PROLOG

4.8K 134 17
                                        

Mungkin sebuah penjelasan tak berarti apa apa

Jika memang telinga diciptakan untuk mendengar, mengapa ketika mulut  mulai berbicara, kalian langsung menolaknya?

Kalian hanya melihat masalah dari satu sisi.

Kalian tidak pernah mau untuk melihat dari semua sisi

Apakah itu adil ?

Aku cuma ingin didengarkan
Bukan diacuhkan

Apa karna hanya satu kesalahan
Aku dilupakan untuk selamanya?.

-  -  -

Seorang anak laki laki berumur sekitar 6 tahunan itu terlihat sedang duduk sambil termenung dipinggir taman. Disaat anak anak lain berlarian kesana kemari dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah mereka. Anak laki laki itu hanya termenung menatap rerumputan yang dipijaknya, tidak ingin bangkit untuk ikut merasakan kesenangan itu. Seakan larut dalam pikirannya sendiri, memikirkan mengapa hidupnya tidak seperti anak anak pada umumnya? Bisa bersenang senang tanpa beban, berlarian tanpa memikirkan sebuah permasalahan.

Apakah takdir hidupnya harus seperti ini?.

-   -   -

Disaat dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, ada sebuah tangan mungil berada di depannya. Dia pun mendongak, ditatapnya seorang anak perempuan berumur 5 tahun berparas cantik nan imut, tidak lupa dengan senyumannya yang manis menghiasi wajahnya.

"Hai aku ella, kamu kok keliatannya sedih sih? Jangan sedih ya. Ella boleh nggak temenan sama kamu."

Disaat semua menjauhinya, disaat semua mengacuhkannya. Disaat orang orang terdekatnya menganggapnya tidak ada. Datang seorang gadis cilik yang ingin mengajaknya berteman? Sungguh hal yang luar biasa bagi bocah laki laki itu.

Tak selang berapa lama seorang wanita cantik datang menghampiri keduanya.
"Ella yuk kita harus pergi sekarang, eh kamu siapa nak?" ucap wanita tadi lembut.

"Avin tante" jawabnya.

"Iya mah, mamah duluan aja nanti ella nyusul" wanita yang dipanggi mamah itupun mengangguk dan berlalu pergi meninggalakan dua orang anak kecil itu.

Melihat interaksi antara ibu dan anaknya membuat hati Avin teriris, dia iri pada Ella. Kadang dia berpikir, kapan dia akan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya? Tidak bisakah dia juga mendapatkan sebuah kasih sayang? Diumur yang sekarang, anak anak lain pasti mendapatkan semua perhatian dan kesih sayang dari kedua orang tuanya. Sedangkan dirinya hanya diacuhkan dan tidak diperdulikan. Melihatnya saja orang tuanya enggan. Sebenci itukah mereka padanya. Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, suara lembut dari anak perempuan itu membuyarkan lamunananya.

"Kamu imut deh aku suka, kamu mau nggak jadi pacar ella?" Tanya bocah berumur 5 tahun itu.

"Tapi kan kita masih kecil"

"Hmm kalau gitu nunggu kita besar gimana?" Ucap gadis itu sambil tersenyum.

"Kan kamu mau pergi."

"Kan nanti kita bisa ketemu lagi"

"Janji?"

"Janji."
Setelah mengucapkan janji tersebut gadis kecil itupun pergi. Memang itu hanya janji yang dibuat oleh anak kecil, tapi Avin tidak pernah lupa akan janji itu. Dia berjanji suatu saat nanti pasti dia bisa menepati janji itu.

-  -  -

Assalamualikum epribadeh. (Nggak jawab kalian bakal ketagihan sama cerita aku) .

Sebenernya sih aku udah pernah buat nih cerita, tapi akun aku yang satunya nggak bisa kebuka yaaah gitu deh.
(Kan curhat).

Oke deh jan lupa voment yaaa

Slm Mnns, ursyd


PROMISEStories to obsess over. Discover now