Langit yang biru, embun yang menetes basah di rerumputan, dan suasana yang mulai menghangat oleh senyuman sang surya dari ufuk timur dengan sinarnya disela-sela daun yang rimbun menandakan pagi yang cerah.
Seperti pagi yang biasa, suara riuh sudah terdengar dari sebuah bangunan rumah di area perkomplekan tak padat penduduk. Penghuninya adalah seorang janda paruh baya dengan kedua putrinya yang hendak beranjak dewasa dan satu putra yang masih duduk dibangku sekolah dasar.
Janda tersebut bernama Naura, atau sering dipanggil Bunda Naura oleh warga sekitar. Putri sulungnya bernama Arisa Putri, akrab dipanggil Aris. Anak kedua Maelin Dwina, dipanggil Maelin. Dan yang bungsu bernama Faisal Anam, dipanggil Ical.
“Anak-anak! sini sarapan dulu!” Teriak Naura kepada ketiga anaknya sembari menyiapkan sarapan yang berjejer rapi diatas meja makan.
“ Iya bunda bentar!” Jawab ketiganya mantap, hingga menimbulkan gelak tawa diantara mereka karena serempak menjawab panggilan sang bunda.
Seluruh rumah bergema hingga mereka saling mendengar satu sama lain walaupun berada diruangan yang berbeda. Maelin sendiri berada diruang tamu, Aris didalam kamarnya yang berada dilantai bawah yang dekat dengan ruang tamu, Ical berada di kolam renang samping dapur, dan sedangkan Naura berada didapur yang langsung berhadapan dengan ruang makan dan ruang tamu.
“Mmmm… bunda, lihat name tag Maelin nggak?” Tanya Maelin yang sedikit kebingungan menghampiri Naura karena dari tadi Ia hanya mondar-mandir diruang tamu sambil celingak-celinguk dan membongkar apa saja yang tertutup.
“Name tag?” Tanya balik Naura dengan otaknya yang masih berdiskusi.
“Itu lho, pin persegi panjang yang ada nama Maelin disana” Jelas Maelin membantu ingatan sang bunda. Terlihat jelas raut wajahnya yang kebingungan.
“Ooo, tadi bunda lihat dipegang sama adik mu” Naura hanya membulatkan mulutnya dan masih sibuk menata meja makan.
“Ical? Icaaaal balikin name tag gue!” Teriak Maelin geram kepada adiknya yang kelewat nakal itu.
Mendengar namanya dipanggil, Ical langsung menghampiri sang empu suara dengan malas. “Iya iya nih! Gak usah marah-marah juga kali, dasar galak.” Seru Ical yang lebih kesal sambil memberikan benda yang dicari Maelin. Entah apa yang dilakukannya dengan dengan barang sang kakak.
“Biarin” ejek Maelin sambil menjulurkan ujung lidahnya.
“Cih! beruang galak” Gumamnya seolah sedang marah, namun ketika Maelin menjauhinya, ia mulai nyengir memperlihatkan gigi kelincinya.
“huh!!” Maelin berbalik dan kembali memandang adiknya. Dan sesaat kemudian, Ia memalingkan wajahnya melihat raut sang adik yang dibuat-buat seperti orang yang sedang marah.
Ia tak mau berurusan dengan adik nakalnya itu dan memilih untuk berangkat sekolah saja. “Daah semuanya! Bunda, Maelin berangkat dulu.” Maelin mencium pipi sang bunda sebagai tanda pamitan.
“Kamu gak sarapan?” Tanya Naura seraya mengolesi mentega diatas sebuah roti tawar.
“Nanti aja bunda. Eh! Maelin bawa ini aja, satu” Maelin mengambil roti yang sudah diolesi mentega oleh bundanya.
“ Dasar anak ini. kebiasaan” Gerutu Naura sambil menggelengkan kepalanya heran pada kelakuan anak keduanya itu hingga menimbulkan kekehan dari Maelin.
“Tunggu Lin! Kita barengan” Pinta Aris yang tergesa-gesa menghampiri Maelin dengan berbagai macam buku di tangannya.
Maelin menyernyitkan dahi bingung sebelum membuka suara “Nggak deh, gue nggak mau repot kayak kemarin. Lagian kampus lo beda arah sama sekolah gue, kak. Mending lo bawa motor aja gih! Hari ini gue mau naik bus ke sekolah” Maelin yang berhenti diambang pintu berbalik melihat sang kakak yang memanggilnya dengan keadaan super ribet.
YOU ARE READING
MAELIN DWINA (Who Are You?)
Teen Fiction☡☡☡ Cerita ini telah dihapus dan difublish kembali... sehingga akan diulang dari part awal.. ==================================== Pertemuan Maelin dan Dimas mengingatkannya kembali pada kejadian masalalu yang kelam... Apa selanjutnya yang akan merek...
