***
Mereka pergi . Bukan berarti kisah ini berakhir. Dan jika tuhan mengizinkan diri ini menulis takdirku sendiri, akan aku tulis nama mereka untuk tetap berada di sisiku
*
**
Gue Adara Fredella taleetha gadis mungil berparas manis. Hari ini adalah hari yang gue tunggu tunggu selama 3 bulan . Kenapa ngga,siapa yang gak mau masuk sekolah negeri favorit. Tapi tahun ini cukup berbeda , sistem penerimaan siswa baru kini menggunakan zonasi,
huft itu membuat seluruh anak anak merasa was was .
Bahkan saat masa pendaftaran calon pendaftar di sekolah sekolah favorit menjadi membludak .
Gue pikir sistem zonasi tahun ini belum efektif,banyak orang tua yang sampe berdesakan mengambil nomor antrian dan berangkat pagi pagi buta hanya untuk mendapatkan nomor antrian.
Saat itu gue beruntung dapet nomer antrian tanpa harus mengantri.
Gue segera mengusir pergi pikiran itu
Gue menuruni tangga dengan cepat kilat sekilas melihat kearah jendela pagi ini lebih gelap dari biasanya mungkin karena awan tebal pikir gue
"pagi abang sayang" kata gue usil sambil mencolek dagu kak Adin
"gila lo de,buruan tuh makan roti lo"
"ah gausa makan segala langsung cuss ayo gue diterima ga ni"
"ogah gue masih laper"
"ayola abang gue kan pengen tau masuk ato ga"
"yailah gtu doang,kalo lo ga masuk gimana?masuk sekolah gue aja oke?"
"idih enak bangeut lu bang kalo ngomong"
Adara tetap memaksa dengan mengayun ayunkan tangan Adin hingga roti yang Adin pegang berjatuhan kemana mana
"lagian elo mau ke sono pake baju ginian,ganti pake seragam" Adara menggeleng Adin paling gabisa kalo melihat wajah adik semata wayangnya
Tanpa babibu lagi Adin mengambil jaket yang ia taruh di kursi makan menuju garasi
Adara tersenyum penuh kemenangan , dan segera menyusul.
Sekitar 25 menit mereka telah sampai , tertera sangat jelas papan bertulis 'SMA Negeri 8'
Adira terperangah menatap papan nama itu sambil tersenyum 'semoga gue masuk sini' ucapnya dalam hati penuh harap
Adira tetap dalam keadaan diam , Adin menggelengkan kepalanya sambil menyenggol pelan sikut Adira dan berlalu. Adira yang sadar kini abangnya telah berjalan lebih dulu ia mengempaskan nafas dengan kasar dan mengejar Adin.
Kini ia telah menerima surat itu. Dengan hati yang tak henti berdetak semakin kencang belum lagi keringat yang mengguyur badannya Adin menatap adiknya yang telah masuk mobil ia duduk dengan keadaan tegap sambil memerhatikan kertas yang masih tertilap rapih .
"mau elo sampe keringet darah juga tu kertas gabakal ngebuka sendiri Ra" kata Adin sambil terkekeh melihat kelakuan Adira.
"kak kalo gue ga di terima di sini apa mamah bakal marahin gue?" tanya Adira
"ya elo buka dulu tu kertas diterima kaga"
Adira diam telak Adin segera melajukan mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan tak ada suara diantara mereka . Adira yang tetap menatap selembar kertas itu penuh kekhawatiran .
Brrraaaaaak
Adira terpatung ia tau apa yang akan terjadi kali ini. Ia berjalan perlahan memasuki rumah dengab berat hati dibuka pintu rumah tinggi itu. Seketika matanya melebar. Entah ini rumah atau bekas penjajahan. Potongan beling berserak dimana mana. Guci yang telah pecah diatas meja. Ia menatap satu pintu dibawah tangga dengan lirih.
Adira berlari menaiki tangga dan langsung mengunci kamarnya . Gue tatap selembaran kertas itu dan gue buka.
Sial.
