Pengantin Bermata Sendu
Entah apa yang telah hadir dalam mimpinya kemarin malam, hingga datang lah hari ini. Hari dimana ia akan menikah dengan seorang laki-laki asing yang tidak ia kenal. Pasalnya ia baru saja kehilangan suami tercintanya yang meninggal karena kecelakaan tunggal saat di perjalanan pulang kerumah usai bekerja. Risa Ananti Putri, gadis berdarah minang jawa dengan paras yang sangat manis, serta hijab panjangnya yang menjuntai menambah keanggunan dirinya. Dan tepat hari dimana masa iddanya berakhir orang tuanya menginginkannya untuk menikah lagi dengan laki-laki pilihan mereka. Bukan tak ingin memberontak, hanya saja ia tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan dan membantah apa yang orang tuanya kehendaki atas dirinya. Hanya sekali penolakan sudah cukup untuk membuatnya pasrah dan menyetujui perjodohan itu. Sampailah pada hari ini, ia akan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya itu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Risa Ananti Putri dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 25gram dibayar tunai.” Jawab laki-laki itu dengan tegas dan sekali tarikan nafas.
“Bagaimana para saksi? Sah?” Tanya pak penghulu kepada seluruh para saksi yang ada di ruangan itu.
“Sah…”
“Sah…”
“alhamdulillah, barakalahu lakuma wa baraka’alaikuma wa jama’al bainakuma fii khair...”
Kata sah dan doa pengantin pun menggema keseluruh ruangan yang sengaja didekor dengan nuansa biru putih itu. Diruangan itu ada seorang laki-laki berjas dan berpeci hitam yang baru saja berikrar kepada tuhannya.Yang kini teleh mendapat amanah dan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya.Alvino Saaih Sagara laki-laki yang kini telah resmi menjadi suami Risa. Laki-laki yang memilikihati yang sangat dingin, satu-satunya laki-laki yang dulu pernah menarik hati Risa, yang ia sembunyikan dengan sangat rapat dan rapi, tanpa berani menegurnya tanpa berani berkata sepatah katapun padanya.Laki-laki yang namanya pernah terselip dalam doa-doa Risa.Tapi itu dulu, bertahun-tahun yang lalu saat mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Dulu, jauh sebelum ia bertemu dengan Hasan Almarhum suaminya, sebelum Hasan meminangnya dan memintanya menjadi istrinya.Sebelum Hasan mencuri hatinya secara utuh.
Di ruangan lain Risa tengah duduk di hadapan cermin yang menampakkan pantulan dirinya sendiri, dilihatnya dengan pandangan kosong seorang pengantin dengan pakaian serba putih, dengan hijab yang masih tetap panjang menjuntai dan selendang serta tiara yang semakin memperindah penampilannya hari ini. Siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum dengan paras yang dimiliki oleh wanita itu. Namun siapa sangka sorot matanya yang sendu membuatnya menjadi berbanding terbalik dengan penampilannya yang sangat menarik perhatian setiapmata memandang.
“Nduk, keluar yuk. Suamimu dan para tamu sudah menunggu diluar.”Kata Laila ibunya Risa dengan lembut.
“Iya buk.”Jawab Risa dengan senyum seadanya lalu menyambut uluran tangan ibunya yang menggenggam erat tangannya keluar dari kamar pengantin.
Saat ia keluar dan duduk bersanding dengan suaminya, seluruh mata punmemandangnya dengan penuh kekaguman. Alvino dengan ketampanannya dan Risa dengan wajah manisnya, pasangan yang sangat serasi.
Pernikahan itu digelar di sebuah hotel dengan sangat sederhana, namun tetap tidak meninggalkan kesan elegan yang menggambarkan kedua keluarga besar itu.Hanya sanak saudara dan beberapa rekan dekat yang di undang ke acara pernikahan itu. Setelah Risa menjumpai beberapa kerabat dan keluarganya, ia melihat laki-laki yang kini menjadi suaminya sedang berada sendiri memandang kearah luar dari balkon gedung tempat pernikahan mereka dilaksanakan. Meski menikah yang tanpa sedikitpun didasarkan oleh cinta, namun Risa tetap berusaha menyadarkan dirinya bahwa kini ia memiliki keharusan melayani suaminya dengan baik, mematuhi apa yang dikatakannya dan memenuhi segala kebutuhannya. Dengan perasaan yang sulit digambarkan ia pun melangkah mendekati Alvino.
“Maaf, mas mau makan? Biar Risa ambilkan ya.”Tanya Risa lembut dengan kepala yang menunduk.
“Gak usah.” Jawab Alvino yang langsung memalingkan wajahnya dan beranjak pergi dari sana.
Entah mengapa, tetapi mendengar penolakan dari suaminya itu membuat rasa sesak menjalar kedalam dadanya, rasayang bahkan tidak bisa digambarkan olehnya.Yang tanpa ia sadari ada setetes air yang lolos dari ekor matanya dan membasahi pipinya.
“Sabar sa, sabar. Masih banyak tamu jangan nangis.Aku mohon ya Allah, tolong kuatkan aku.”Katanya dalam hati.
Acara pun berlalu dengan khidmat, Risa sangat mampu menyembunyikan kesedihan mendalamnya dengan senyuman yang ia berikan kepada semua tamu. Alvino yang berhati dingin pun mampu berbaur untuk menjaga kehormatan kedua keluarga besarnya. Meski perlakuannya kepada Risa masih tetap sama, dingin, tak banyak bicara meski hanya sekedar basa basi.Acara pun selesai, semua sudah meninggalkan ballroom dan kembali ke kamar masing-masing.Begitu juga dengan Risa dan Alvino.Meski sudah menjadi suami istri baik Risa maupun Alvino masih belum terbiasa bersama dalam satu ruangan.Mereka mengganti pakaian mereka di kamar mandi secara bergantian, dan Risa masih belum berani melepas hijabnya di hadapan Alvino. Selama acara berlangsung meskipun sedang memakai balutan busana pengantin baik Risa maupun Alvino tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, meski harus berulang kali membasuh dan memakai makeupnya sesudah shalat, namun ia tidak masalah. Risa tetap menjaga shalatnya sebagaimana hari-hari biasanya. Dalam shalat Risa selalu berdoa memohon kekuatan dari tuhannya, tak jarang sesekaliiamengeluarkan air matanya dan meminta maaf kepada Almarhum suaminya didalam doa. Dalam benaknya, ia berfikir wanita mana yang baru saja ditinggalkan pergi oleh suaminya menghadap sang khaliq kurang dari 4 bulan sudah menikah lagi dengan laki-laki lain? Dan kini ia merasa menjadi wanita yang sangat jahat.
“Mas mau langsung istirahat?”Kata Risa dengan lembut saat melihat suaminya telah selesai membersihkan diri di kamar mandi.
“Mau keluar dulu cari angin.Tidur duluan saja, tidak usah menunggu.”Kata Alvino kembali dengan hati dinginnya.
“Mas.”Panggil Risa dengan hati-hati.
“…” Alvino yang merasa dipanggil pun menghentikan langkahnya dan memandang datar wajah Risa.
“Boleh Risa panggil Mas Alvino dengan sebutan Mas Saai?”Tanya Risa dengan ragu.Melihat Alvino yang tetap diam ditempatnya membuat Risa menjadi merasa bersalah.
“Risa suka nama tengah mas, tapi kalau gak bol…”
“Boleh.”Jawab Alvino dan langsung beranjak pergi.
Semalaman Risa menunggu suaminya dikamarnya namun suaminya tak kunjung kembali. Meski ibunya Laila telah memberikan nomor Saai kepadanya,namun hingga kiniia masih takut untuk menghubungi langsung suaminya itu. Dilihatnya jam di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 02.15 dini hari dan Risa masih tetap menunggu suaminya kembali.
“Apa mas Saai masih gak mau sekamar denganku ya?”
“Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Tadi mas bawa kunci cadangan gak ya?”
Ada banyak pertanyaan muncul di benaknya hingga akhirnya ia tertidur di sofa dengan wajah yang menghadap kearah pintu. Berharap pintu itu segera terbuka dan ia melihat suaminya dengan keadaan keadaan yang baik-baik saja.
“Kreeekk…” Pintu kamar itu pun terbuka.
“Assalamualaikum.”Salam Saai dengan suara yang berbisik.
Tak ada balasan dari salam yang ia katakan, membuatnya yakin bahwa istrinya telah tertidur. Beberapa saat kemudian langkahnya pun terhenti melihat Risa yang tertidur di sofa kamar mereka.Terlihat jelas diraut wajah Risa betapa lelah dirinya saat itu. Dengan hati-hati ia menganggat tubuh mungil Risa dan membaringkannya di atas kasur, menyelimutinya dan menatap wajahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
YOU ARE READING
Risaaih
RomanceSINOPSIS Ketika waktu memaksa untuk bangkit dari keterpurukan. Ketika waktu memaksa untuk terus bersabar diatas luka yang masih saja basah. Ketika waktu meminta untuk terus tunduk atas apa yang menjadi hak. Ketika dunia menjadi gelap ditengah cerahn...
