LOOP - 32

128 18 68
                                        

"Apakah ini ... pemandangan yang dulu selalu dilihat Yamada-san setiap malam?" Daiki bermonolog dengan desau angin yang mempermainkan anak rambutnya. Embusan udara dingin pukul sembilan malam itu agak membuatnya menggigil.

Langit pekat. Bintang-bintang yang berpendar samar di antara mendung kelabu. Bangku di taman tak jauh dari Stasiun Omotesando. Suasana kota Tokyo di malam hari yang tidak pernah senyap yang terlihat di kejauhan.

Entah bagaimana, Daiki akhirnya bisa berakhir di tempat ini. Tempat di mana dia dan Ryosuke pertama kali bertemu beberapa bulan yang lalu.

Dingin.

Sepi.

Sendiri.

... Sekarang aku mengerti perasaanmu dulu.

"Baka! Apa yang kaulakukan di sini, huh? Aku sudah mencarimu ke mana-mana, tahu! Ayo, pulang! Setidaknya kalau mau mencari udara segar, bilang-bilang aku dulu! Bikin orang khawatir saja! Bukan kau saja yang merasa sumpek hari ini."

Daiki diam saja dihujani berbagai macam cercaan dari Ryosuke yang baru saja tiba di sana tersebut. Juga tidak terkejut sebenarnya mengetahui Ryosuke berhasil menemukan dirinya di tempat ini. Daiki pun tidak bermaksud untuk bersembunyi di sini. Hanya masalah waktu saja bagi dirinya untuk ketahuan Ryosuke.

Daiki pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Tidak dipedulikannya lagi Ryosuke yang sedang berjalan menghampirinya. Hamparan gemerlap kota Tokyo di malam hari lebih menarik perhatiannya.

Ryosuke lalu mengambil duduk di bangku tepat di sebelah Daiki. Ia merasa jika saat ini Daiki sedang memendam kekecawaan terhadapnya. Entah karena apa itu, Ryosuke tidak tahu. Namun, setidaknya dia merasa bersyukur masih bisa menemukan Daiki di sini.

Secarik kertas di genggaman tangan Daiki itu pun menarik perhatian Ryosuke. Hingga membuatnya menanyakan, "Apa itu?" dengan mata yang menyorot penasaran pada benda tersebut.

Tidak mendapatkan jawaban dari Daiki, Ryosuke pun berusaha sendiri untuk mengenali jenis kertas tersebut. Ia pun membelalakan mata begitu mengetahui jika itu merupakan sebuah tiket kereta. "Itu tiketmu sendiri? Kau mau pergi? Ke mana?"

Ryosuke kemudian merebut tiket kereta malam itu dari tangan Daiki saat Daiki lagi-lagi tidak mengacuhkan dirinya. Ia membaca tujuan dari tiket yang dibeli Daiki. "Stasiun Nagoya?" gumamnya. Membuatnya berpikir jika Daiki ingin melarikan diri lagi ke tempat lain.

Ryosuke langsung menyobeknya hingga menjadi potongan-potongan kecil yang tak berbentuk. Ia tidak bisa menerima Daiki yang berniat meninggalkan dirinya lagi.

Dan hal itu pun cukup efektif untuk membuat Daiki menoleh ke arah Ryosuke. Bahkan, kini tengah menatapnya dengan mata berkilat amarah. Tanpa tiket itu, tentu saja dia tidak akan bisa menumpang kereta.

"Kenapa kau selalu ingin mengaturku?"

Ryosuke tertegun. Baru kali ini dia mendapati Daiki meneriakinya demikian. Ia masih belum mengerti mengapa Daiki bisa semarah ini padanya.

"Kenapa kau ingin meninggalkanku?" Alih-alih menjawab, Ryosuke malah juga mengajukan pertanyaannya sendiri.

"Aku tidak bisa menghadapi situasi ini. Dan mungkin, keadaan-keadaan lain yang datang di masa depan," jawab Daiki lantang. "Sepertinya kita dikutuk karena awal pertemuan kita yang sama sekali tidak benar. Hubungan di antara kita tidak akan berhasil.

"Andai saja bisa ... aku ingin memutar waktu dan mengulangi ini semua agar tidak terjadi. Aku tidak ingin bertemu denganmu di tempat ini. Aku tidak ingin naik kereta malam ke Tokyo. Aku tidak ingin kabur dari rumah malam itu. Aku akan menerima tunanganku saja saat itu.  Aku, aku ...." Daiki tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak histeris. Hingga perkataannya melantur ke mana-mana.

LOOP ✔Where stories live. Discover now