Burung hantu menyeramkan. Tapi dia pecundang, dia tidak pernah menunjukkan dirinya di siang hari. Bahkan burung hantu lebih menyeramkan, ketika mampu memutarkan kepalanya 180°. Tapi tetap saja pecundang, ia lagi-lagi tidak pernah menunjukkan dirinya di siang hari. Sama sepertimu, percuma kamu menyeramkan. Jika Seram milikmu adalah tameng agar matahari tidak menemuimu.
☄️
Delon menatap lekat tulisan itu. Tulisan yang ia temukan di Shelter Sekolah SMA Taruna Bangsa dua hari lalu. Selama tiga hari ini ia menjalankan beberapa tes untuk masuk Sekolah Swasta ini. Tidak banyak, dia hanya menjawab beberapa tes dengan kemampuan dia.
Delon Putra Dwihano, terpaksa untuk naik angkot beberapa hari ini untuk menuju sekolahnya. Dia sebenarnya sudah risih dengan tatapan orang-orang sok kaya di SMA ini.
Dengan baju putih yang ia masukkan sebelah bajunya kedalam celana biru pensil dan melipat ujung tangannya beberapa lipat. Sangat memperlihatkan betapa berantakannya sosok ASBL (Anak SMP baru lulus) ini.
Delon melangkah melewati gerbang sekolah dengan beberapa anak yang lainnya.
"Lu kalo tampilan kayak gitu gak bakal jadi populer." Cibir seorang Cowok yang berjalan bersisian dengannya. Dia lebih rapih, rambutnya sedikit cokelat dan matanya sipit.
"Cih, sok tahu." Delon memutarkan bola matanya. Dasar aneh, pikirnya.
"Gue tahu, lu alumni SMPN 73." Sosok dengan nametag Ereze Dwijaya itu kini benar-benar membuat Delon memanas.
"Terus?" Tanyanya tidak perduli.
"Gue tau dari bet di baju elu." Ereze mendahului Delon yang kini menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Tes yang membosankan pikirnya. Menjawab pertanyaan sesuai logikanya, membuat gambar sesuai imajinasinya. Ayolah ini bukan lomba menggambar dan bercerita seperti anak TK.
Delon duduk di ruangan yang pengap, penuh dengan orang-orang yang membutuhkan oksigen
"Delon Putra Dwihano!" Panggil pengawas tes. "Coba apa yang kamu pikirkan tentang kotak ini?" Lelaki dengan bobot tubuh yang besar serta jenggot penuh brewok itu penunjukkan sebuah kotak di proyektor.
"Itu sebuah kotak." Jawab Delon datar.
"Saya juga tahu, maksud saya kamu bisa merubah kotak ini seperti apa?" Tanyanya lagi dengan sedikit gemas mendengar jawaban tak bermutu itu.
Delon memicingkan matanya. "Saya tidak akan mengubahnya menjadi apapun," pernyataan yang sontak membuat ribut seluruh peserta tes.
"Jika saya akan merubah menjadi robot, maka saya akan mulai menggunting dan menghilangkan bagian dari kardus itu. Daripada saya seperti itu maka saya lebih baik mengisinya dengan banyak barang-barang saya. Hakikatnya kardus itu tetap kardus, kalau di buat robot sekalipun itu akan tetap menjadi robot kardus."
Delon menyampaikan alibinya dengan wajah sangat tenang. Seluruh peserta menatapnya dengan tatapan tercengang tidak percaya. Lihat saja penampilannya yang berantakan mampu membuat alibi yang tidak pernah mereka pikirkan.
Pengawas tes itu juga dibuat stress dengan pemikiran dari Delon, dia kembali memanggil peserta tes selanjutnya.
"Perspektif yang tajem." Cibir seorang perempuan yang duduk di sebelahnya. Perempuan dengan earphone tosca ditelinga nya itu, sejak kapan dia berada di sebelah Delon?
Delon tidak menggubrisnya, ia memilih untuk menyandarkan kepalanya di meja. Menunggu sang pengawas itu selesai memenjarakannya di dalam ruangan pengap penuh orang yang saling berebut untuk mendapatkan oksigen.
Sudah 3 jam berlalu, perspektif dari orang-orang itu sangat panjang. Delon sudah tidur selama 3 jam? Entah penyakit apa yang bersandang dalam dirinya.
"Bangun, udah selesai."
Cowok yang tadi pagi ia temui di gerbang kini berada di hadapannya dengan kacamata. Delon bangun dari tidurnya dengan mata merah, lalu meninggalkan ruangan dengan setengah sadar untuk pulang.
Cowok bernama Ereze ini menatapnya heran. Setelah menyampaikan alibi anehnya itu dia bahkan tertidur? Manusia pintar macam apa dia?
Delon tipikal orang yang tidak suka berbicara panjang lebar dengan orang yang baru ia kenal. Bukan, bukan intropert atau sejenis No Life. Ia harus menyaring energi positif dan negatif apa saja yang akan menyerang keadaan psikisnya.
Delon pulang dengan angkot, lagi. Delon sudah bosan empat hari berturut-turut tanpa henti dengan angkot yang selalu sama. Angkot dengan tulisan infinity. Delon tidak punya pilihan angkot lain. Di angkot ini, perlu kalian tahu si pemilik mempunyai cita-cita menjadi seorang astronot. Ada selembaran yang sengaja di simpan di dalam angkot ini. Motivasi dan Biografi Si Sopir. Ia sampai memasang stiker galaksi di dalam angkotnya, bahkan ia sediakan stikinote bergambar planet. Barangkali mau menuliskan mimpi nya yang tidak terbatas.
Delon tidak ada keinginan untuk mengisi nya. Baginya ini angkot ternyaman tidak kuno dengan tampilan ramai di dalamnya. Sopir Angkot itu tersenyum terlihat dari spion menyambut Delon memasuki angkot.
"Udah pulang, dek?" Tanya sopir itu hati-hati.
Delon melirik sejenak, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Tidak ada yang banyak terjadi hari ini. Namun ada yang salah dengan mata Delon. Ia terlalu mengantuk dan segera ingin pulang, disaat seperti ini denah kamar miliknya berputar di dalam otaknya.
Beberapa waktu, suara bising mulai memudar dalam pendengarannya. Sedikit demi sedikit semua nya sunyi, tidak terdengar apapun lagi.
Pandangan Delon tertuju kepada Sosok gadis dengan pisau di tangannya hendak melangkah kearahnya. Burung hantu bertengger manis di pundaknya.
Gadis itu tersenyum dengan darah yang mengalir dari matanya. Wajahnya seperti ingin menerkam Delon dalam sekejap itu juga.
"Kau pengecut Delon."
Suara itu kini berulang di dalam telinganya. Mencekat suara Delon yang tak mampu berkata apa-apa lagi. Delon terpaku sambil menutup matanya. Menyerahkan diri untuk di tusuk gadis itu. Karena kini mata pisau itu tepat di depan wajahnya.
Gadis itu seolah dibuat puas dengan mimik wajah Delon. Ia bahkan tertawa dengan penuh kelicikan. Delon merasa pasokan oksigen dalam tubuhnya semakin menyusut. Ia mulai kehabisan nafas saat itu juga.
Delon berusaha membuka matanya. Namun sia-sia seperti ada sesuatu yang mengganjalnya. Seluruhnya menjadi gelap dengan seketika. Pengap, tanpa oksigen. Hingga...
Brug!
Cuap-cuap Author 💣
My second Story. 😚
Jangan lupa di baca ya temen-temen. Cerita ini update sesuka hati author:')
Tentang cerita ini.
1. Delon itu ketua osis di SMA Taruna Bangsa pernah muncul di "Jurnal Dionisio"
2. Kita bakalan bongkar beberapa rahasia dalam kesuksesan Delon selama menjadi Ketua osis.
3. Genre nya ini masih teenlit gak beda jauh sama Journal Dionisio.
Selamat membaca💣
KAMU SEDANG MEMBACA
Same
Teen FictionJika semua hal butuh alasan, maka cerita ini juga sama. Jika semua Cerita butuh alasan untuk berbeda. Maka cerita ini juga sama. Semuanya sama tidak ada yang berbeda. Namun, Setiap komponen memiliki alasan sendiri untuk berbeda. Seperti ketika Sa...
