01 • Prolog

127 30 60
                                        

Untukmu yang sedang dikecewakan berulangkali, semoga segera dipertemukan dengan yang seseorang yang tulus mencintai.

🍁

"AKSAA GUE SUKA SAMA LO, MAU GAK JADI PACAR GUE?!"

Teriakan seorang gadis yang berusaha menahan malu karena telah menjadi perhatian hampir seluruh murid SMA Genus yang sedang berada dikantin atau di lapangan, membuat mereka yang tertarik merapatkan diri berkumpul membentuk lingkaran disekeliling gadis itu. Apalagi gadis itu beraksi pada jam istirahat pertama berdering, saat kantin sekolah sedang ramai-ramainya karena mereka sibuk mengisi perut mereka untuk jam pelajaran kedepannya.

Sorakan dari murid yang meneriaki kata 'terima' bergema disekeliling sekolah, membuat sekumpulan lelaki di ujung koridor yang menatap semangat kearah lapangan seketika menoleh saat orang yang dimaksud gadis itu menghampirinya dengan tatapan tajam serta dingin.

"Jangan gila." sentak orang itu, membuat sorakan para murid berhenti seketika. Tak berlangsung lama karena orang itu bergegas meninggalkan kerumunan itu dan gadis yang tadi 'menembak'-nya dilapangan sekolah.

Sedangkan disisi lain, gadis itu memandang punggung orang yang menjauh dengan tatapan nanar dan kecewa. Banyak pasang mata yang menatap gadis itu dengan tatapan prihatin seakan tau kesedihan yang sedang dialaminya.

Perlahan demi perlahan mereka membubarkan diri, apalagi saat mendengar waktu istirahat telah selesai membuat mereka dengan terpaksa kembali ke kelas nya untuk melanjutkan pelajaran.

"Udah ya Vin, lo gak boleh gini lagi please? Gue gamau kalo nanti lo masuk bk." ucap gadis lain yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya dibelakang.

"Iya Vin, mahluk yang namanya cowok itu masih banyak kok. Percaya sama gue pasti banyak yang suka sama lo." sahut gadis yang lain.

"Ayo ke kelas." ajak gadis yang sedari tadi menonton aksi sahabatnya itu. Yang kemudian ketiga gadis itu memapah gadis yang terduduk semenjak penolakan dan kepergian orang itu dari hadapannya.

"Makasih banyak ya Fir, Nan, Key."

Ditempat lain, sekumpulan lelaki yang terdiri dari beberapa most wanted SMA Genus itu masih tertawa melihat aksi gadis tadi dilapangan.

"Gilaa, nggak pernah nyerah ya si Vina. Padahal udah sering ditolak si Aksa masih aja begitu." celetuk seorang lelaki dengan jas almamater sekolah.

"Gue penasaran deh, Aksa kalo ditembak sama Vina kira-kira jantungnya deg-degan gak yah. Flat mulu anjir muka nya." celoteh lelaki yang lain.

Celotehan 4 murid laki-laki itu terhenti karena orang yang mereka perbincangkan sedang berjalan kearah mereka, dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celana dan wajah yang selalu datar serta tatapan dingin yang dipancarkan tak membuat pesona laki-laki ini hilang.

"Sa, lo deg-degan gak?" sahut satu dari tiga laki-laki yang berkumpul.

"Pertanyaan gak bermutu anjir." tawa laki-laki yang lain. Tawa yang selalu menular ke yang lain karena terdengar begitu lucu jika mendengarnya.

"Tau lo sev, pertanyaan retoris itu." sahut yang terakhir bicara karena dia yang sedari tadi menyimak.

"Masuk! Pak Riko udah dikelas." ucap si rajin yang berwajah datar.

"Ay ay captain. Ayo woi masuk, jangan bikin ketkel kita yang ganteng ini ngambek."

"Ayo dah."

"Berangkattt."

Keempat murid lelaki itu bergegas memasuki kelas nya, yang tak mereka sadari bahwa sang ketua kelas terdiam ditempat mereka menghela nafas kasar dan memejamkan matanya.


🍁


Murid XII IPA 5 harus menahan kantuk karena guru sejarah yang sedang berkeliling kelas untuk memeriksa pekerjaan rumah mereka. Memang minggu ketiga pada semester ganjil adalah awal dari minggu yang akan dipadati oleh tugas untuk mereka yang menginjak kelas XII.

Langkah guru itu berhenti tepat disamping seorang siswi yang sedang menelungkupkan wajah ditumpukan lengannya. Membuat sang teman sebangku bersusah payah membangunkan siswi itu diam-diam.

"Maaf Pak, kayak nya Davina lagi gaenak badan." ucap teman sebangkunya.

Kemudian punggung jari guru itu ia tempelkan di pipi bagian kanan dan dirasakannya panas yang menjalar. Helaan nafas keluar dari guru itu.

"Yasudah Keysha sekarang kamu antar Davina ke UKS, tetapi keluarkan dahulu buku catatan miliknya."

"Baik Pak," gadis itu langsung mengeluarkan buku catatan miliknya dan milik teman sebangkunya, kemudian memapah teman sebangkunya yang masih setengah sadar untuk keluar. "Permisi Pak."

Ditengah perjalanan menuju UKS gadis itu merasa bahwa beban nya semakin berat, 'Duh Vin, jangan dulu pingsan dong!' batin gadis itu.

"Eh-- eh kenapa inii?!"

Seperti mendapatkan oase ditengah gurun panas, gadis itu menghembuskan nafas lega saat melihat sosok laki-laki yang ia kenali menghampiri dirinya.

"Arkaaa! Bantuin doongg."

"Davina kenapa Key?" tanya laki-laki itu saat mengambil alih siswi yang sedang pingsan.

"Tiba-tiba badannya panas Ka."

"Yaudah ayo ke UKS."

Mereka berduapun bergegas ke UKS dan membaringkan siswi yang kini memejamkan matanya sempurna. Setelah mengendurkan sabuk dan dasi yang terpasang di seragam siswi itu, kini murid laki-laki itu mengoleskan minyak kayu putih di sisi kening kiri dan kanannya.

"Dia nembak Aksa lagi tadi, dilapangan."

"Terus?"

"Seperti yang udah-udah, Aksa nolak Davina."

Helaan nafas itu terdengar diiringi mengepalnya jari laki-laki itu.

"Ya udah Key, lo balik ke kelas lagi aja. Biar gue yang jaga Davina, bilang aja ada PMR yang jaga."

Gadis itu mengangguk. "Ya udah kalo gitu, gue nitip Davina ya? Nanti pergantian pelajaran gue kesini sama yang lain."

"Oke."

"Thanks, Ka!" setelah gadis itu hilang di tikungan, murid laki-laki itu menatap sang siswi dengan tatapan sendu.

"Kenapa lo batu banget sih, Le?"

"Dia udah sering bikin lo sakit hati, kenapa lo gabisa berpindah tempat kehati yang lain?"

"Coba pikirin hati lo yang sering sakit hati, gue gak mau lo sedih lagi."

'Semoga lo cepet sadar kalo ada gue yang selalu nunggu lo buat nengok kearah belakang.' laki-laki itu membatin.

Laki-laki itu mengecup singkat punggung tangan siswi yang sedang terbaring di brankar UKS, kemudian menatap siswi itu lama-lama dan menghembuskan nafas kasarnya.

"Get well soon, Alea."

Tanpa laki-laki itu sadari, ada laki-laki lain berdiri disamping pintu menatap kearah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian ia langsung bergegas meninggalkan UKS berharap kejadian tadi hanyalah angin lewat.

----TBC----

Assalamu'alaikum, gimana prolognya?

Hehe, cerita ini sebenernya cuma iseng aja. Semoga kalian suka ya!

Kalo suka jangan lupa vote + comment nya dong hehehe💗

Gimana, lanjutt?

-va, 260520

Your SparkleTahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon