Berjalan-jalan bersama seorang idola tidak membuat Min Yoon merasa senang, terlebih lagi idola itu terlibat sebuah skandal yang mengancam karirnya.
"Aku tidak tahu kalau kita akan bertemu seperti ini," katanya sembari tersenyum.
Start : Oktober 2019
Dulu saat gagal debut di ajang survival pertamanya, Min Yoon hampir menyerah untuk menjadi seorang idol. Namun, saat seseorang datang dan memintanya untuk bergabung dengan sebuah agency, Min Yoon pikir mungkin itu adalah kesempatan lain untuknya berlatih lebih giat lagi. Lalu ia pun bergabung dengan sebuah agency kecil yang memperlakukan trainee mereka dengan sangat baik.
Min Yoon, ia tidak tahu bagaimana bisa orang-orang mengatakan padanya secara langsung bahwa ia berkembang dengan sangat pesat. Hal itu membuatnya masuk ke dalam line debut dalam beberapa bulan, namun hal itu tidak berjalan lancar setelah seseorang yang ia kenal muncul dan mengacaukan semuanya. Ia gagal debut dan pindah ke agency yang lebih besar dengan bantuan manajer lamanya. Namun, ia harus kembali meninggalkan agency itu karena berbagai macam masalah.
Akhir-akhir ini Min Yoon hanya disibukkan oleh pekerjaan part-timenya, ia sudah menunggak untuk membayar tempat tinggalnya dan itu buruk. Pikirannya melayang setiap kali melihat tayangan televisi mengenai idol-idol yang baru saja memulai debutnya, ribuan penggemar dan tepuk tangan yang meriah membuatnya iri sekaligus muak. Kenapa ia tidak bisa menjadi salah satu dari mereka?
Min Yoon menghabiskan waktu beberapa jam duduk di sebuah taman setelah part-time work, ditemani dengan beberapa kaleng minuman dingin yang menyegarkan kerongkongannya. Hiburannya sebatas langit malam dan cahaya lampu dari bangunan-bangunan besar di pusat kota.
Pertanyaan mengapa ia selalu gagal tidak lagi ia pikirkan jawabannya, sekarang ia hanya ingin hidup seperti orang biasa, tidak ingin dikenal masyarakat dan sibuk dengan jadwal yang super padat.
Kaleng keduanya telah remuk, Min Yoon melemparnya ke tempat sampah yang berada tak jauh dari seseorang yang sibuk mengumpat seorang diri. Min Yoon sudah memperhatikannya sejak ia datang tadi, orang itu mengenakan kaos putih dengan celana kain berwarna hitam, potongan rambutnya terlihat mirip dengan seseorang yang ia kenal. Namun, Min Yoon tidak tahu bagaimana wajah orang itu, hanya dari nada bicaranya ia terdengar kesal.
Selama satu jam mendengarkan orang itu mengumpat pada ponsel, Min Yoon tersenyum miris. Ternyata ada saja orang yang tidak bisa mensyukuri hidupnya selain dirinya sendiri tentunya, Min Yoon bukannya tidak bersyukur karena telah hidup selama sembilan belas tahun, bulan ini pun usianya akan genap dua puluh tahun, Min Yoon hanya belum mengerti mengapa orang-orang senang untuk mengeluh pada sesuatu yang telah gagal mereka lakukan atau tidak mereka dapatkan.
"Manajer brengsek!"
Min Yoon terkejut saat orang itu mengumpat dengan keras, demi menghindari kontak dengan orang itu, Min Yoon membungkukkan tubuhnya dan bersembunyi di balik semak-semak, ia duduk di atas tanah dengan beralaskan selembar kertas selebaran yang ia dapat dari minimarket tadi.
Orang itu terus mengumpat, menendang apa pun yang ditemuinya, berjalan memutar di tempat dan mengeluh mengenai hidupnya. Min Yoon tahu, orang itu pasti frustasi dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalahnya.
Mengintip dari balik semak-semak tidak membuat Min Yoon dapat melihat seperti apa wajah orang itu, yang ia lihat hanyalah punggung berbalut kaos putih. Tak lama kemudian, orang itu kembali mendapatkan panggilan, mulai mengumpat dan mencabut baterai ponselnya dengan kasar.
Orang itu mulai tenang setelah beberapa menit berlalu, Min Yoon merasa takut untuk keluar, orang itu bisa saja menyadari bahwa ia telah menguping cukup lama di sana.
Min Yoon mungkin bukan orang paling sial di dunia, terbukti dari banyaknya trainee yang dipulangkan setelah beberapa bulan berlatih di agency, ia bahkan hampir meninggalkan agency karena tidak sanggup mendengar kalimat-kalimat mematikan dari para pelatih dan seniornya yang menurutnya sangat kejam.
"Aku juga pernah merasa seperti itu," gumam Min Yoon, ia merapatkan kakinya dan memeluk lututnya.
Waktu terus berlalu dan jarum jam telah menunjuk ke angka sembilan malam, Min Yoon bangun dari posisi duduknya memeluk lutut dan mulai berjalan meninggalkan taman. Min Yoon pikir orang itu telah pergi, karena sejak setengah jam yang lalu ia tidak lagi mendengar suara apa pun dari arah di mana orang itu duduk sebelumnya.
"Sedang apa kau di sini?" Pertanyaan itu membuat Min Yoon yang berjalan pelan sembari menunduk mengangkat wajahnya cepat, ia mendongak dan mendapati seseorang yana ia kenal dari agency yang sama dengannya berdiri di depannya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
. . . . .
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.