kringggggg...
"hoaaaaamm"
Untuk pertama kalinya gue bangun pagi setelah libur akhir tahun, ditahun yang berbeda dan ditempat yang berbeda.
"tumben udah bangun"
"terpaksa sih mah"
"yaudah sarapan dulu"
Sekolah itu penting, lebih penting lagi kalo sekolahnya dengan perasaan ikhlas.
"berangkat ya mah"
"iya hati - hati, jalan nya udah hafal kan"
Hari senin memang enggak akan pernah tiada, bahkan berjalan beriiringan dengan upacara bendera. Sepanjang jalan gue bingung harus naik angkot yang mana, sebelumnya emang udah dijelasin sih sama mang asep satpam komplek rumah gue tapi gatau kenapa saat itu gue lupa semua yang udah mang asep jelasin. Dari tadi yang gue lihat kalo ga angkot merah dan kuning.
"mang"
"kenapa neng, mau beli bubur"
"enggak mang, mau tanya kalo ke SMA CENDRAWANA naik angkot warna apa ya mang"
"yah si neng kirain mau beli, itu naik angkot didepan yang lagi ngetem"
"makasih mang"
Ternyata dari tadi angkot yang ngetem didepan itu angkot yang gue cari, akhirnya gue jalan kearah angkot itu dan ternyata angkotnya penuh. Gue berniat untuk nunggu angkot selanjutnya tapi ibu - ibu didalam angkot ngasih tau kalo angkot selanjutnya akan datang sekitar 15 menit, dan itu makan waktu bagi gue.
"neng gapapa neng?"
"emm gapapa bu'
Yaudah gapapa gue ikhlas gelayutan dipintu angkot ini, hari pertama sekolah aja udah disambut dengan hari dimana gue menyebutnya sebagai hari kesialan.
"ini pak uangnya"
"dua ribu aja neng, seribunya bonus"
"makasih mang"
Sekolah nya sih lumayan besar dan bagus, sama seperti sekolah gue yang lama. Tapi gatau seisi dan penghuni nya apakah akan sama dengan sekolah gue yang lama. seperti apa yang telah gue pikirkan dan bayangkan gue akan menjadi pusat perhatian satu sekolah karna wajah gue yang asing ini. Saat ini pun bahkan gue harus mencari kelas dimana buku absen itu ada nama gue.
"kenapa sekolah ini gapake lift aja sih"
"aduhhhhh"
"punya mata ga lo?"
"heii yang nabrak duluan siapa ya?"
Dengan tatapan tajam dan jari tangan yang dia tunjukan ke mata gue, bisa gue tebak kalo orang itu gamau disalahkan. Jelas - jelas gue yang naik tangga, kenapa dia turun lewat tangga itu juga. Dia pikir gue akan takut
"apaa lo"
Gue membalasnya dengan tatapan tajam juga, sambil melanjutkan ke anak tangga lantai 3 dimana kelas 11 IPA 1 dibangun. Kalo gini caranya sih gue akan memutuskan untuk puasa, gimana enggak? Kantin sekolah gue dibelakang gedung lantai 1. Mungkin sekolah ini selain meluluskan siswa - siswi yang berprestasi tapi berotot yang kuat.
'kenapa sih bukan lo yang nyamper gue"
Siswa - siswi yang berada di depan kelas langsung terdiam menyaksikan apa yang gue lakukan saat itu. Memaki papan nama yang tertempel didepan pintu kelas mungkin terlihat aneh atau bahkan mereka akan menduga gue kehilangan akal sehat dah seharusnya masuk ke sekolah berkebutuhan khusus.
Gue duduk dibangku yang terlihat tidak ada tas, dimana gue menganggap itu adalah bangku kosong. Karna bel masuk pun sebentar lagi, bel pun berbunyi semua siswa - siswi mulai masuk ke kelas. Tak lama kemudian guru datang, suasana kelas seketika menjadi hening.
"pagi semuanya"
"pagiiii buuuu"
"gimana liburan nya?"
Setelah ibu guru mengajak siswa kelas ini berbincang sebentar, denyut nadi gue terhenti saat ibu guru memanggil nama gue untuk memperkenalkan diri didepan kelas. Akhirnya gue maju kedepan dan mulai memperkenalkan diri.
"hallo perkenalkan nama gue Ananditya Putri Silvia, biasa dipanggil Anan. Gue pindahan dari Bandung, terimakasih"
Singkat saja saat itu gue memperkenalkan diri, dan kembali duduk. Selang beberapa menit saat guru akan memulai pelajaran tiba - tiba sosok makhluk yang tak asing wajahnya masuk kedalam kelas. Dengan wajah yang tidak berdosa itu dengan santainya menjelaskan alasan kenapa dia terlambat.
Tak lama sehabis anak itu menjelaskan alasannya, dia berjalan kearah dimana gue duduk. Saat itu juga gue diusir, jelas - jelas gue duluan yang duduk dibangku ini dan dia terlambat masuk kelas. Kenapa gue yang di usir olehnya. Kalo saat itu guru ga ada dikelas mungkin gue akan menjawabnya dengan nada yang lebih tinggi.
"maaf tapi gue duluan yang duduk disini"
"lu anak baru? Ini tempat duduk gue"
"tapi lu baru dateng, harusnya lu duduk dibangku sana"
Gue mencoba memberitau dia bahwa dibelakang ada bangku kosong dan itu belum ada pemiliknya, lagi pula memang gue yang datang lebih awal ke bangku ini.
"Tara, sudah kamu yang dibelakang saja. Karna perempuan tidak pantas dibelakang"
Siapa yang tidak senang jika dibela oleh guru kalian sendiri, ya saat itu gue merasakan seakan kelas ini milik gue.
"emang enak"
"bangun lu"
"buu" pinta gue pada guru
"gue Cuma mau ngambil tas gue dikolong meja"
Dan saat itulah gue merasa bodoh, ternyata memang ini tempat duduk dia. Dengan bangga nya gue dibela oleh guru karna memang perempuan itu tidak biasanya duduk dibelakang. Saat itu juga gue ga berani buat memasang wajah gue depan dia, dan bodohnya gue saat guru menyuruhnya pindah ke bangku belakang dengan riangnya gue menjulurkan lidah dengan bangga meledeknya.
Saat kejadian itu, gue tidak berani menatap matanya. Harusnya sih gue berterima kasih dan meminta maaf, tapi kenapa dua rasa itu sangat berat dilakukan. Yang bisa gue lakukan ya hanya diam dan tak berani menatap wajahnya.
Bel pulang sudah memerankan perannya, anak - anak lainpun perlahan meninggalkan kelas dan hanya tersisa beberapa anak yang masih merapikan catatan yang tadi diberikan. Gue berniat untuk meminta maaf, gue berjalan dengan mata yang mengarah ke lantai. Gue liat dia lagi merapikan tasnya bergegas ingin keluar kelas, saat dia melangkah dengan berani gue menghentikannya.
"sebentar gue mau ngomong"
Tetap saja dengan situasi yang seperti ini dia masih sangat angkuh, gue ngajak dia ngomong tapi dia tidak menoleh apa lagi berbalik badan ke arah gue. Tidak hanya itu, tak ada jawaban dan hanya keheningan yang terjadi. Saat itu gue malah ragu untuk mengatakan kata maaf, gue bingungg harus mengatakannya seperti apa.
"emmm gue..gue..gue"
"eh tunggu kali orang mau ngomong"
Salah besar dan salah banget gue berencana minta maaf ke manusia seperti dia, belum juga gue selesai ngomong dia udah pergi gitu aja. Kalo gue udah bosen sama sekolah, gue siap jemput sel tahanan yang udah disiapin buat gue karna gue habis mencekik leher manusia satu itu. Tapi setelah gue inget - inget lagi, ternyata yang nabrak gue tadi pagi ditangga itu adalah dia.
"tau gitu gue ga usah pake minta maaf ke dia, bikin naik darah aja sih"
________________________________________________________________________________
hallo semua untuk pembaca setia ANTARA untuk saat ini sedang dalam tahap revisi, jadi tetap pantau terus cerita ANTARA ya...
YOU ARE READING
ANTARA
Short StoryMengapa rasa itu harus datang? Semuanya hanya izin untuk melewati raga dan jiwa yang kosong. Membuat kebahagiaan sementara dan rasa sakit yang membekas. Percayalah Cinta yang tulus akan tumbuh dan hadir tanpa kita undang dan kita sadari. Jangan mene...
