Satu

12 0 0
                                        

Satu

Kuncir dua ini konyol sekali. Papan nama sebesar buku gambar A3 ini juga konyol. Tali sepatu warna-warni, lebih konyol lagi. Pokoknya, Masa Orientasi Siswa benar-benar konyol. Sekolah Menengah Pertamaku jauh lebih beradab dari ini. Tapi, yah, sudahlah. Sudah masuk hari ketiga. Yang lebih hebat lagi, aku tidak perlu repot memikirkan kuncir dua sebab rambutku sudah terpangkas rapi. Luar biasa!

Saat ini, seluruh siswa baru SMA Bina Persada yang masih berpakaian putih-biru sedang beristirahat di pinggir lapangan menanti persiapan penutupan MOS dari panitia. Entah mereka sedang unjuk gigi atau sengaja memamerkan bahwa panitia banyak kesibukan, tapi menonton mereka mondar-mandir dari sini sungguh membosankan. Hawanya juga sangat panas disini, kulihat banyak siswa baru berwajah gosong yang sedang mengipas-ngipaskan papan nama kebesaran mereka -serius ini memang kebesaran- untuk mengusir hawa panas. Aku sendiri sudah berkeringat sejak tadi. Aku meregangkan tangan untuk mengusir pegal dan rasa kantuk.

"Hei! Jauhkan tanganmu dari wajahku!" seru seseorang dari belakangku. Aku segera menarik tanganku kembali, menutup mulut untuk menguap, kemudian menoleh ke belakang.

"Maaf." Lalu, kembali menoleh ke depan. Sekilas, aku dapat melihat wajah keheranan dari laki-laki tadi.

"Kau.. perempuan?" rupanya dia masih bertanya padaku.

"Menurutmu apa?" tanyaku balik, setelah menghadapkan diri padanya.

Pertanyaan ini lagi. Huh, bosan.

"Tapi, rambutmu seperti laki-laki." Dia menunjuk ke atas, tepat di rambut pendekku. Oh, dan aku sedang tidak memakai anting, mungkin itu menyisakan lubang di kedua ujung telingaku.

"Ini praktis. Tidak perlu ikut-ikutan kuncir dua." Jawabku.

"Apa.. panitia memperbolehkannya?" tanyanya, agak berbisik.

"Kenapa tidak?" jawabku lagi. Dia mengangguk-angguk.

"Aku Bima." Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya padaku. Aku melongo.

Biasanya, tidak ada yang mau berkenalan denganku. Mereka pikir aku aneh, dan tomboy, dan macam-macam. Tetapi dia, satu-satunya yang mau mengajakku kenalan. Aku tersenyum singkat.

"Diandra."

"Hai, Di, dari kelas mana kau?" tanyanya ramah.

"Entahlah, aku belum lihat pengumuman pembagian kelas. Tetapi, sepanjang MOS ini aku ada di kelas Arjuna. Kau sendiri?" dia kembali mengangguk, lalu menjawab,

"Aku di kelas Krisna. Oh.. sial!" tiba-tiba wajahnya berubah terkejut. Bima mengusap peluh dari dahinya, rambutnya sudah basah oleh keringat.

"Ehm, maaf? Kau mengataiku?" tanyaku ragu.

"Oh, tidak-tidak, bukan, maaf Diandra. Aku baru ingat tadi sedang bersama temanku dari kelas yang sama. Kami terpisah gara-gara barisan harus dibagi dua ke kanan dan kiri lapangan. Aku mau mencarinya dulu." Jawabnya panjang lebar.

Aku mengangguk mengerti. Sekilas wajahnya tampak merasa bersalah, meskipun aku tahu dia sedang panik luar biasa. Apa mungkin temannya begitu spesial?

Sebelum berbalik pergi, Bima kembali menoleh padaku.

"Oh iya, Diandra. Kemungkinan temanku sedang kebingungan. Sebelum berpisah tadi dia bilang mau mencari toilet. Jika kau menemukan seorang siswa baru laki-laki berwajah bule, tolong beritahu dia letak toiletnya, ya. Aku mau mengambil peralatan pensi di kelas sebelum mencarinya, kelasku tampil di urutan pertama." Aku mengangguk untuk mengiyakan, lalu dia pergi setelah menggumamkan terima kasih.

Hmm, Bule, rupanya temannya memang spesial.

Bima lucu juga. Raut wajahnya lembut dan terlihat imut untuk ukuran laki-laki. Aku bertaruh, pasti dia mirip ibunya.

Tetapi, kisah ini bukan tentang dia. Bukan Bima.

Panitia mengumumkan melalui pengeras suara agar kami berbaris melingkar sesuai kelas di lapangan karena pentas seni akan segera dimulai. Pantas saja Bima buru-buru mempersiapkan peralatan pensi-nya. Aku segera bangkit dari duduk di pinggir lapangan untuk berpindah ke tengah. Cuaca sedang terik-teriknya, panitia memang suka menyiksa. Kerumunan peserta yang berebut mencari tempat berbaris yang paling teduh membuatku kesulitan melangkah.

Di antara kerumunan ini, tiba-tiba aku melihat seorang siswa baru laki-laki berwajah bule yang berdiri beberapa meter jauhnya di depanku. Dia sangat, tampan. Wajahnya agak kemerahan karena terik matahari, dan penuh keringat di dahi. Seragamnya agak berbeda, mungkin itu dari negara asalnya. Aku hampir tidak berkedip, namun suara-suara keributan ini menyadarkanku. Aku segera mengingat pesan Bima tadi.

"Hei...!" teriakku, namun dia tidak menoleh.

Aku berusaha keras untuk bisa melihat nama yang tertulis di papan nama besar di depan dadanya sambil menghalau para siswa baru yang berlalu lalang. Itu dia! Tulisannya Arian.. Arian.. Arian C. An..derson. Oke, namanya Arian C. Anderson.

"Hei, Mr. Anderson! Hei!" aku memanggilnya sambil melambai-lambaikan tanganku di tengah kerumunan.

Kurasa daya pendengarannya memang tajam, sebab ia segera mengenali sumber suara dan menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. Ia pun berjalan mendekat ke arahku, menghalau kerumunan dengan mudahnya. Oh, tentu saja. Badannya sangat tinggi!

Dia sampai di depanku. Wajahnya masih bingung. Dari jarak ini, dia terlihat jauh lebih tampan lagi. Rambutnya cokelat terang, dan matanya..

Oh, apalagi, apalagi yang harus kukatakan? Mendadak aku tidak mengingat apapun. Aku segera memejamkan mata untuk mengingat-ingat. Ah, ya! Toilet!

"Ehm, Mr. Anderson," aku bersyukur ketika mendapatinya masih berdiri di hadapanku, tidak beranjak pergi ketika aku memejamkan mata tadi.

"I.. have to tell you the way to the toilet." Ujarku padanya. Hei, dia bule, kan? Aku sedang konsentrasi menyusun kata-kata berbahasa Inggris.

Dia memperhatikanku lekat. Dia mengerti! Oke, Diandra, lanjutkan!

"Ehm, from here you could go.. eh, left. Left, okay. Then just go ahead, it will be in the end of the.. corridor. The corridor. Right beside a classroom of 11 C. Do you un..derstand?" Matanya tidak lepas memperhatikanku berbicara. Membuatku semakin gugup setelah menyadari bahwa bahasa Inggrisku barusan amat jelek.

Apa semua bule memandang dengan cara seperti itu? Mendadak jantungku berdegup lebih cepat. Aku tahu bahasa Inggrisku berantakan. Aku tidak peduli. Tapi, reaksi psikologisku menunjukkan bahwa aku peduli. Aku gugup!

"Uhm, sorry, I.. I'm not so fluent in English. Hehe." Tambahku segera dengan gugup.

Ia mengangguk, lalu berbalik untuk pergi. Aku menghembuskan napas, lega. Syukurlah, dia mengerti. Aku tidak perlu lama-lama berhadapan dengannya. Bisa-bisa jantungku lari dari tempatnya saking kuatnya berdetak.

Namun, jantungku rasanya kembali dipermainkan ketika dia menoleh lagi padaku.

"Terima kasih, Miss.. Kusuma. Panggil aku Rian saja, oke? Entah darimana kau tahu, tapi aku memang sedang mencari toilet." Ia tersenyum singkat setelah melirik papan namaku sebentar, lalu pergi. Hanya senyum singkat, tetapi membuatku membeku.

Yang lebih membuatku membeku lagi di tengah terik siang ini, dia lancar berbahasa Indonesia. Bodoh, Diandra! Bodoh sekali kau!

Dee's NeverlandStories to obsess over. Discover now