Prolog

52 7 1
                                        

Adiba Shafiyatunnisa Anargya POV

Adiba Shafiyatunnisa Anargya adalah gadis dengan beribu derita, itulah julukan yang mereka berikan atau Adiba gadis malang yang menjadi istri kedua atau bla bla bla blaa lagi.

Tidak pernah terbayangkan akan hidup bersama pria yang bahkan belum pasti akan mencintaiku. Aku menyerahkan semua hidupku untuk sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikiranku. Menjadi seorang istri dari suami yang bahkan tidak pernah melibatkan aku dalam rumah tanggaku.

Penderitaan ini di mulai saat ayah dan ibuku mengalami kemiskinan yang mendadak, hingga membuat ibuku terpaksa berpikir keras akan keadaan yang baru saja dialaminya.

Aku hidup bersama keluarga yang berkecukupan, bergelimang harta, namun aku tidak pernah merasa cukup dengan kasih sayang yang diberikan suamiku sendiri, lebih tepatnya suami kami.

Aku anak ketiga dari empat bersaudara, dan aku hanya anak yang menanggung beban yang tidak seharusnya aku dapatkan.

Di usiaku yang baru saja menginjak umur 17 tahun, kini aku mau tidak mau harus menerima untuk menikah dengan pria yang 12 tahun lebih tua dariku. Pria yang seharusnya lebih pantas menjadi kakakku bukan suamiku.

Awalnya aku tidak mau, bagaimana nasibku nanti? Aku menikah dengan status menjadi istri muda, bahkan dengan berat hati aku akan berbagi suami.

Tidak pernah terbayangkan aku menjadi istri ke dua, siap tidak siap aku harus bisa. Bukan karena aku menerimanya, ini adalah keputusan yang terbaik agar semua membaik.

Suamiku menikahiku bukan karena sayang atau mencintaiku, ini terjadi karena pernikahan pertamanya belum dikaruniai buah hati.

Hal yang aku takutkan hanya dua. Suamiku yang tidak sama sekali tidak menyayangiku, dan hanya dijadikan mesin anak.

¤¤¤

Unnaya Mikayla POV

1 tahun sebelumnya....

"Bang Diwan. Bang," panggil Unna kepada abang Diwan yang sebentar lagi terlelap dalam tidurnya. Maapin Unna ya bang, ganggu tidurnya abang.

"Iyaa. Kenapa," sahut Abang lemas. Unna tahu itu bukan karena abang malas menjawab, Unna liat abang cape sekali dan ingin segera tidur.

"Unna mau ngomong," rayu Unna yang kesal karena abang hanya membelakangi seperti benar-benar tidak ingin diganggu. Ayolah bang Unna mau ngomong serius.

"Ngomong aja. Abang dengerin nih," Abang menguap. Kini Unna benar-benar kesal.

"Abang," Unna meninggikan suara, maap bang maap, habisnya sih abang gak mau ngobrol dulu sebentar.

Diwan Pranaja adalah suami Unna. Kami sudah menikah sejak 5 tahun yang lalu. Meski selama itu kami belum juga di karuniai sosok bayi. Rumah tanggan Unna hampa tanpa kehadiran bayi. Unna sudah ingin menimang bayi, memberinya ASI hingga saat ini Unna sudah belajar bergadang hanya untuk berlatih agar nanti Unna terbiasa bangun tengah malam jika bayi terbangun minta ASI. Sudah beberapa cara kami ikuti, dari yang mudah hingga yang sulit, dari yang murah hingga yang mahal. Namun nihil tidak membuahkan hasil. Hingga Unna konsultasi dengan beberapa Dokter kandungan tanpa sepengetahuan Abang hanya untuk menanyakan kenapa tidak bisa mendapatkan bayi.

"Iyaa Unnaku sayang. Ututuuuu kenapa," Unna tahu kali ini Abang sedang merayu.  Karena abang tidak bisa membiarkan Unna kesal. Memang abang sering begitu, bahkan terkadang sengaja hanya untuk melihat Unna ngomel-ngomel. Katanya itu lucu, tapi Unna selalu merasa naik darah dibuatnya.

"Abang mau gak?" Manja Unna dalam mode on. Abang  melongo, antara mengerti dan tidak mengerti. Ayolah bang pahami dulu.

"Mau gak?" Lanjut Unna tak sabaran.

Love is UntlittedStories to obsess over. Discover now