Ma, bagaimana keadaan mama di sana? Apakah mama melewatkan hari-hari dengan bahagia? Ahh... Ma, rasanya aku ingin kembali ke masa di mana aku mengikuti mama ke mana-mana, merengek meminta ini itu, dan bermanja-manja sepanjang hari.
Jujur ma, aku kangen mama. Di sini terasa hampa tanpa mama. Udara dingin ini terasa menusuk, meski raga berbalut selimut. Hanya kasih sayang mama yang mampu menghangatkanku.
Ma, aku menyesal. Menyesal telah meninggalkan rumah. Menyesal karena tidak mengindahkan nasehat mama. Tanpa pikir panjang, aku memilih pergi bersama dia yang kucinta. Alih-alih mendapatkan hidup bahagia, aku justru mendapat duka nestapa.
Cumbu mesra hanya kudapat sebentar saja, setelahnya aku merana. Awal mengenalnya, dia acuh padaku, selalu menuruti semua pintaku. Wajahnya yang rupawan membuatku tidak pernah mengira dia akan bisa berbuat serendah ini.
Setelah memilikiku, baru terbuka selapis-demi selapis karakter aslinya.
Tubuhku kian melempai, pandanganku nanar, karena terlalu seringnya dia menjadikanku sebagai samsak tinjunya. Dan akhirnya, malam itu, diatas tubuhku yang sudah jatuh tersungkuk, dia melayangkan tendangan terakhirnya. Itulah terakhir kalinya dia berbuat kasar padaku. Syukurlah.
Dan, di sinilah aku. Sayup-sayup kudengar tangisan mama. Meraung-raung mencaci dia yang sudah di bui. Penyesalanpun tidak dapat membawaku kembali. Ketika semua orang telah pergi, hanya mama yang setia menemani.
Tunggu, ma. Jangan beranjak pergi.
Dari kejauhan kulihat dua bayangan hitam yang mengerikan mendatangiku. Selangkah mama meninggalkanku, selangkah pula mereka mendekatiku.
Temani aku ma, aku takut.
Dalam sekejap, kedua bayangan hitam itu merangsek mendekat. Mereka membawa entah-disebut apa, aku tidak pernah melihat benda ini sebelumnya, sesuatu mengerikan yang tampak tajam dan berat. Tubuhku bergeming. Pasrah menanti apa yang akan mereka lakukan padaku. Seketika tubuhku terduduk di ruang sempit ini, tanpa kuasa dariku. Tidak bisa gemetar. Tidak bisa menangis. Tubuhku serasa bukan milikku lagi. Mereka belum melakukan apapun padaku, tapi tubuhku serasa hancur lebur. Kini mereka tepat dihadapanku. Melakukan apa yang harus mereka lakukan padaku. Tanpa ampun.
"Man Rabbuka?"
***
YOU ARE READING
Kumpulan Fiksi Mini (oneshot story)
Short StorySebuah kumpulan fiksi mini (flash fiction) yang merupakan cerita karangan penulis, tidak lebih dari 500 kata, dilengkapi plot twist atau twist ending pada masing-masing akhir cerita. Enjoy 😊
