“Ayah, aku tak mau menikah dengan siapapun, aku hanya ingin menikah dengan Lingga” Teriakku kepada Ayah yang selalu bersikeras untuk memisahkanku dengan Lingga, kekasihku yang sangat aku cintai. Mungkin dimata kedua orang tuaku dia anak brandalan, karena sering balapan liar, penampilannya urakan dan suka mabuk-mabukkan. Tapi bagiku, dia sangat baik, perhatian, dan selalu bisa membahagiakanku dengan caranya sendiri.
“Sampai kapanku Ayah tidak akan merestui kalian, kamu hanya akan menikah dengan Rahman. Dia lebih pantas jadi pendamping kamu dibandingkan dengan anak brandalan itu” Bentak Ayah dengan meninggikan nadanya.
Tangisanku pecah seketika, aku melihat ibu yang berada di depan pintu menatapku iba. Aku tahu, ibu pasti mengkhawatirkanku, namun jika ayah sudah berkehendak siapapun tidak bisa menghalaunya termasuk ibu.
Dalam keheningan malam, tangisanku mengalir tiada henti, tak ada yang bisa aku lakukan selain terus menerus menangis meratapi nasibku juga kisah cintaku yang berujung perpisahan.
***
Hari pernikahanku pun tiba, namun bukan kebahagiaan yang kudapat namun kesedihan yang teramat mendalam. Bagaimana tidak, aku harus menikah dengan pria yang tidàk kucintai sedikitpun, pria yang terpaut sepuluh tahun usianya denganku, pria yang juga guru SMAku, pria yang sebenarnya tidak begitu istimewa, namun mampu meyakinkan keluargaku untuk menjadikan aku sebagai istrinya.
“Wulan, rombongan pengantin pria sudah datang, siap-siap yah” Teriak Riri, sepupuku dari balik pintu kamarku yang sudah dihias sebegitu indah penuh dengan bunga.
Rasanya sudah campur aduk, rona wajah cantikku tak mampu membuatku mempesona karena rintik-rintik air mata terus saja menetes menghiasi pipiku. Entah sudah berapa kali Bu Ajeng membenarkan kembali tatanan riasanku yang sedikit luntur oleh air mataku. Namun aku sudah tidak memperdulikannya.
“Lingga, bawa aku pergi sekarang!!! “
YOU ARE READING
Wulandari (Kenangan Masa Lalu)
Romance"Aku tak ingin berselingkuh, walaupun aku tak pernah mencintai suamiku tapi tak ada niatan untuk mengkhianatinya. Tak pernah pula terbersit dalam benakku untuk menodai mahligai pernikahan yang sudah aku lalui selama 9 tahun bersama suami yang senan...
