Daiki merasa lega begitu mengetahui ayahnya sudah boleh untuk dibawa pulang ke rumah keesokan harinya.
Sekembalinya dari kantor, Daiki pun langsung bergegas menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat inap untuk membantu berkemas. Untuk pertama kalinya, setelah enam bulan, akhirnya Daiki dapat merasakan menginjakan kaki di rumahnya lagi.
Namun, kesenangan Daiki tidak berlangsung lama. Begitu setibanya di rumah, ayahnya langsung saja memanggilnya untuk berbicara empat mata di ruang pertemuan keluarga. Daiki sudah menduga akan terjadi pembicaraan serius jika ayahnya sudah meminta untuk bertemu di tempat tersebut.
"Dai, kau sudah berbincang-bincang sedikit dengan Takaki Yuya, 'kan?" ucap Tuan Arioka begitu putra bungsunya itu mendudukkan diri di kursi di hadapan beliau. "Bagaimana menurutmu dia? Dia pria yang baik, bukan?"
Daiki menundukkan kepala, tanpa berani sedikit pun menatap langsung ayahnya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan mereka ini berlanjut. Daiki pun menanggapi pertanyaan ayahnya sebelumnya dengan anggukan.
"Langsung saja Ayah katakan kalau begitu. Keluarga Takaki akan ke sini nanti malam. Untuk menjenguk Ayah, sekaligus membahas tentang kelanjutan pertunangan kalian."
"Bagaimana menurutmu tentang ini, Dai?" lanjut Tuan Arioka menanyakan, saat Daiki terlihat hanya bergeming saja. "Kau tidak berencana kabur dari rumah lagi kali ini, 'kan? Ayah harap tidak. Karena Ayah sudah menyiapkan penjagaan yang lebih ketat lagi di seputaran rumah."
"Awas saja, kalau kau sampai mempermalukan keluarga kita untuk kesekian kalinya! Sudah cukup dengan penundaan pertunangan kalian dulu, karena kaburnya dirimu dari rumah." Ayahnya bertutur amarah.
"Lagi pula, apa yang kaulakukan di Tokyo hingga terlibat dalam skandal artis itu, sampai-sampai masuk acara gosip televisi, huh? Memalukan! Untung saja media menyamarkan wajahmu dan hanya menyebutkan inisial namamu. Kau tidak tahu, berapa banyak uang yang harus Ayah bayar untuk membungkam para media itu?"
Daiki tentu saja tersentak mendengar penuturan ayahnya. Ternyata ayahnya terlibat dalam upaya pembersihan namanya dari skandal itu dulu?
"Ayah sudah menyuruh ibumu berbelanja keluar, untuk membelikan setelan jas baru untukmu," ucap Ayahnya lagi dengan menurunkan nada bicaranya, sudah tidak semarah seperti sebelumnya. "Tunggulah di kamarmu sampai ibumu datang!"
Daiki pun hanya bisa mengangguk lemah. "Wakatta ...!"
---
"Arioka belum menghubungimu lagi?" Nakajima Yuto bertanya sembari menyajikan segelas cola dingin ke hadapan Ryosuke.
"Terakhir kali lima hari yang lalu itu," jawab Ryosuke setelah menyesap minuman yang dipesannya.
Tumben sekali, Ryosuke hanya memesan soda sebagai teman minum selagi mengobrol dengan kedua kawannya. Ia teringat pesan Daiki yang melarangnya untuk minum-minum. Walaupun, sebenarnya ia ingin sekali meneguk alkohol untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut sekarang ini.
"Daiki tidak menghubungimu lagi setelah itu?" Gantian Keito yang sedang duduk di bar stools tepat di samping Ryosuke yang menanyakan. "Bukankah itu saat pertama kalinya dia menghubungimu setelah pergi?"
Ryosuke pun mengangguk membenarkan.
"Tidak mengabarimu hingga selama itu, kau tidak curiga terjadi sesuatu pada Arioka selama di sana, Yamada?" Yuto membuat pose berpikir menggunakan tangan di wajahnya.
"Bukankah kau penasaran dengan pria yang menjemput Arioka waktu itu?" sambung Yuto mengingatkan Ryosuke akan curhatannya beberapa hari lalu. "Kau curiga jika orang yang membawanya itu adalah calon tunangan Arioka dulu, 'kan? Bagaimana kalau dugaanmu itu benar? Dan mereka sudah men---"
YOU ARE READING
LOOP ✔
Fanfiction"Takdir kita ... seperti tali simpul yang diuraikan lalu ditemali kembali. Hanya saja, untuk yang kali ini, ikatan itu menjadi lebih erat daripada yang lalu." _______________________________________ Yamada Ryosuke x Arioka Daiki ____________________...
