Perkenalan

64 27 0
                                        

Hari-hari yang ku jalani sama seperti anak-anak seusiaku. Tapi ada banyak perbedaan antara aku dan mereka karena aku tidak sesempurna mereka.

Siang itu, siang yang menjadi saksi bisu perubahan alur hidupku. Suara pertemuan antara mobil dengan tubuh kecilku, menjadi awal penderitaanku.

Aku cacat. Aku kehilangan kaki kiriku akibat kecelakaan itu. Sungguh sulit untuk menerima keadaan, tapi apa boleh buat? itu sudah kehendak yang Kuasa, bagaimana pun aku harus menerimanya.

"Ella buntung, Ella buntung"
"Ella pincang"
"Ih gamau temenan sama Ella, anak cacat"

Celaan, hinaan, perkataan yang mereka lontarkan sudah menjadi makananku sehari-hari, hingga seseorang datang dan memberi secercah semangatku untuk hidup.

Pagi ini, seluruh murid kelas 11 Ipa 2 sedang berlarian menuju bangku masing-masing setelah melihat siluet dari Pak Jami, walikelasku, melewati koridor dengan badan tingginya. Semuanya riuh, kecuali aku yang hanya berdiam diri di pojok kiri kelas.

Aku menatap ke arah koridor, bukan untuk melihat Pak Jami yang menjadi pujaan cewek-cewek disekolahku, melainkan untuk melihat seseorang dibelakang Pak Jami. Ia mengenakan blazer kotak-kotak yang menandakan asal sekolahnya, aku terus memperhatikannya hingga masuk bersama Pak Jami ke dalam kelas.

"Assalamualaikum, selamat pagi anak murid" ucap Pak Jami dengan nada khasnya.

"Waalaikumussalam, pagi Pak Jams" jawab kami serentak

"Hari ini kita mendapat teman baru dari SMA Bakti Husada, silahkan perkenalkan diri, nak"

"Terimakasih,Pak. Perkenalkan nama saya Gevano Pratama, kalian bisa panggil saya Gevan.

"Baik kalau begitu Gevan silahkan duduk di pojok kiri sana, saya akan memulai pelajaran" ucap Pak Jami menutup perkenalan

Gevan berjalan ke arah pojok belakang seperti yang dikatakan Pak Jami, hingga aku baru sadar kalau mejaku lah yang Pak Jami maksud karena memang sejak aku kelas 10 aku duduk sendiri.

"Hai! Nama lo siapa?" sapa Gevan
"Gue Ella" balasku seadanya.

Namun siapa sangka dari perkenalan singkatku dengannya kini aku sudah bisa berdialog panjang dengannya. Hingga 3 bulan berikutnya, aku semakin dekat dengan Gevan. Ucapan selamat pagi, makan dikantin, pulang bersama, hingga ucapan selamat malam sudah menjadi rutinitasku dengannya.

"Ellaaaa" teriak Nancy nyaring

"Nanti ke kopi-kopian yuk, gue traktir deh" lanjutnya

"Okee, dalam rangka apanih nraktir gue?" tanyaku

"Adadeh, nanti aja liat, gue mau berbagi kebahagiaan haha. Tar jam 7 ya!" ucapnya penuh semangat

"oki dokii" jawabku

Tahu DiriWhere stories live. Discover now