"Keluarga Takaki sebentar lagi akan tiba." Tuan Arioka mengabarkan di depan ambang pintu kamar Daiki yang setengah terbuka. "Segera bersiap-siaplah!"
"Dai! Mari, kita sambut mereka!" Ibu Daiki menepuk pelan bahu putra bungsunya itu. Mengajaknya untuk segera bangkit dari kursi meja riasnya.
Daiki mendengar ucapan ayah, maupun ibunya. Namun, ia memilih untuk tetap bergeming.
Daiki menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Pakaian bagus yang dikenakannya tampak tidak selaras dengan raut mukanya. Hanya kemuraman dan tanpa semangat sedikit pun yang memancar dari wajahnya.
Arioka Daiki yang terlihat berbeda dari biasanya itu pun dimengerti sepenuhnya oleh ibunya. "Ibu tahu apa yang kaupikirkan saat ini. Tapi, apa boleh buat, Dai ...! Sekali Ayahmu membuat keputusan, itu tidak akan dapat diganggu-gugat, 'kan?"
Garis bibir Daiki semakin melengkung ke bawah. Ucapan ibunya sama sekali tidak membantu meringankan perasaannya.
Ibu Daiki kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Daiki. Lalu merematnya lembut. Bermaksud memberikan semangat dan kekuatan untuk anaknya. "Nah, Dai! Coba berikan senyuman terbaikmu!"
Tatapan Daiki bertemu dengan sosok tersenyum ibunya yang juga sedang memandangnya melalui cermin. Melihat itu, Daiki pun tertular untuk mengulas senyum. Kedua wajah dengan senyum yang terlihat identik itu pun saling bertatapan di kaca.
"Dengan begini, kau terlihat lebih baik," ujar ibunya setengah memuji. "Ayo, kita menyusul Ayahmu ke bawah!"
Daiki ingin menangis saja rasanya.
Esedensies itu menyakitkan. Baru melakukannya dalam waktu singkat saja, ia merasa otot wajahnya sudah sakit semua karena dipaksakan membentuk senyum untuk menutupi luka.
Mau tak mau, Daiki pun masih harus mempertahankan wajah bahagianya ini sembari menuruni anak tangga demi anak tangga hingga sampai di pintu masuk di lantai terdasar. Bahkan, mungkin sampai acara malam ini selesai. Sungguh, pastinya akan sangat melelahkan.
Setibanya di pintu masuk, Daiki bisa melihat tiga buah mobil sedan yang telah terparkir di depan rumahnya. Beberapa dari penumpang mobil itu pun sudah melangkah keluar. Dan sedang berjalan menuju ke arahnya.
Mereka benar-benar datang. Daiki tidak menyangka hari seperti ini akan tiba. Ia tidak pernah membayangkan ini terjadi, jika itu bukan dengan Yamada Ryosuke.
Daiki sedikit menyipitkan matanya saat melihat ke kejauhan dan tidak sengaja menemukan keberadaan sebuah mobil lain yang menepi di luar pagar rumahnya.
Ah, sepertinya aku pernah melihat mobil itu sebelumnya. Tapi, di mana ...? Lalu mengapa mobil itu hanya berhenti di sana? Apa dia ini bukan bagian dari mereka?
"Selamat datang, Takaki-san!"
Daiki mengalihkan pandangannya ke depan saat sambutan dari Ayahnya itu ia dengar. Keluarga Takaki telah tiba di hadapannya. Pun, dengan Takaki Yuya yang juga sudah berdiri tepat di depannya.
Yuya terlihat tampan dengan setelan jas hitam dan kemeja marun di dalamnya. Dia tampak berkharisma dengan penampilannya yang seperti itu. Terlebih, di saat dia menampilkan senyumnya yang meneduhkan saat pandangan mereka bertemu.
Jika saja Arioka Daiki belum pernah melihat Yamada Ryosuke sebelumnya, mungkin dia akan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Takaki Yuya.
Andaikan saja ....
Setelah menyambut tamu-tamunya dengan menyalami satu per satu, Tuan Arioka kemudian mengarahkan kesemua anggota dari kedua keluarga besar itu ke ruang makan.
YOU ARE READING
LOOP ✔
Fanfiction"Takdir kita ... seperti tali simpul yang diuraikan lalu ditemali kembali. Hanya saja, untuk yang kali ini, ikatan itu menjadi lebih erat daripada yang lalu." _______________________________________ Yamada Ryosuke x Arioka Daiki ____________________...
