PROLOG

12 0 0
                                        

" Jangan pernah menilai orang dari luar nya saja. Tapi kalo emang muka nya ngeselin, gapapa kata-katain aja." - Kayla

Kayla POV

Juli, 2017

Hari itu, untuk pertama kalinya gue memasuki dunia anak SMA. Banyak orang bilang, disini akan ada begitu banyak cerita-cerita yang tak akan terulang dalam hidup. Disekolah ini gue menjadi siswa baru dengan anak-anak lainnya, rasanya semua terlihat asing. Gue lagi ngga beruntung kepisah sama temen segugus yang lolos masuk jurusan IPA, sedangkan gue ke jurusan IPS sendiri. Rasa sedih pasti ada, tapi gue coba buat jalanin semuanya. Salah gue si, waktu test penjurusan ngga ada persiapan sama sekali.

Seminggu menjadi siswa baru, gue sudah punya teman yang dulu sewaktu smp satu les. Tapi kesan pertama gue, di kelas ini bener-bener ngerasa ngga nyaman. Karena anak-anaknya yang ngga berbaur, sebagian besar anak perempuan mainnya berkelompok. Dan gue masuk ke dalam ruang lingkup temen-temen baru gue yang juga pada berkelompok.

Hingga sebulan lamanya, anak perempuan di kelas pada gosip-gosip. Tentang si anak cowok yang udah 1 bulan dispen ngga masuk sekolah, karena dipilih jadi anggota pengibar bendera buat 17 an kemarin.

Hari ini cowok itu masuk. Bener-bener ngga sesuai sama yang digosip in. Menurut gue, biasa-biasa aja orangnya. Lucunya lagi, anak-anak cewek di kelas gue berlomba-lomba untuk hari piketnya bisa bareng sama cowok itu, Hell.

" Kay, menurut lu gimana? ganteng kan orangnya? Udah gitu manis lagi kalo senyum." ucap wina antusias.

" Mmmm, biasa aja. Sama aja si ngga ada bedanya, sama-sama cowok." ujar gue menilai.

Wina menatap gue heran." Lu normal kan?"

Mendengarnya, membuat gue refleks pukul kepala si wina dengan pensil yang sedang gue pegang.

Tukkk

" Awwsh, sakit anjir, kay. Kejam bener lo mah!" ujar wina mengelus-elus kepalanya.

" Ya lagi, pertanyaan lo aneh-aneh aja. Jelas gua NORMAL. Bisa bedain mana COWOK mana CEWEK." jelas gue.

" Ah, bukan itu maksud gue. Terserah lo deh ya" ujar wina yang kelihatan mulai frustasi.

Singkat cerita, tapi Takdir Tuhan berkata lain. Gue bahkan ngga hanya bisa kenal dia sebagai teman sekelas, sekarang gue malah jadi temen deket dia. Kenapa bisa gini?
Semua berawal dari tugas guru bahasa sunda. Anak-anak di tugaskan untuk mencari informasi tentang wayang. Fyi, gue sama temen gue kekurangan 2 orang anggota karena kita cuma ber 5. Dan akhirnya, di tambah 2 orang cowok.  Satunya pacar nya temen gue. Nah, satu nya lagi si cowok itu, karena kebetulan dia juga belum punya kelompok. Akhirnya, dari sana gue mulai bisa ngobrol sama dia.  Ya karena sekelompok, mau nggak mau harus ada yang dibicarain kan? Benar kata orang, jangan pernah menilai seseorang hanya dari covernya saja. Gue akuin, gue salah. Udah nilai dia dari covernya aja. Ya tapi, gimana gue ngga sensi. Coba kalian bayangin, awal-awal masuk aja dia udah nunjukkin muka sok nya? Gaya nya tengil abis, dan juga uuh caper banget pokoknya. Tapi setelah gue kenal dia, ternyata anaknya asik juga, hehehe. Btw, kalian belum gue kasih tau namanya ya? Namanya itu, Rafka. Orangnya tinggi kaya jalangkung, warna kulitnya sawo matang.  Dia punya rambut yang menurut gue unik, karena ada poni ditengah-tengahnya. Manusia yang paling nyebelin, tapi anehnya dia ngga pernah marah sama semua kelakuan gue. Dia selalu ada waktu gue butuh, bahkan ketika dia lagi sibuk-sibuknya sama ekskul tercintanya. Dia selalu bisa jadi pendengar yang baik. Dia manusia ter-kampret yang tiap kali  jalan berdampingan sama gue itu selalu ditegak-tegakin dimana pun itu, Catet. Bahkan itu sampai sekarang, kan gue jadi keliatan pendek-_- gue tau dia anak paskibra, emang harus banget apa waktu jalan sama gue harus kaya gitu? Dikira mau gerak jalan?

" Ka, mau tau kesan pertama gue waktu liat lo?" ujar gue dengan rafka, yang kini berada disamping gue.

" Udah tau, dari muka lo keliatan banget punya aura-aura kebencian mendalam sama gue. Bener kan?" jawabnya dengan nada menuduh.

" Hahaha, tapi ngga sealay yang lo bilang tadi juga kali. Ya lagi, siapa suruh punya muka songong gitu." ujar gue tak mau kalah.

" lo nilai orang dari covernya aja si, la. Kebiasaan jelek jangan dipelihara." nasihat rafka sok bijak.

" Yaa tapi kan--- pernah denger CEWEK selalu BENAR?" ujar gue dengan tersenyum mengejek kearahnya.

Rafka membuang muka dengan mendengus sebal. " IYA TERSERAH LO, CEWE EMANG SELALU BENAR."

Kayla tertawa penuh kemenangan, kemudian lama-kelamaan tawanya terhenti. Memperhatikan rafka yang kini berada dihadapannya, membuat rafka yang merasa diperhatikan menoleh kearahnya dengan pandangan bingung.

Rafka menaikkan sebelah alisnya." Kenapa?"

" Kok kita bisa deket kaya sekarang ya?" tanya kayla.

Rafka menggidikkan bahu, tanda ia juga tak tahu.

" Mungkin udah takdirnya buat barengan terus" jawab Rafka asal.









HALLO GAIZ,
JANGAN LUPA VOTE AND COMMENT YA.
-peluk hangat dari RAFKA :)

The ReasonNơi câu chuyện tồn tại. Hãy khám phá bây giờ