Prolog

154 42 76
                                        

Seorang pria bertubuh tinggi dengan perawakan gempal baru saja keluar dari area diskotik. Ia berjalan dengan sedikit sempoyongan tanpa seorang pasangan. Entah berapa kali dia telah minum hingga terlelap mabuk. Ia mengendarai mobil dengan laju yang begitu kencang. Namun Tuhan masih menyelamatkan nyawanya kali ini.

Kini ia telah sampai di halaman rumahnya. Berteriak kepada seisi rumah agar membukakan gerbang yang amat sangat tinggi di depannya. Rumah yang mewah. Pagar besi berdiri tinggi mengelilingi setiap jengkal tanahnya, rumah layaknya stadion bola, besar dan luas.

Setelah beberapa menit gerbang terbuka, ia memasukkan mobilnya dengan setegah tak sadar. Satpam di sana tahu benar apa yang telah terjadi. Tidak sekali dua kali ia pulang malam dalam keadaan mabuk. Kedua satpam sangat memaklumi apa yang diperbuat majikannya. Orang kaya, apapun yang mereka lakukan akan terlihat baik di matanya.

Pemuda itu melangkahkan kakinya satu per satu memasuki rumah mewahnya. Baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah, seorang gadis berada di ambang pintu sembari mebawakan cupcake mini. Ia tampak terkejut dengan keberadaan gadisnya. Apa yang dilakukan gadisnya di tengah malam seperti ini, pikirnya.

"Selamat ulang tahun, sayang."

Gadis itu menyanyikan sebuah lagu ucapan ulang tahun kepada pemuda yang berada di depannya. Terlihat senyum meringis walaupun sedikit tidak sadar akibat terlelap minuman keras. Terlihat sangat bahagia pada keduanya.

"Thank you for it."

Di satu sisi lain terlihat seorang gadis sedang menatap sendu kedua pasangan itu. Berfikir jika ialah sekarang yang berada di tempat gadis dengan cupcake di tangannya. Sekali dua kali gadis itu merasakan kesakitan hebat di dadanya ketika sepasang pasangan itu berbuat romantis di depannya. Terasa sangat nyeri di bagian ulu hati miliknya. Pasokan oksigen pada ruangan itu seolah terasa sangat sedikit. Seperti ia telah berada di dalam ruang hampa yang sangat sempit dan gelap. Napasnya terengah-engah, dadanya sangat sakit, ia merasakan kesulitan untuk bernapas.

"Kamu mabuk lagi?" tanya seorang gadis dengan cupcake di tangannya dengan bernada sedikit tinggi.

"Sedikit," jawab pemuda itu dengan merampas pelan tubuh kekasihnya. Mereka terhanyut suasana dalam pelukan cumbu.

"Jangan diulangi lagi besok, uangnya disimpan aja!"

Pemuda tersebut sadar bahwa di samping pacarnya ada seseorang yang sangat tidak asing baginya. "Lo, ngapain di sini?"

•••

Sang mentari telah menyisingkan sinarnya. Silau jingga yang lembut memberikan kesan damai terhadap penggemarnya. Lalu lintas terlihat padat pada jam seperti ini. Pasalnya orang-orang mulai beranjak pergi untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sebagian anak sekolahan juga mulai beranjak meninggalkan tempat belajarnya.

"Afen," teriak seorang gadis yang berjarak agak jauh dari pusat berdirinya seseorang yang ia panggil.

Dari arah kejauhan, tampak seorang yang berteriak melangkahkan kakinya semakin cepat. "Buset dah woy, tungguin gue bentar aja nggak mau."

Gadis yang merasa terpanggil masih saja bersikap bodoamat. Meringis kecil melihat tingkah laku sahabatnya. "Nggak gue tungguin juga lo bisa kejar gue, kan?"

"Seterah lo ae dah."

Mereka berdua pulang dengan berjalan kaki. Itu juga karena kecerobohan Afen sendiri karena telat. Di sekolahan mereka memanglah sangat disiplin, siswa yang telat masuk gerbang akan mendapatkan bonus. Yaitu kunci kendaraan mereka disita, dan besoknya mereka harus berangkat bersama orang tuanya, bertujuan agar mereka tidak lagi telat di hari berikutnya.

Afen melingkarkan tangannya ke pundak Naya. Terlihat sangat rukun sekali mereka. Seperti dua anak kembar yang berjalan beriringan.

"Afen, lo tadi dicariin Pak Azis noh."

"Dih, apaan. Lo, kali yang dicariin. Katanya lo 'kan cocok jadi calon menantunya."

"Apaan, ya enggak lah. Pak Azis aja yang suka ke gue."

"Astagfirullah bocah gini amat, sukanya yang tua."

"Enak aja, Pak Azis masih seumuran om gue tau."

"Sadar lo ogeb, doyan sama om-om. Banyak kali yang muda, ngapain embat suami orang."

"Santuy dong, Fen. Aelah lo mah seriusan amat, emang lo kapan mau diseriusin dia, ahai."

"Apaan sih."

"Cie bayi gue salting, kayak ada doi aja lo."

"Seenak mulut aja kalau ngomong, gue tuh laku ya nggak kayak lo."

"Ehh maap aja ya, buktinya Pak Aziz aja doyan sama gue. Apalagi anaknya."

"Ngaku 'kan lo demen anaknya."

💫💫💫

Setelah gue unpub cerita yang sebelumnya, akhirnya bisa up cerita baru, yeyy. Thankyou for read 🖤

Alodream? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang