Makalah Atau Masalah?

136 4 2
                                        

Sebuah pertemuan adalah misteri. Sebuah perkenalan adalah pertanda, bahwa yang terjadi selanjutnya adalah pertemuan kembali atau perpisahan selamanya.

---

Tepat di minggu ke 5 setelah Sekar Shintyana Lestari memasuki awal perkuliahannya, ia memutuskan bergabung dengan sebuah organisasi mahasiswa yang bergerak dibidang tulis menulis.

Pada awalnya ia hanya mencoba-coba. Jika ia nyaman dengan organisasi tersebut ia bisa saja bertahan. Tetapi jika tidak, mungkin saja ia akan memutuskan keluar. Hal tersebut tampaknya sudah lumrah dan sering terjadi secara alamiah seperti seleksi alam di lingkuangan perorganisasian. Dimana yang bikin nyaman akan bertahan dan bikin sakit kepala akan keluar.

Tentunya yang bikin sakit kepala bukan hanya tentang organisasi, tetapi juga tentang tugas kuliah yang semakin hari semakin bertambah banyak. Apalagi untuk mahasiswi baru seperti Sekar yang masih dalam tahap beradaptasi. Mengatasi satu makalah saja tidak ada selesainya dan malah bikin pening kepala.

Dan dari sanalah semua bermula. Dari sebuah makalah yang harus Sekar kumpulkan sebelum deadline, ia malah dipertemukan dengan seseorang yang mampu membuat kinerja otaknya lebih lamban dari biasanya dan membuat jiwa perhaluannya menjadi meronta-ronta.

Ketika itu, jadwal presentasi sekar diajuakan. Dari yang awalnya dua minggu kedepan malah menjadi minggu depan. Hal tersebut tentu saja membuat Sekar pusing 7 keliling. Ditambah lagi beberapa makalah yang masih bercecer antah berantah.

Sekar harus segera memutar otak sekarang, waktunya sudah mepet jika dia masih ingin bermalas-malasan. Apalagi tubuhnya yang masih saja menempel di kasur. Kasur Sekar memang posesif sekali.

Drrt

Ponsel Sekar mengeluarkan bunyi dari 10 menit yang lalu. Dan sekar masih saja enggan beranjak dari kasur kesayangannya. Padahal jarak ponselnya dengan kasurnya hanya terpisah satu meja dan masih bisa ia jangkau. Tapi itulah sekar ketika tingkat kemagerannya melambung tinggi.

Dengan enggan dia segera beranjak dari kasur menuju ponselnya. Netra sekar membola sempurna. Dengan ragu ia mengangkat panggilan di ponselnya.

"SEKAR!" Teriakan seorang gadis diseberang sana memekakkan pendengaran Sekar. Dia menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya sembari mengurut dadanya agar bersabar dengan si penelepon.

"10 MENIT LAGI, KALO NGGA SAMPE SINI GUE SERET LO KE KAMPUS."

Sekar masih membisu, dia mengingat-ingat. Bukankah hari ini hari libur, lantas kenapa ia harus ke kampus.

"LO MASIH DI SANA KAN KAR?"

"Iya, Ris. Ngga usah teriak-teriak kenapa sih. Nanti suara lo ngilang gue ngga tanggung jawab loh." ucap sekar dengan wajah polosnya.

Sedang si penelepon terdengar menghela nafasnya beberapa kali. Tampaknya si penelepon harus memupuk kesabaran extra jika sudah berhubungan dengan sekar dan tingkat kepikunan gadis itu yang di luar batas.

"Lo ngga lupa kan kalo hari ini kita mau ngerjain makalah buat presentasi minggu depan?"

Netra sekar membola, dia menepuk dahinya yang suka melupa. Okaay jangan salahkan dahi sekar. Karena sekar memang memiliki kepikunan akut.

Tanpa perlu berbasa-basi lagi, sekar langsung saja meninggalkan kasur kesayangannya itu. Sekarang ia harus mengutamakan tugas yang akan menjadi riwayat nilainya semester ini. Okeelah sekar terlalu lebay, tapi sekar sudah tidak memiliki waktu lagi. Jika dia telat sedikit saja, Risa akan memarahinya habis-habisan.

Different ( ON GOING) Stories to obsess over. Discover now