tatapan sensual. Ia merapikan kerah kemeja Ryosuke sembari mengucap, "Ryosuke, kau tidak menghargai pengorbananku, hm? Itu semua adalah bukti jika aku mencintaimu sedalam itu, tahu!"

Ryosuke segera saja menepis tangan Yuri dari badannya. "Kenapa kau jadi seperti ini?" sentaknya keheranan sambil mundur satu langkah. Ia lalu mendekatkan ponsel yang sudah diaturnya untuk menghubungi nomor seseorang mendekat ke telinganya.

"Moshimoshi, Keito! Tolong, hubungkan aku dengan Okamoto-san!" kata Ryosuke begitu sambungan telepon terhubung.

"Tidak ada yang harus kaujelaskan padanya!" Yuri serta-merta menerjang Ryosuke. Hendak merebut ponsel Ryosuke itu dari tangannya.

Namun, Ryosuke yang memiliki tinggi badan sedikit di atas Yuri berhasil mencegahnya. Yuri pun tidak berhasil menggapai ponsel milik Ryosuke. "Kaulah yang membuatku harus melakukannya!" tukasnya.

Ryosuke menjauh dari Yuri dan berjalan menuju balkon. Lalu mengunci dirinya dari luar. Sehingga Yuri tidak lagi bisa melakukan sesuatu terhadapnya. Kecuali, hanya bisa menyaksikan Ryosuke yang sedang menjelaskan kebenaran kepada pimpinan agensinya dari balik pintu kaca.

"Moshimoshi, Okamoto-san! Ini dengan Yamada Ryosuke yang berbicara di sini. Panggilan saya ini bermaksud hendak meluruskan semua pemberitaan yang tidak benar tentang saya, Chinen Yuri, dan Arioka Daiki kemarin. Saya pikir pendapat saya penting untuk dapat melihat situasi dari kedua sisi. Karena berita ini benar-benar mengganggu ketenangan hidup kami.

"Saya hanya ingin mengatakan jika berita itu sama sekali tidak benar. Bisa dibilang, Yuri memelintir kenyataan dan mengarang cerita yang membuat dirinya seolah menjadi korban di sini.

"Saya tidak akan menyanggah jika sebelumnya saya dan Yuri pernah berpacaran. Namun, kami sudah mengakhirinya sejak dia menandatangani kontrak dengan agensi aktingnya saat itu. Kami benar-benar putus kontak setelah hari itu.

"Arioka Daiki hadir di tengah-tengah kepatah-hatian saya. Dia yang memperbaiki keadaan saya menjadi sedia kala. Saat saya telah jatuh cinta dengannya, Yuri datang kembali ke tengah-tengah hubungan kami. Saya tentu saja menolak kehadirannya. Namun, Yuri melakukan apa saja agar saya kembali menerimanya. Termasuk halnya dengan membuat berita bohong ini.

"Itulah yang sebenarnya terjadi.

"Anda juga pasti sudah tahu jika Keito adalah teman dekat saya. Keito tahu cerita lengkap tentang kami yang sebenarnya. Saya mohon, untuk mempercayakan Keito yang menulis artikel tentang klarifikasi saya ini. Saya percayakan hal ini kepadanya. Saya juga sudah merekam pembicaraan ini. Akan saya kirimkan nanti sebagai bahan bukti tambahan.

"Saya mohon maaf tidak bisa tampil di publik untuk menjelaskan ini semua. Saya tidak mempunyai keahlian untuk berbicara di depan pers seperti Yuri.

"Terima kasih banyak atas waktu Anda yang berharga! Saya harap dengan ini, dapat mengakhiri semua pemberitaan yang tidak benar tersebut."

Yuri jatuh merosot. Air mata jelas tidak bisa terbendung. Ia merasa semua yang diperjuangkannya selama ini runtuh di depan matanya. Kini semua yang pernah dilakukannya tidak ada artinya lagi. Semuanya berakhir sudah. Sanggahan demi sanggahan Ryosuke tersebut telah menegaskan bahwa ...

... Yamada Ryosuke benar-benar tidak akan pernah kembali lagi padanya.

Ryosuke kembali memasuki ruangan begitu menyelesaikan panggilannya dengan Okamoto-san. Dihampirinya Yuri yang bersimpuh lemah di lantai. Ia pun merendahkan tubuhnya untuk menyamakan posisinya dengan Yuri. Ditepuknya lembut bahu Yuri sembari berujar, "Pesanku untukmu dari dulu tidak berubah, Yuri ...."

"Mari, kita akhiri semuanya di sini. Jika kau berhenti di sini, setidaknya kita masih bisa berteman. Jika kau masih ingin melanjutkannya, lebih baik kita tidak bertemu dan tidak saling mengenal sama sekali.

"Tinggalkan aku dan Daiki sendiri. Itu saja permintaanku.

"Tanpa kau meminta pun, aku sudah memaafkan semua perbuatanmu dulu terhadapku. Tidak ada yang perlu merasa yang paling bersalah, hingga harus membalas budi. Juga tidak ada yang harus mendendam, hingga ingin membalas dengan keburukan.

"Mari, saling memaafkan! Dengan ini, kuharap kita bisa belajar cara mengikhlaskan.

"Terima kasih sudah menjadi bagian dari masa laluku. Aku sama sekali tidak menyesalinya. Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan dan terus melihat ke masa lalu. Kuharap, kau pun juga berpikiran demikian.

"Semoga, hidupmu lebih baik dari sekarang. Tanpaku, aku yakin kau bisa mendapat kehidupan yang lebih baik lagi.

"Berbahagialah ...."

[ ... ]

LOOP ✔Where stories live. Discover now