“Kalo emang gak suka, jangan seolah bersikap kalo kamu suka sama saya”
‘’’
“AYLAA!!! CEPETAN PAKE BAJUNYA NAK. DEANO UDAH NUNGGUIN DARITADI” suara menggelegar tersebut membuat Ayla, gadis mungil yang sedang bersiap-siap sekolah itu terburu-buru sambil berdecak kesal.
“ck. Iyaa mah iyaa, lagian si Deano bego apa gimana sih, masih pagi banget jemputnya. Heran gue. Terlalu rajin anaknya” Ayla ngedumel seraya mengambil tasnya di atas meja belajarnya.
Lalu ia keluar kamar dan menghampiri Mamanya yang teriak tadi. Kebiasaan anak itu memang ngedumel terus.
Ayla Shasiera, adalah seorang siswi kelas sebelas di SMA Tarumanegara yang ada di Ibukota. Dan yang sedang menunggunya di ruang tamu adalah sahabatnya sejak kelas 1 SMP. Deano Redira. Selama hampir lima tahun mereka menjalin hubungan sahabat tanpa ada yang tahu perasaan mereka masing-masing selama ini. Tapi mereka tidak mengambil pusing hal itu, toh yang mereka inginkan adalah kebersamaan dan kepercayaan.
“Den! Gue udah bilang ke lo, kalo jemput jangan pagi banget napa! Guenya jadi buru-buru nih” omel Ayla seraya memakai sepatunya. Sedangkan yang diomeli sedang asik menyantap sarapannya di meja.
“Ayla.. kamu apa-apaan coba. Udah baik Deano mau jemput kamu. Kalo telat aja ngambek kamu pasti” ucap mamanya membela Deano.
Apa-apaan itu Mamanya, yang anaknya disini Deano atau Ayla. Ya begitulah setiap hari perdebatan kecil di Pagi hari. Walaupun Mamanya seringkali mengomelinya semacam itu, tapi Ayla tetap sayang sama Mama tercintanya itu.
“Bener tuh kata tante Vera. Lo harusnya bersyukur gue jemput gini tiap hari. Makasih banyak ya tante sarapannya. Deano jadi enak nih kenyang hehe” ucap Deano seraya memperlihatkan cengiran giginya.
Ayla memutar bola matanya. Malas kalo sudah mendengar ocehan Deano yang songong itu. Bisa-bisanya dia bersikap seperti anak mamanya saja. Tapi wajar saja, karena Ayla dan Deano hampir setiap hari ketemu walaupun liburan dan itu membuat Mamanya Ayla menganggap Deano sudah seperti anaknya. Malah Mamanya itu mewajarkan sikap Deano yang seenaknya saat dirumahnya itu. Ralat. Dirumah orang tuanya. Dan kebetulan rumah mereka yang hanya berbeda Blok saja, yang membuat Deano mau mau saja mengantar jemput Ayla itung-itung juga sarapan gratis karena jujur saja Ibu Deano sudah meninggal dua tahun yang lalu.
“ihh udah ah. Cepetan abisin makanan lo. Otw sekarang!!”
Ayla menyalimi tangan Mamanya diikuti oleh Deano dibelakangnya. Tak lupa ia mengambil dua bekal yang ada di meja makan. Bukan. Bukan untuk Deano satunya. Tapi untuk sarapannya di Mobil dan makan sianngnya. Gini-gini cewek mungil dan pemarah ini makannya banyak tetapi lebih mengirit. Itung-itung menambah tenaga buat marah-marahin sahabatnya itu yang ngeselin.
“Mah aku berangkat ya. Nanti aku pulangnya agak sore, soalnya mau ngerjain tugas sama Dira”
“Hati hati di jalan kalian. Deano jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!”
“Siappp tante. Aman kok tenang”
Setelah Ayla duduk di kursi depan dan Deano duduk di kursi kemudi, Deano langsung menancapkan gasnya menuju sekolah. Ayla langsung menyambungkan lagu dari ponselnya ke radio mobil Deano. Karna jika tak ada musik, keheningan yang akan menguasai keadaan dua manusia itu. Walaupun Ayla sedang sarapan dan Deano yang menyetir tetap saja hening. Maka Ayla lebih suka menyetel musik.
”Oyy kambing” panggil Deano yang dibalas gumaman oleh Ayla yang sedang asik sarapan.
“pulang sekolah lo mau ngerjain tugas dimana emang sama Dira?” tanya Deano yang tetap serius matanya menatap jalannan di depan tapi sesekali melirik Ayla.
YOU ARE READING
S h o u l d ?
Teen Fiction'Should stay or leave?' Ayla bingung sama laki-laki. kenapa mereka selalu berbuat seenaknya tanpa mikirin perasaan perempuan. seenaknya aja deketin tanpa tanggung jawab! Deano. Sahabat Ayla yang tapinya suka bikin Ayla melting. Nganggapnya sih saha...
