enam: mekdi

1K 26 0
                                    

Karna hari ini aku libur. Akupun memutuskan untuk pergi ke Mcd.

Daripada jadi kayak kalian yekan.

Kaum rebahan.

Sesampainya disana, aku langsung memesan cheese burger favoritku. Tanpa acar dan bawang.

Setelah selesai dengan pesanan dan bayaran. Aku segera mencari tempat duduk yang kosong.

Dan gotcha, di dekat pintu masuk.

Sebenarnya aku sangat benci fakta bahwa aku harus makan sendiri ditempat seramai ini. Tidak ada orang yang bisa ku ajak ngobrol. Tidak ada orang yang akan mendengarkan komplainan ku tentang banyaknya kekurangan di pesananku kali ini.

100% membosankan.

Saat tengah asik makan aku melihat sosok lelaki dengan setelan serba hitam serta bertubuh gempal.

Bukan.

Bukan gendruwo.

Aku bisa memastikan bahwa dia adalah Septian.

Jelas sekali.

Aku bohong saat bilang dia bertubuh gempal karna nyatanya itu tidak benar dan itu termasuk bodyshamming.

Saat aku melihat kearahnya sekali lagi, dia juga menangkap tatapan ku.

Sial.

Dia tersenyum.

Double sial.

Dia berjalan kearah ku.

Tripple sial.

Dia benar-benar menuju ke arah ku.

Demi apapun, bisakah aku menghilang saja dari sini?

"Sendiri?" tanya nya begitu berdiri dihadapanku yang hanya kubalas dengan anggukan kepala.

"Boleh duduk disini?"

Pengen ga bolehin sih

Tapi kasian. Mana mekdi rame amat kayak pasar loak.

Lagian kapan lagi yekan bisa makan bareng Septian.

"Iya boleh" aku akhirnya mempersilahkan dia untuk duduk dimeja yang sama dengan ku.

Ekhem. Awkward

"Cuman singgah makan? Atau masih mau keliling habis ini?" tanyanya lagi.

"Cuma makan mas" Septian mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawabanku.

"Nama kamu siapa? Ma.."

"Femma" tukas ku cepat.

"Ah iya. Femma. Mama"

Oke. Septian keterlaluan dalam melesetkan namaku. Mama? Huh memangnya aku terlihat seperti ibu - ibu? Memangnya wajah ku sudah terlihat seperti mama - mama diluar sana?

Jelas tidak.

Terakhir kali ada yang menanyakan mengenai umur maupun kelasku. Sebagian dari mereka justru menganggap aku seorang siswi SMP.

Ah babyface ku.

Mama?

Yang benar saja Septian.

Atau maksudnya mama untuk anak - anaknya kelak? Ah bisa saja.

Aku asik dengan khayalanku sendiri. Mengabaikan makanan serta Septian yang duduk didepanku.

"Kapan habisnya makanan kamu kalo melamun terus" Suara Septian mengalihkan fokusku.

"Oh iya" Aku pun menyantap makananku.

***

Update lama. Chapter pendek.
Beneran taon depan kan update nya wqwq.

Next chapter bakal lebih panjang kok. Ga janji tapi :'

SeptianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang