Cerita pertama yang saya publish. Jika ada kalimat yang menurut kalian kurang pas dan banyak kesalahannya boleh kasih tau saya.
Selamat membaca..:)
.
.
.
.
.
Hari yang indah untuk memulai kehidupan nyata terlepas dari mimpi yang membuatnya terlena. Ah rasanya Mekar tidak mau bangun. Mimpi Mekar sungguh indah malam ini. Tapi jika dia tidak bangun maka yang akan terjadi selanjutnya adalah hal yang buruk seperti....
"Bangun nggak lo. Kalo nggak bangun lo mau gue perkosa?" Sungguh ucapan yang vulgar keluar dari bibir sang adik -Layu. Iya Layu yang bilang gitu. Ternyata mulut Layu itu bangsad ya. Heeemmm. _-
Buuuk. Prang.......
Yah tersangka pun mendapat lemparan dari sang korban berupa jam weker yang ukurannya bisa dibilang besar. Sungguh kasihan saudara Layu ini. Niatnya mau bangunin sang kakak yang kaya kebo malah dapet ciuman gratis dari jam weker kesayangan sang kakak.
"Tsk, nyebelin banget lo jadi manusia ya Layu. Gue lagi mimpi indah jadi ke ganggu. Dasar ganteng lo." Ucapan sayang keluar dari mulut seksi Mekar.
"Oh.. makasih gue tau gue ganteng." Oke sungguh narsis sekali saudara Layu ini. Heeemm. Rasanya Mekar mau BAB aja kalo Layu udah narsis.
"Heh! Minggir lo gue mau BAB. Pergi sono masak in buat gue." (Beneran BAB:v)Mekar pun berjalan sempoyongan -nyawanya belum ngumpul semua- menuju kamar mandi meninggalkan Layu yang melongo bak orang bego. Untung ganteng..
Sepeninggalan Mekar ke kamar mandi Layu pun menuju dapur dengan lesu. Iya Layu mau ngelaksanain tugas dari sang kakak ter cinta. Gini-gini Layu itu adek yang baik. Nggak ngebantah. Katanya nggak baik ngebantah perintah dari yang tua. Wokwok pengen ngakak aja Layu kalo bayangin muka kakaknya itu jadi peyot.
Yah walaupun tadi kata-kata yang keluar dari mulut Mekar itu sadis Layu sayang kok. Karena kalo nggak ada Mekar Layu bisa apa? Mengingat ayah dan ibunya yang jarang pulang kaya bang toyib itu. Bahkan sudah satu minggu orang tua mereka nggak pulang. Nggak ingat ada anak kah dirumah? Layu nggak mikirin itu Layu mah bodo amat. Tapi nggak bisa dipungkiri juga kalo Layu khawatir. Soalnya tuh ini satu minggu biasanya mereka pulang ya tiga hari sekali atau nggak seminggu dua kali. Tapi Layu tepis pikiran itu. Belum tentu juga orang tua mereka mikirin mereka itu pikiran Layu yang lain. Gimana Layu nggak mikir kaya gitu. Orang mereka tuh kalo pulang cuma istirahat gak ada ngobrol-ngobrol baik sama Mekar maupun Layu. Sekali ngobrol ya cuma tanya nilai.
Selama ini Mekar yang selalu kasih uang jajan ke Layu (walupun Mekar tau uang orang tua mereka selalu dikirim ke mereka), Mekar yang bantuin Layu belajar (itu dulu waktu Layu umur 10 tahun dan Mekar 11 tahun), Mekar yang masak buat makan malam dan sarapan, Mekar yang ngasih Layu kasih sayang tiada tara, Mekar yang selalu nyiapin keperluan Layu pas Layu lagi ikut Olimpiade. Pokoknya Mekar yang melakukan semuanya.
Back to the cerita
Setelah semua siap. Layu yang berencana ingin memanggil Mekar tidak jadi, karena Mekar sudah datang.
"Kok lo yang masak?" Tanya Mekar. Seingatnya dia tidak menyuruh Layu memasak. Ya seingat Mekar begitu.
"Lo yang nyuruh gue masak. Lupa?"
"Gue?" Benar-benar ya Mekar ini pagi-pagi sudah menguji kesabaran Layu.
"Ya." Layu menjawab singkat karena menurut Layu percuma menjelaskan karena ujung-ujungnya ya Mekar nggak akan ingat.
"Kapan gue nyuruh lo?" Mekar masih bertanya. Ya gimana enggak orang tadi seingat Mekar dia cuma nyuruh Layu keluar bukannya masak. Tapi kalo diingat-ingat Mekar kaya pernah ngomong gitu deh tapi dimana ya?
Layu melihat kakaknya yang lagi mikir. Dia juga ikutan mikir kenapa gue punya kakak kaya gini ya allah. Mau gue jedotin kepalanya tapi guenya sayang. Gimana bagusnya.
Sekarang Layu cuma bisa menghela napas. Astaga kapan ini sarapannya kalo mikir terus. Bisa-bisa terlambat ke sekolah. Mana sekolah Layu sama Mekar tuh beda.
Jadi tuh gini Mekar itu sekolahnya di SMK XXXC dengan sekolah.n yang menyiapkan jurusan Manajemen dan Bisnis. Karena kata Mekar biar nanti perusahaan orang tua nya Mekar yang pegang gitu. Dan Layu sekolah di SMA N XXXXR dimana sekolahan itu adalah sekolahan favorit. Sudah banyak prestasi yang diperlihatkan dari sekolah Layu. Layu juga termasuk anak yang pintar. Sebenernya Layu itu pengen sekolah bareng Mekar tapi kata Mekar nggak boleh karena Layu tuh harus raih cita-cita dia setinggi angkasa. Biar Mekar yang urus perusahaan dan antek-anteknya.
Mekar juga pernah daftar ke SMA Layu. Iya dulu sebelum ke SMK Mekar daftar ke situ tapi ya nggak Keterima. Ya Mekar sih sadar dia itu bego nggak pinter. Ya jadilah Mekar sekolah di SMK.
Oke back to the topic.
"Udah lah nggak usah dipikirin anggap aja gue lagi baik. Cepet dimakan sarapannya mau terlambat lo?" Layu bilang gitu sambil seret Mekar ke kursinya. Hah! Susah ya punya kakak kok ya kaya Mekar. Tapi gak apa apa ding. Kan kalo ada Mekar, Layu nggak kesepian. Layu juga bisa manja-manjaan sama Mekar kalo temen-temennya pada sibuk pacaran.
"Oh ok." Layu cuma bisa istigfar lagi. Bicara panjang lebar jawabannya cuma dua kata dan empat huruf. Kesal Layu tuh. Tapi nggak boleh kesal dihadapan Rezeki.
Acara sarapan pun dimulai dan diakhiri dengan tenang tentram dan tertib. Tidak lupa dengan doa sebelum dan sesudah makan. Gini-gini mereka tuh anak baik tau.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Cerita pertama. Hihihi. Semoga kalian menyukainya. Jangan lupa vote dan comment.
Oh iya cerita ini disetiap bab bisa pendek bisa panjang .
_
__Sen, 25 November 2019__
*12:25"
ESTÁS LEYENDO
MEKAR
Novela JuvenilBaca aja. yaks cerita abal-abal yang nggak ada untungnya:v mohon bantuan, keikhlasan dan kesadaran saudara/i yang mau membaca cerita ini:v "Bodo amat. Gue gak kenal lo." Mekar "Ya udah ayok kenalan. Gitu aja repot." Luar "Kalo ada yang repot kenapa...
