Hyera seorang gadis tegar namun dibalik ketegarannya ia hanya perempuan rapuh yang butuh seseorang untuk berteduh namun semua seolah diam dan membisu, semesta menatapnya dengan penuh pilu.
Usianya yang masih terbilang belia mengharuskannya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia tak pernah mengeluh karna baginya tak ada hasil tanpa luluhnya setetes peluh.
"Tolong antarkan makanan dan minuman ini ke meja nomor 7 yang ada disana" -ucap salah satu chef yang telah bekerja lama di restoran ini
"Baik" -aku hanya menganggukan kepala dan berjalan menuju meja tersebut
"Akh.." tubuhku terhuyung kedepan menabarak seseorang akibat kecerobohan ku yang tidak berhati hati saat berjalan
"Perhatikan jalanmu nona. Baju ku basah akibat tumpahan minuman sialan mu itu" - ucap seorang pria tampan dan menawan dengan aura dingin mencekam nya
Sorot mata yang tajam mengintimidasi siapa saja lawan bicaranya
"Maaf kan saya tuan, saya tidak sengaja menumpahkannya" - ucap Hyera dengan raut wajah sedikit takut
"Saya bersedia mengganti nya tuan" - ujar Hyera
Masih dengan aura mengintimidasinya "Kamu tidak akan bisa menggantinya, dilihat dari profesimu gajimu saja tidak akan cukup untuk membayar pakain ku ini" - ujar pria dingin tersebut
"Panggilkan aku manager restoran ini" - perintahnya pada salah satu pelayan restoran
Setelah kepergian pelayan tersebut, datang manager restoran ini
"Ada keluhan apa anda memanggil saya?" -tanya manager
"Salah seorang pelayanmu tidak becus melayani pelanggan nya. Kau bisa melihat pakaian ku, ini akibat ulah pelayanmu itu" - protes pria tersebut
"Maafkan ketidaknyamanan atas pelayanan di restoran kami. Kami akan meningkatkan servis pada pelanggan nya" - ujar manager
"Beri latihan servis pada setiap pegawaimu" - ucap pria tersebut masih dengan aura dingin dan mencekamnya
"Baik tuan" - ucap manager
Pria tersebut berlenggang berlalu meninggalkan restoran tanpa peduli dengan makanan yang hampir tidak tersentuh olehnya
"Kau.." ucap manager sambil menunjuk kepada Hyera
"Kemasi barang-barangmu sekarang. Mulai hari ini kau di pecat. Restoran ini tidak membutuhkan tenaga kerja mu lagi" - ucap manager dengan suara tingginya
Manager pun berlalu dengan emosi yang masih bisa dikendalikan dan membayar upah Hyera dengan melemparkan sejumlah uang yang di baluti amplop tanpa mempedulikan perasaan Hyera
"Tapi Pak, saya masih membutuhkan pekerjaan ini" - ucap Hyera dengan nada memelas
"Aku tidak peduli, sekarang silahkan keluar dari restoran ini" - bentak sang manager
Hyera berjalan dengan tas di pundaknya menyusuri kota besar yang merupakan tanah kelahirannya. Riuk hiruk kota Jakarta memang tak pernah ada habisnya. Kota dengan segala keramaian netizen nya, saat malam tiba penuh dengan hingar bingar mainan orang kaya.
"Mah, Hyera capek mah. Jemput Hyera mah bawa Hyera pergi sama mamah, Hyera kangen mamah" - ucap Hyera sedih sembari memeluk batu nisan ibunda nya
Aletta Rose Winata merupakan sosok ibunda yang penuh kasih sayang, namun sang penguasa lebih menyayangi nya. Saat Hyera berumur 13 tahun, Rose meninggalkannya. Hyera kecil sangat terpukul atas kematian ibunya. Hyera hidup bersama ayahnya. Sejak kematian Rose, Vano Adi Winata -ayahnya- menjadi seorang workaholic membuat Hyera kecil merasa kesepian tanpa ada yang menemani
Namun belum lama di Masa puncak kejayaannya, Winata Company mengalami kesurutan akibat salah satu karyawannya melakukan penggelapan dana perusahaan. Melihat kondisi ekonomi keluarganya, Hyera bersedia menopang dengan membanting tulang menjadi pelayan di sebuah restoran. Namun semesta begitu mempermainkannya, Hyera di pecat dari restoran tersebut.
"Maafin Hyera mah belum bisa membahagiakan mamah sama papah" Hyera terisak pelan menatap nisan ibundanya
"Hyera janji akan menjadi anak baik seperti yang mama minta. Hyera bakal berhenti ngeluh biar mama disana gak sedih liat Hyera. Udah dulu ya mah, Hyera mau pulang. I love you Mom" - ucap Hyera dengan senyuman manis yang tercetak di lengkungan bibirnya
Hyera melangkahkan kakinya keluar area pemakaman. Rasa lelahnya sedikit berkurang setelah bercerita bersama mamahnya. Kebahagian orang tua menjadi prioritas utamanya saat ini. Ia akan melakukan apapun untuk membantu perekonomian keluarganya.
Tak terasa langit sudah gelap, ia sudah berada di depan rumahnya.
"Papah, Hyera pulang" - ucap Hyera
"Sini cium dulu anak papah" - sambut Vano
Sejak kecil Hyera akan di cium setelah pulang berpergian, sudah menjadi kebiasaan hingga terbawa sampai sekarang
"Kenapa wajah mu terlihat lesu?" - Tanya Vano
"Sedikit lelah, ini wajar" - bohong Hyera
"Yasudah kamu istirahat dulu"
"Tapi sebelumnya, ada yang ingin papa sampaikan" - ujar Vano serius
Hyera menatap Vano menunggu kalimat selanjutnya
"Kondisi perekonomian keluarga kita belum stabil. Perusahaan semakin surut, belum ada modal untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Kita perlu suntikan dana. Kamu akan papah jodohkan dengan anak rekan bisnis papah" - ucap Vano lebar
Bagaikan di sambar petir mendengar permintaan sang ayah, bagaimana mungkin di usianya yang masih belia, ayahnya justru menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya. Tapi ia akan melakukannya, berkorban demi membahagiakan orang tuanya.
"Aku akan melakukannya" - ucap Hyera pasrah
"Terimakasih sayang, kamu anak papa satu-satunya maafkan papa jika cara papa menyakitimu sayang" - ucap Vano
Tak tertahankan sebulir air mata lolos terjatuh. Dengan cepat ia menghapusnya
Tanpa Vano sadari, putrinya melihat ia mengeluarkan air mata
YOU ARE READING
PAINKILLER
RomanceTerlalu banyak drama sampai Aku lupa sudah episode berapa ~ Membangun rumah tangga membutuhkan pondasi yang kuat. Cinta saja tidak cukup untuk membangun bahtera rumah tangga. Kepercayaan menjadi kunci utama suksesnya suatu hubungan. ...
